Beranda blog Halaman 78

Seruan kepada Para Kepala Daerah Membaca Fakta Kerusakan di Sulsel

0
Peluncuran Catahu Walhi 2024/Foto: Ist

Intens.id, Makassar – Sulawesi Selatan menghadapi tantangan ekologis yang semakin nyata dan kompleks pada tahun 2024, seperti yang disorot dalam Catatan Akhir Tahun WALHI Sulawesi Selatan yang dilincurkan Senin 30 Desember 2024 di Makassar. Laporan tersebut memaparkan bencana ekologis yang meningkat, konflik sumber daya alam, serta dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya perempuan, yang menjadi korban utama.

Peningkatan Bencana Ekologis

Selama tahun 2024, tercatat 362 kejadian bencana ekologis, termasuk banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Kabupaten Luwu menjadi yang paling terdampak dengan 39 kejadian, sementara Makassar mencatatkan 36 kasus, terutama banjir. Bencana ini tidak hanya merugikan secara ekonomi tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang luas, dengan lebih dari 400.000 orang terdampak, 46 di antaranya meninggal dunia, serta kerugian hingga Rp 1,95 triliun.

Krisis Ekosistem dan Kerusakan Hutan

Hutan hujan di Sulawesi Selatan, termasuk Pegunungan Tokalekaju, menghadapi eksploitasi besar-besaran. Aktivitas tambang nikel dan izin usaha yang meluas telah mengurangi tutupan hutan hingga 212.238 hektar di wilayah Luwu Utara dan Luwu Timur. Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan untuk PT VALE Indonesia menambah kerusakan dengan penggunaan 17.239 hektar kawasan hutan.

Ketidakadilan Sosial dan Gender

Perempuan adalah kelompok yang paling terdampak oleh konflik sumber daya alam dan kerusakan lingkungan. Mereka harus menghadapi penggusuran, kekerasan berbasis gender, hingga marginalisasi. Di Takalar, perjuangan melawan Hak Guna Usaha PTPN XIV selama 40 tahun menunjukkan bagaimana perempuan berusaha mempertahankan tanah mereka meski menghadapi ancaman konstan.

4. Rekomendasi untuk Kepala Daerah

WALHI Sulawesi Selatan menyerukan kepada kepala daerah terpilih untuk:

  • Mengutamakan kebijakan berbasis keadilan ekologis.
  • Menghentikan proyek yang merusak lingkungan dan menghancurkan ekosistem.
  • Melibatkan masyarakat, khususnya perempuan, dalam pengambilan keputusan terkait sumber daya alam.

Sulawesi Selatan membutuhkan pemimpin yang berani melawan dominasi oligarki demi menyelamatkan lingkungan dan kesejahteraan masyarakatnya. Jika tidak, masa depan ekologi wilayah ini akan semakin suram.

Sulsel dalam Angka Bencana 2024: Rapuhnya Ekosistem dan Derita Rakyat

0
Peluncuran Catahu Walhi 2024/Foto: Ist

Intens.id, Makassar – Sulawesi Selatan mencatat tahun 2024 sebagai salah satu tahun penuh luka ekologis. Catatan WALHI Sulawesi Selatan mencatat ada 362 kejadian bencana ekologis yang tersebar di 24 kabupaten/kota, mencakup delapan jenis bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan. Bencana ini bukan hanya menyisakan kerugian materi, tetapi juga melukai masyarakat secara langsung—dengan 46 korban meninggal dunia dan 15.631 orang terpaksa mengungsi.

Banjir, Dominasi Ancaman yang Menggerus Harapan
Banjir menjadi ancaman terbesar dengan 150 kali kejadian (41% dari total), mengakibatkan penderitaan pada 318.285 jiwa dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Kota Makassar menjadi salah satu wilayah terdampak parah, terutama saat hujan deras di akhir tahun, dengan lebih dari 36 kali kejadian.
Hilangnya Rimba dan Perburuan Nikel
Masalah makin kompleks dengan meningkatnya aktivitas pertambangan di kawasan pegunungan Tokalekaju, Luwu Utara, dan Luwu Timur. Total 59 izin usaha pertambangan dengan luasan lebih dari 212 ribu hektar dikeluarkan, bahkan di kawasan hutan lindung. Penurunan tutupan hutan memperburuk kemampuan ekosistem menyerap karbon dan meningkatkan risiko bencana alam.
Ekspansi yang Melukai Ekologi dan Kemanusiaan
Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan yang diberikan untuk pertambangan PT VALE Indonesia adalah contoh nyata bagaimana pemerintah mendahulukan kepentingan ekonomi di atas kelestarian lingkungan. Ironisnya, transisi energi yang diharapkan mengurangi pelepasan karbon justru menimbulkan eksploitasi besar-besaran yang menghancurkan rimba Sulsel【5†source】.
Korban Utama: Perempuan dan Masyarakat Rentan
Dalam pusaran bencana ekologis ini, perempuan menjadi kelompok paling terdampak. Di Takalar, mereka harus bertarung mempertahankan lahan yang habis masa Hak Guna Usaha. Di Makassar, mereka berjuang melawan krisis air bersih yang telah berlangsung lebih dari dua dekade. Perjuangan perempuan ini mencerminkan resistensi terhadap ketidakadilan ekologis, meskipun negara lebih berpihak pada kepentingan investasi.
Krisis yang Menghantui Masa Depan
Nilai kerugian akibat bencana di Sulawesi Selatan mencapai Rp1,95 triliun. Dampak ekologis yang begitu masif menjadi peringatan bahwa krisis lingkungan tidak hanya menjadi isu alam tetapi juga krisis kemanusiaan. Perlunya perubahan kebijakan yang berpihak pada keadilan ekologis menjadi pesan kuat dari catatan ini.

Tahun 2024 mengingatkan betapa rentannya manusia terhadap alam yang terus dirusak. Namun, catatan ini juga menjadi seruan untuk para pemimpin baru Sulawesi Selatan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, mewujudkan kebijakan yang adil dan berkelanjutan. Sehingga, masa depan Sulsel tidak lagi terpuruk dalam angka bencana tetapi bangkit dalam keadilan ekologi.

 

Bendungan Air Mata di Kampung Panaikang Maros

0
Musyawarah Forum Masyarakat Panaikang” di kediaman Bapak Sakir, Kampung Panaikang, Kel. Leang-Leang, Kec. Bantimurung, Kab. Maros, Sulsel/ Foto: Aan.

Intens.id, Maros – Langit mendung menggantung di atas Maros, seolah menyimpan kesedihan panjang yang terakumulasi sepanjang tahun 2024. Pada pagi 16 Desember itu, saya menunggangi sepeda motor, melintasi 20 kilometer dari pusat kota menuju Kampung Panaikang, Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung. Di sana, masyarakat setempat berkumpul dalam Musyawarah Forum Masyarakat Panaikang, sebuah momentum untuk memperjuangkan hak atas tanah yang telah lama terenggut.

Dari Patok ke Sengketa

Sejak tahun 1992, patok-patok muncul di lahan warga tanpa peringatan. Tanah yang dahulu menjadi sumber penghidupan masyarakat kini diklaim oleh pihak kehutanan sebagai bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Koordinator Forum Masyarakat Panaikang, Bapak Sakir, menceritakan bagaimana patok-patok itu awalnya hanya dianggap sepele.

“Waktu itu, kita tidak mengerti apa-apa. Pemerintah setempat malah membantu kehutanan memasang patok-patok ini. Kami pikir itu bukan masalah besar,” ungkapnya sembari menyeruput sarabba hangat.

Namun, patok itu menjadi awal dari kehilangan yang berkepanjangan. Warga dilarang mengelola kebun mereka sendiri. Lebih dari itu, akses terhadap hasil kebun seperti kayu jati atau tanaman lainnya pun semakin sulit.

“Sekarang sawah-sawah pun mulai masuk dalam klaim mereka,” lanjut Bapak Sakir dengan nada getir.

Bayang-bayang Polisi Hutan

Kehadiran Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) menambah tekanan. Beberapa warga lokal direkrut untuk mengawasi aktivitas masyarakat di wilayah yang diklaim sebagai kawasan taman nasional.

“Kalau kita ingin menebang pohon, mesti izin ke sana ke mari. Kadang, capek sendiri,” keluh Bapak Sakir. “Bukannya membantu, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat mengadu malah jadi bagian dari sistem yang menekan kami.”

Ketakutan terus menghantui warga. Mereka tidak hanya kehilangan akses ke lahan, tetapi juga merasa diawasi oleh mereka yang dulunya adalah tetangga atau saudara sendiri.

Harapan yang Tersisa

Meski didera kesulitan, semangat warga untuk memperjuangkan hak mereka tetap menyala. Melalui musyawarah bersama, Forum Masyarakat Panaikang bersama aliansi organisasi sipil menyusun langkah-langkah untuk merebut kembali tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka.

“Harapan kami sederhana: biarkan kami kembali mengelola tanah kami. Itu saja,” ujar Bapak Sakir.

Kegiatan yang digelar hari itu tidak hanya berupa diskusi serius. Workshop seni kerajinan dan pemutaran film dokumenter Tanah Moyangku karya Watchdoc menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan tanah bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal identitas dan keberlanjutan budaya.

Solidaritas yang Dibutuhkan

Tulisan ini bukan hanya cerita. Ini adalah ajakan. Apa yang terjadi di Kampung Panaikang bisa menjadi gambaran masa depan siapa saja. Ketika tanah menjadi komoditas, rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan.

Mari bersolidaritas. Sesama rakyat, kita mesti saling bantu. Jangan sampai air mata yang terbendung di Panaikang hari ini mengalir di tempat lain besok.

Laporan: Aan Zaputra (Buruh swasta, design grafis lepas yang mencintai membaca dan menulis)

Seminar Proker KKN Unhas di Kayuloe Barat: Menjawab Permasalahan Desa Lewat Aksi Nyata

0
Giat Mahasiswa KKN Unhas Gelombang 113 di Bumi Turatea

Intens.id, Jeneponto – Aula Kantor Desa Kayuloe Barat, Kecamatan Turatea, Jeneponto, menjadi saksi semangat perubahan yang diusung oleh mahasiswa KKN Gelombang ke-113 Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Senin, 30 Desember 2024.

Seminar program kerja yang digelar pukul 09.00 WITA ini tidak hanya mempertemukan ide-ide cemerlang, tetapi juga menjembatani komunikasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.

Acara dimulai dengan suasana khidmat, diawali sambutan pembawa acara, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Universitas Hasanuddin.

Berbagai pihak hadir memberikan dukungan, seperti Sekretaris Desa beserta aparatur desa, Ketua BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perwakilan pendamping kecamatan, hingga elemen masyarakat.

Dukungan Pemerintah Desa untuk Inovasi Digital dan Pertanian

Dalam sambutannya, Ruslan, S.Pd.I, mewakili Kepala Desa Kayuloe Barat, mengapresiasi penuh program kerja yang diusulkan.

Ia menyoroti pentingnya digitalisasi desa, seperti pengadaan website pemerintah desa, untuk mempermudah masyarakat mengakses informasi.

Tak lupa, ia menegaskan bahwa sektor pertanian—potensi utama desa—akan mendapatkan perhatian khusus melalui program kerja yang dirancang.

“Kami mendukung penuh program yang mampu membawa kemajuan desa, baik dalam bidang teknologi maupun pertanian. Ini adalah langkah besar untuk memperbaiki berbagai permasalahan yang ada,” ujarnya.

Empat Fokus Permasalahan Desa

Hasil observasi minggu pertama yang dilakukan mahasiswa KKN di bawah arahan Dr. Sumarlin Rengko HR, S.S., M.Hum. merumuskan empat bidang utama permasalahan desa, yaitu:

  1. Lingkungan
    Masalah pengelolaan sampah menjadi sorotan. Solusi yang diusulkan adalah pengadaan tempat sampah dan pembuangan sementara di lokasi strategis.
  2. Pertanian
    Ketergantungan pada pupuk kimia, hama tanaman, dan akses irigasi terbatas menjadi tantangan. Mahasiswa menawarkan inovasi seperti penggunaan pupuk cair, sosialisasi pestisida efektif, dan pengadaan sistem irigasi.
  3. Infrastruktur
    Kerusakan jalan dan minimnya penanda fasilitas umum memerlukan perhatian. Solusi berupa perbaikan akses jalan dan penambahan marka diusulkan.
  4. Digitalisasi Desa
    Minimnya informasi profil desa menghambat promosi potensi desa. Jawabannya adalah pembuatan website desa, yang diharapkan dapat mempermudah layanan publik sekaligus mempromosikan Desa Kayuloe Barat.
Akhir yang Hangat dan Berkesan

Seminar ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi, diikuti ramah tamah antara peserta dan pelaksana.

Antusiasme masyarakat dalam menyambut program kerja mahasiswa menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat mampu membawa perubahan positif.

Semangat mahasiswa KKN Unhas kali ini bukan hanya tentang teori, melainkan aksi nyata dalam membangun desa yang lebih baik. Kayuloe Barat pun siap menapaki langkah baru menuju kemajuan!

Keanekaragaman Moluska di Kawasan Mangrove Luppung: Mengungkap Perbedaan Musim Hujan dan Kemarau  

0
Ekowisata Mangrove Luppung Manyampa, Bulukumba, Sulsel/Foto: Muhammad Rizal

Intens.id, Bulukumba – Sudut tenang Luppung Desa Manyampa Kabupaten Bulukumba, di mana akar mangrove merangkul bumi dan laut berbisik kepada pasir, tersembunyi sebuah drama ekosistem yang memesona.

Mangrove Luppung, seperti panggung alam yang megah, menjadi saksi bisu tentang tarian kehidupan moluska—makhluk bertubuh lunak dengan cangkang keras sebagai pelindung mereka.

Seperti dua sisi kain yang dijahit oleh jarum musim, hujan dan kemarau bergiliran membentuk pola unik di ekosistem ini.

Dalam kelembapan musim hujan, air laut yang mengalir masuk membawa sentuhan lembut dari sungai, menyelimuti akar mangrove dengan sedimen halus. Di musim ini, spesies bivalvia seperti Tellina palatum menonjol, mendominasi dengan anggun seperti pilar dalam komunitas mereka.

Namun, keseragamannya menyerupai harmoni yang rapuh, menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan yang perlahan menyusup dari daratan.

Ketika kemarau tiba, mentari menggantikan hujan sebagai maestro utama. Sinar matahari yang tajam menembus kanopi mangrove, memberi kehidupan baru pada sedimen kasar di bawahnya.

Gastropoda, dengan keindahan spiral pada cangkangnya, tampil memukau. Di Stasiun 3, mereka menari dengan riang, membentuk komunitas yang lebih beragam. Nerita incerta dan Pugilina cochlidium, seperti musisi yang jarang terlihat, muncul untuk memeriahkan simfoni musim kemarau ini.

Namun, kisah ini tidak hanya tentang siapa yang tampil di panggung, tetapi juga bagaimana mereka bertahan. Perbedaan musim menciptakan ketegangan yang halus, menguji kemampuan spesies untuk menyesuaikan diri. Struktur komunitas bergeser, kadang mendekat, kadang berjauhan seperti pasangan penari yang kehilangan irama.

Di balik layar, penelitian itu seperti pena seorang penulis, merekam setiap gerakan dalam tarian ekosistem ini. Para peneliti menemukan bahwa musim kemarau, dengan stabilitas dan cahayanya, memberikan ruang bagi keanekaragaman untuk berkembang. Sedangkan musim hujan, dengan tantangan dan kelebihannya, menjadi pengingat bahwa tidak ada panggung yang selalu sempurna.

Mangrove Luppung adalah puisi alam, tempat dua musim menenun kehidupan moluska dengan benang perubahan. Penelitian ini bukan sekadar cerita tentang bivalvia dan gastropoda, tetapi juga refleksi tentang bagaimana alam menyesuaikan diri dengan tantangan. Seperti kain indah yang dijahit oleh tangan halus waktu, ekosistem ini terus menceritakan kisahnya kepada siapa saja yang mau mendengar.

Penelitian yang dilakukan oleh Magdalena Litaay dkk, tim dari Universitas Hasanuddin ini mengidentifikasi 37 spesies moluska, terdiri dari 19 spesies bivalvia dan 17 spesies gastropoda.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keanekaragaman moluska lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan musim hujan. Spesies bivalvia Tellina (Quidnipagus) palatum dan gastropoda Nassarius (Plicarcularia) leptospirus ditemukan di seluruh stasiun penelitian, mencerminkan kemampuan adaptasi mereka terhadap perubahan musim.

Selain itu, beberapa spesies unik, seperti Nerita planospira dan Terebralia sulcata, hanya ditemukan pada satu musim tertentu. Faktor lingkungan seperti salinitas, tekstur sedimen, dan intensitas cahaya matahari menjadi penentu utama distribusi moluska.

Datanya juga mengungkap bahwa indeks keanekaragaman gastropoda lebih tinggi pada musim kemarau, dengan nilai 1,69 dibandingkan 1,44 pada musim hujan.

Sebaliknya, komunitas bivalvia menunjukkan stabilitas yang lebih rendah di musim hujan, mengindikasikan kemungkinan pencemaran ekosistem.

Temuan ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem mangrove, terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan akibat musim dan aktivitas manusia.

Penelitian tersebut membuka mata tentang keragaman hayati yang tersembunyi di kawasan mangrove.

Keanekaragaman moluska yang teridentifikasi tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan peringatan tentang perlunya upaya pelestarian ekosistem mangrove di tengah tekanan lingkungan yang semakin meningkat.

Anak-Anak PAUD dan SD Menemukan Kebahagiaan di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel

0
Pj Gubernur Sulsel Prof. Zudan Arif Fakrulloh dan Bunda PAUD Sulsel, Ninuk Triyanti Zudan bersama 40an siswa di Rujab Gubernur/Foto: Sulselprov.

Intens.id, Makassar – Minggu pagi, 29 Desember 2024, langit Makassar begitu cerah, seolah ikut merayakan semangat dan kebahagiaan lebih dari 40 anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkumpul di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan di Jalan Sungai Tangka. Mereka datang dengan tawa yang merekah, ditemani orang tua dan para guru, untuk mengikuti program “Minggu Ceria” bersama Pj Gubernur Sulsel Prof. Zudan Arif Fakrulloh dan Bunda PAUD Sulsel, Ninuk Triyanti Zudan.

Bagi banyak dari mereka, ini adalah pengalaman pertama menjejakkan kaki di tempat megah yang biasanya hanya mereka lihat dari kejauhan.

Keceriaan di Car Free Day  

Acara dimulai dengan olahraga dan senam sehat di kawasan Car Free Day Jalan Jenderal Sudirman. Anak-anak, sebagian dengan langkah ragu dan lainnya penuh antusias, mengikuti gerakan senam yang dipandu oleh instruktur. Suara musik yang mengiringi gerakan mereka menambah semarak suasana pagi itu.

Prof. Zudan dengan hangat mengajak mereka lebih mencintai olahraga. “Olahraga itu penting, anak-anakku. Ayo kita gerak bersama!” serunya. Anak-anak, dengan wajah ceria, menjawab ajakan itu dengan tawa dan semangat.

Pengalaman Pertama di Rumah Jabatan  

Usai senam, rombongan berjalan menuju halaman Rumah Jabatan Gubernur untuk menikmati sarapan bersama. Perpustakaan keliling yang disiapkan di sana menjadi magnet baru. Buku-buku cerita menarik perhatian anak-anak, sementara layanan pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA) yang disediakan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menarik minat para orang tua.

“Ini pertama kalinya anak kami masuk ke Rumah Jabatan Gubernur,” ujar Irma, seorang ibu dari TK Al Markaz Al Islami, penuh haru. “Melihat mereka bahagia, apalagi bisa bermain dan belajar di sini, rasanya luar biasa.”

Kehadiran KIA menjadi sorotan tersendiri. Bagi para orang tua, ini bukan hanya soal mempermudah akses layanan, tetapi juga memberikan rasa aman dan perlindungan bagi anak-anak mereka.

Mendekatkan Anak pada Mandiri  

Di ruang tamu utama Rumah Jabatan, anak-anak mendengarkan dongeng dari Bunda PAUD Sulsel, Ninuk Triyanti Zudan. Dalam kisahnya, terselip pesan-pesan penting tentang kemandirian dan keberanian menghadapi masa depan.

“Golden age ini adalah masa penting bagi anak-anak. Di usia 0-8 tahun, mereka harus dilatih mandiri agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat,” tutur Ninuk dengan nada lembut namun penuh keyakinan.

Ia juga mengajak anak-anak bermain bersama tanpa ditemani orang tua. “Main sama teman-teman, ya. Biarkan ayah ibu istirahat,” katanya. Permintaan sederhana itu mengajarkan anak-anak keberanian untuk keluar dari zona nyaman mereka.

KIA: Perlindungan dan Masa Depan Anak  

Penyerahan KIA secara simbolis oleh Prof. Zudan menjadi salah satu momen penting. Sebuah dokumen kecil, namun dengan manfaat besar, KIA tak hanya melindungi hak anak, tetapi juga membuka akses mereka ke berbagai layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan perbankan.

“KIA adalah bentuk perlindungan negara untuk anak-anak kita. Sebuah langkah kecil untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Prof. Zudan.

Membingkai Kebahagiaan  

Hari itu, Minggu Ceria bukan hanya sekadar acara. Ia menjadi simbol bagaimana perhatian terhadap anak-anak mampu menciptakan kebahagiaan yang mendalam. Tidak ada hal yang lebih sederhana, namun bermakna, daripada melihat senyuman tulus mereka.

Bagi anak-anak itu, Rumah Jabatan Gubernur Sulsel tidak lagi hanya sekadar bangunan megah. Ia kini menjadi tempat penuh kenangan, sebuah ruang yang menyambut mereka dengan hangat dan penuh kasih sayang. Di sinilah mereka belajar, bermain, dan merasakan cinta dari banyak pihak yang peduli akan masa depan mereka.

Hadirkan Tawa dan Literasi, Sabtu Gembira Warnai Hidup Anak-anak Bulukumba

0

Intens.id, Bulukumba – Di bawah langit cerah Pantai Matekko, tawa riang anak-anak menggema, memecah keheningan pagi.

Sabtu, yang biasanya hanya jadi hari biasa, kini diubah menjadi momen penuh keceriaan oleh Rumah Baca Pinisi Nusantara 1986 melalui program Sabtu Gembira.

Program ini adalah bukti nyata bahwa belajar bisa menjadi kegiatan yang mengasyikkan sekaligus bermakna.

Rumah Baca Pinisi Nusantara 1986, yang selama ini dikenal sebagai ruang literasi bagi masyarakat Bulukumba, meluncurkan Sabtu Gembira sebagai jawaban atas kebutuhan anak-anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan.

Program ini tidak hanya menawarkan buku dan cerita, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas yang memadukan edukasi, kreativitas, dan permainan.

Literasi Bertemu Kesenangan

Dalam peluncuran program tersebut, anak-anak duduk melingkar mendengarkan dongeng penuh imajinasi dari para relawan. Mata mereka berbinar, mengikuti cerita demi cerita yang dibawakan dengan penuh semangat.

Di sudut lain, lapak baca dipenuhi buku-buku menarik yang memancing rasa ingin tahu. Sementara itu, kelas kerajinan tangan ramai dengan anak-anak yang mencoba membuat karya sederhana dari bahan-bahan ramah lingkungan.

Ada juga Milky Party, di mana anak-anak menikmati segelas susu sambil belajar tentang pentingnya asupan gizi. Tak ketinggalan, senam gosok gigi yang penuh gelak tawa menjadi salah satu favorit mereka.

“Kami Ingin Anak-anak Bahagia Saat Belajar”

Basmawati Haris, Ketua Rumah Baca Pinisi Nusantara 1986, menyampaikan harapannya melalui program ini.

“Kami ingin anak-anak merasa bahwa belajar itu menyenangkan. Lewat Sabtu Gembira, kami mencoba mendekatkan literasi kepada mereka dengan cara yang kreatif dan interaktif. Semoga ini bisa menjadi kenangan indah sekaligus memberikan dampak positif bagi mereka,” jelasnya.

Tak hanya anak-anak, para relawan pun merasa mendapat energi positif dari program ini. Bulkis, salah satu relawan, mengatakan,

“Melihat senyum dan antusiasme anak-anak adalah kebahagiaan tersendiri. Saya merasa ini lebih dari sekadar berbagi, ini adalah momen saling menginspirasi,” tambahnya.

Kebahagiaan yang Menular

Respon masyarakat Bulukumba terhadap program ini begitu hangat. Ibu Asni, salah satu orang tua peserta, mengungkapkan rasa terima kasihnya.

“Anak saya selalu menunggu Sabtu. Dia jadi lebih suka membaca buku dan belajar hal-hal baru. Kegiatan ini sangat membantu,” pungkasnya mengapresiasi.

Sabtu Gembira bukan hanya sekadar program, melainkan sebuah gerakan yang membawa harapan baru bagi masa depan anak-anak Bulukumba. Dengan keterbukaan untuk semua tanpa biaya, program ini mengundang siapa saja yang ingin berbagi waktu dan energi sebagai relawan.

Bagi Anda yang ingin turut berkontribusi, baik sebagai relawan maupun donatur, Rumah Baca Pinisi Nusantara 1986 siap menyambut tangan Anda. Bersama-sama, mari ciptakan generasi yang literat, kreatif, dan bahagia.

Kontak:
📞 085395598722
📍 Lokasi: Rumah Baca Pinisi Nusantara 1986, Bulukumba

Karena setiap tawa anak adalah investasi terbaik untuk masa depan. #SabtuGembira #LiterasiUntukBangsa

Merawat Oposisi

0
“Indonesia paling tepat dijabarkan sebagai demokrasi kriminal di mana para oligark secara teratur ikut serta dalam pemilihan umum sebagai alat berbagi kekuasaan politik, sambil menggunakan kekuatan kekayaan mereka untuk mengalahkan sistem hukum dengan intimidasi dan bujukan”. Jeffrey A. Winters

Tepat 13 tahun silam Winters menyampaikan hal tersebut, dan sepertinya dasawarsa hanya berganti tapi oligark tetap tumbuh subur di negeri ini. Dominan dan mencokol dengan kuat.

Penyebab dominasi terjadi karena lemahnya oposisi. Oposisi tidak pernah benar-benar hadir di negeri ini. Terlalu asing dan bahkan dianggap tidak penting.

Padahal kekuasaan yang tidak mengarah kepada legitimasi kepentingan masyarakat sosial hanya mampu berakhir dengan dua kemungkinan: pertama, berakhir karena krisis ekonomi., kedua, berakhir karena kuatnya oposisi.

Oposisi tak ubahnya seperti kapal yang melawan arus, tujuannya bukan untuk melawan tetapi sebagai penyeimbang.

Oposisi akan curiga dan cemas jika melihat spiral kekerasan, spiral komunikasi yang terdistorsi, dominasi yang berlebihan.

Oposisi sebagai presuposisi, melangkah untuk menduga sebelum, praanggapan dalam melihat kemungkinan ringkihnya kondisi, dan abrul-adulnya yang terjadi.

Lantas siapa saja yang mungkin menjadi oposisi?

Manusia dikutuk untuk membawa citra Tuhan ‘imago dei’, berbudi luhur, ber-adi luhung.

Lebih radiks Platon menyebut manusia sebagai paideia ‘pembalikan’ dari seluruh diri (jiwanya) atau dari kondisi tidak-terdidik, tidak-berbudaya menjadi beradab, berbudaya.

Manusia yang tidak pernah menjadi tuan atau budak keserakahan yang hatinya dengan mudah condong ke sisi kebaikan.

Sekali lagi dengan citra manusia tersebut, siapa yang mungkin menjadi oposisi? Atau siapa yang harus menjadi oposisi?

Yaitu mereka para pendidik, para pemuda, para tokoh masyarakat, para agamawan, …. Sengaja saya isi titik-titik agar mampu mengisi sendiri siapa saja mereka yang harus bertanggung jawab sebagai oposisi. Dengan catatan, manusia itu imogo dei atau siapa pun yang melihat ketimpangan maka akan tersihir untuk menolak, melawan, dan marah.

Para pendidik?

Khusus para pendidik oposisi dipegang penuh oleh para Profesor atau guru besar. Karena profesor berasal dari kata profess yang berarti “secara terbuka menyatakan atau secara publik mengklaim kepercayaan, keyakinan, atau opini”. Profesor harus mampu membawa kekuatan moral dan kekuatan intelektual.

Profesor menjadi garda terdepan dalam mengkritik perselingkuhan negara dari apa yang Socrates sebut: kebijaksanaan/wisdom, keberanian/courage, disiplin/discipline, dan keadilan/justice.

Sengaja saya kemukakan tugas profesor agar kita semua mampu melempari atau meludahi mereka jika tidak sesuai dengan perannya. Dan sengaja saya memilih diksi melempari dan meludahi sebagai akibat betapa hina ketika mereka tidak menjalankan tugasnya.

Sengaja juga saya paparkan siapa saja bertugas sebagai oposisi untuk menghindari apa yang Dieter Senghaas sebut sebagai politisasi fundamental. Yaitu segala masalah politik menjadi masalah masyarakat. Atau sering kita dengar istilah ‘masalah kita bersama’.

Penerimaan asumsi ‘masalah kita bersama’ menjadikan kaburnya batas antara siapa yang bertanggung jawab, siapa yang harus memberikan solusi, siapa yang harus memecahkan masalah, dan siapa yang harus dihukum atas kesalahan tersebut.

Melenceng sedikit, seandainya saja kita paham betul batas ini, tentu saja kita akan mengutuk lebih keras para pelaku pemerkosa publik hari ini.

Sekali lagi, profesor harus mampu menyampaikan opini dengan tegas lugas di tengah krisis moral, krisis kepercayaan, krisis kebangsaan, krisis kemanusiaan, krisis kepentingan publik.

Profesor adalah oposisi. Preferensi dari para profesor harus condong pada kepentingan masyarakat sosial.

Kapan para pemangku jabatan negara tidak condong pada kepentingan tersebut maka profesor harus lantang dan lugas menyampaikan preferensinya, karena mati-hidupnya kritik dan kritis adalah dari mereka (profesor).

Profesor harus membudayakan. Sebagai inspirasi keelokan, kebaikan, dan keteladanan.

Bahkan siapapun yang berkeinginan menjadi profesor (para sarjana, master, doktor) uraian tersebut harus ditempuh. Sungguh hina ketika profesor memiliki jejak yang pernah: ‘sebagai’ pemujamu pemerintah yang korup, tidak rasional, tidak bernalar, dan tidak… (isi sendiri).

Lantas siapa lagi?

Para pemuda!

Para pemuda harus menjadi penyeimbang atau oposisi. Sumpah pemuda sebagai tonggak bahwa pemuda harus bergariskan: bertumpah darah, berbangsa, berbahasa, berbihneka yaitu Indonesia.

Pemuda harus mampu mendidik dan merawat jiwanya. Jiwa yang berlandas simpati, empati, rasionalitas. Jiwa yang mampu bergulat melawan ketidakadilan.

Serupa moralitas binatang atau dewa, tergantung bagaimana pemuda merawat dan mendidik jiwanya.

Para pemuda harusnya malu dengan sentilan dari Ariel Heryanto yang mengatakan bahwa, ‘pemuda hari ini tidak lagi di uji ketahanannya di ruang interogasi polsek karena menyuarakan hak rakyat, melainkan di uji plaza shop, perfume ternama, brand, fashion, video game, dan kesenangan yang terhegemoni’.

Seolah pemuda hari ini hanyalah pemuda yang ketika tanpa mengikuti trend sangat papa.

Jika Rene Descartes pernah berkata ‘cogito ergo sum aku berpikir, maka aku ada’ maka sepertinya sebutan pemuda hari ini lebih tepatnya menjadi ‘aku mengikuti tren, maka aku ada’.

Sekali lagi, sudah saatnya malu dengan sentilan tersebut.

Pemuda adalah tonggak bangsa. Harapan perpanjangan tangan ‘kehidupan’.

Sengaja saya beri tanda petik kata kehidupan agar pemuda tidak melupakan bahwa kehidupan yang hendak di tuju adalah kehidupan yang berkeadilan, berkemanusiaan, berkerakyatan.

Pemuda yang berhasrat menawarkan ide kehidupan yang baik, pemuda yang senewen, menggila, menerkam ketika melihat hukum diperjual belikan.

Pemuda yang berteriak ketika para penguasa mengobok-obok tatanan hukum demi para oligark dan cukong-cukong.

Pemuda, ia manusia dengan ambisi pribadi mencari jati diri dan ketenangan, namun sejalan dengan ambisi menghidupi bersama.

Sekali lagi, pemuda adalah penyeimbang. Pemuda serupa Tangan ‘Tuhan’ yang masih muda, baru, fress, dan kuat.

Pemuda, bercinta dengan banyak sekaligus mengontrol roda pemerintahan agar tetap waras.

Pemuda, sampai ketemu entah di jalan aksi bersama, atau di ruang-ruang media. Kalian adalah pengguna terbesar platform TikTok, X, Instagram, YouTube, untuk menyuarakan ketimpangan dan kecurangan para bedebah negeri ini.

Lantas, siapa lagi?

Para agamawan.

Saya akan membahas para agamawan selaku oposisi dengan memulai menggambarkan satu fenomena buzzer yang tumbuh subur akhir-akhir ini.

Buzzer, seseorang atau sekelompok orang yang menyebarkan informasi dengan tujuan mengecoh dan mempengaruhi opini publik.

Buzzer bertugas untuk menjaga ‘kebahagiaan’ para pemegang kekuasaan.

Oleh para pemegang kekuasaan merawat buzzer dengan cara: menyediakan keamanan, meramalkan dan memenuhi kebutuhan, memfasilitasi kesenangan, menyelamatkan dari kesulitan hidup.

Buzzer bersepakat, bersedia bersama menutupi perselingkuhan dan menghilangkan kecurigaan atas ‘permainan’ di negeri ini’.

Kenapa saya memulai tilikan agamawan sebagai oposisi dengan menyebutkan buzzer biangkerok karena sekiranya negeri ini mengatas namakan diri sebagai berketuhanan.

Tentulah peran agama akan mempengaruhi psikologi para pemeluknya. Agama yang akan menghindarkan dari perilaku ‘penjilat, dan munafik’.

Penjilat dan munafik adalah mereka yang seolah olah hadir untuk kepentingan publik padahal hanya mengenyangkan perut sendiri. Bahkan berani ikut merepresi, menindas siapa pun yang tidak sejalan dengan mereka.

Demikian fungsi agama. Dan fungsi agama berjalan melalui para agamawan.

Agamawan sebagai oposisi atau penyeimbang mendogmakan para pemeluknya untuk hidup sesuai perintah Tuhan.

Hidup sesuai perintah Tuhan tentu sejalan dengan kebaikan bersama dalam berbangsa.

Menurut Ernest Renan berbangsa adalah suatu solidaritas dalam skala yang besar, dibangun dengan perasaan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan orang di masa silam dan pengorbanan-pengorbanan yang siap dilakukan orang di masa depan. Dengan konsensus, kehendak yang dinyatakan dengan jelas untuk meneruskan suatu kehidupan bersama.

Jika hal tersebut tidak tercapai, dan oposisi tidak lahir dari orang-orang yang beragama maka sudah saatnya mempertanyakan ulang dimana agama hari ini. Kemana agamawan hari ini.

Apakah agama terjual dan laku dihadapan politik sehingga tersisa hanya nama-nama agama?

Apakah agamawan sibuk dengan urusan surga neraka sampai lupa, bahwa mereka juga harus hadir kepada manusia yang sedang di dunia namun luntang-lantung diperkosa kebijakan yang tidak ramah? Kehilangan rumah? Kehilangan hutan?

Bukankah selain agama masing-masing kita punya agama bersama yaitu Indonesia, yang kitabnya UUD, falsafahnya Pancasila, teladannya Founding Fathers, dan perayaannya berbangsa?

Sekali lagi, mari merawat oposisi. Mari menjadi oposisi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kilas Balik Uncle Bondro sang Rimbawan dari Unhas hingga Abdi Negara

0
Ir. Jusman alias Uncle Bondro & Sri Endang Jusman (Foto; BBKSDA SULSEL)

Intens.id, Makassar – Di penghujung tahun 2024, sosok Ir. Jusman, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan, memasuki babak akhir dari pengabdian panjangnya di institusinya. Bertempat di Max Ballroom Hotel MaxOne Makassar, Jumat malam, 27 Desember, malam ramah tamah digelar untuk menghormati perjalanan hidup dan karirnya yang penuh warna. Bersama sang istri, Ny. Sri Endang Jusman, pria yang akrab dipanggil “Bondro” ini hadir dalam balutan batik, menyiratkan kesederhanaan sekaligus kehangatan seorang pemimpin yang telah mengabdikan dirinya sejak 1993.

Awal Jejak di Rimba Kehidupan

Perjalanan Jusman dimulai di Universitas Hasanuddin, tempat ia menimba ilmu kehutanan pada 1983-1989. Sebagai mahasiswa, ia aktif di Sylva Indonesia, wadah yang membentuk karakter kepemimpinannya. Kawan-kawan kampus mengenalnya sebagai “Bondro,” seorang pemuda energik yang selalu siap menghadapi tantangan.

Tak lama selepas kuliah, Bondro muda memulai karirnya di Kabupaten Poso, sebuah daerah yang kelak menjadi saksi pertemuan cintanya dengan Sri Endang Wahyuni, wanita yang menjadi belahan jiwanya hingga kini. Pernikahan mereka pada 1992 menjadi pondasi kuat yang menopang perjalanan hidupnya.

Namun, kehidupan sebagai pengantin baru tidaklah mudah. Jusman harus terbang ke Jakarta untuk menjalani tes CPNS, sementara sang istri menetap di Bone. “Jarak dan waktu adalah ujian pertama,” kenangnya.

Bakti Tak Bertepi di Dunia Konservasi

Karir Jusman sebagai rimbawan resmi dimulai pada 1 Maret 1993, ketika ia ditugaskan di Taman Nasional Bali Barat. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai pelosok Nusantara, dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru hingga Taman Nasional Siberut di Sumatera Barat.

Di puncak Mahameru, 3.676 meter di atas permukaan laut, Jusman mencatat sejarah. Ia memimpin upacara HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2002, sebuah momen yang biasanya hanya dilakukan oleh komunitas pecinta alam. “Di sini, saya merasa kecil di hadapan kebesaran Tuhan,” katanya, mengenang pengalaman itu dengan takjub.

Kepemimpinannya berlanjut ke Taman Nasional Taka Bonerate di Sulawesi Selatan, di mana ia berjuang memberantas eksploitasi sumber daya laut dengan pendekatan yang humanis. “Konservasi dan kesejahteraan masyarakat harus berjalan seiring,” tegasnya. Di bawah arahannya, kawasan ini diakui sebagai Jaringan Cagar Biosfer Dunia.

Jenderal Lapangan dan Prinsip Lillahi Ta’ala

Pada Januari 2024, Jusman diberi amanah memimpin dua organisasi besar sekaligus: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E SUMA). Tugas ini dijalankannya dengan prinsip yang ia sebut sebagai “Pejabat Lillahi Ta’ala.”

Bekerja hingga larut malam sudah menjadi hal biasa. “Ini bukan sekadar soal data, tapi bagaimana kita merasakan dampak di lapangan,” ujarnya. Tak jarang ia melontarkan kutipan yang penuh makna, seperti, “Kerja konservasi tak akan pernah habis hingga dunia kiamat.”

Bon Voyage, Uncle Bondro 

Kini, di usia 60 tahun, Uncle Bondro bersiap memasuki masa purna bakti. Namun, semangatnya untuk mengabdi tidak akan pernah padam. “Rimbawan sejati tak pernah berhenti berkarya untuk negeri,” katanya, menutup perjalanan panjang yang telah meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam dunia konservasi.

Bon voyage, Uncle Bondro. Terima kasih atas dedikasi dan inspirasimu. Negeri ini berhutang banyak kepada rimbawan sejati sepertimu.

Gogol: Cokol Pemikiran

0
Cokol Pemikiran-Foto: Ilustrasi/Mutmainnah

Intens.id – …setelah pertemuan hari itu, aku kembali menemui Gogol. Kali ini aku akan menemuinya di sebuah bar. Bar bergaya klasik yang identik dengan pengunjung yang individualis atau pengunjung yang datang dengan tujuan menikmati minuman, bukan untuk bersosialisasi. Dan ini akan menjadi bar pertama yang akan aku kunjungi, sebagaimana kata Gogol, bar ini tidak bergaya Hemingway dengan ladies bar-nya.

Я хочу опоздать

Sapaku, sembari menarik stoll bar.

“Jika bukan engkau, tentulah aku mengumpati arogansimu itu” seru Gogol.

Kita semua punya pengecualian dihadapan kekasih Gogol, sebagaimana pengecualian Tuhan kepada hambanya.

“Engkau bukan kekasihku, dan aku tidak berniat menjadi tuhan”.

Kamu hanya belum mengenalku Gogol, kelak kamu akan memiliki niat untuk menjadikanku kekasihmu, entah dengan waktu yang tepat atau dengan waktu yang belum berpihak.

“Sudahlah, mocktail atau cocktail?” tanya Gogol.

“Tapi seharusnya wanita sepertimu tidak layak dengan minuman tiruan, mock itu tiruan”.

Aku tahu Gogol, jangan mengajariku bahasa.

Tolong beri aku mocktail Honey Blackberry Mint. Seruku kepada bartender yang bernama Oleg.

Aku tidak menyukai rasa pahit dan asam Gogol. Sambungku

Aku juga tidak menyukai rasa manis, namun setidaknya itu jauh lebih mampu aku nikmati dibandingkan rasa pahit dan asam cocktail, sebagaimana tujuan aku datang, hendak menikmati minuman. Juga alunan jazz dan blues jika ada.

“Aku tidak hendak mengajarimu bahasa, aku hanya menyampaikan mock itu tiruan. Tiruan”.

Apa yang salah dengan tiruan Gogol. Bukankah sejak kecil hingga besar seperti sekarang ini kita semua Mimesis (peniru)?

“Tidak, kalau saja kita ini mimesis, tentulah tidak memperlakukan objek sampai sedemikian rupa. Bahkan karena kita tidak ingin disebut sama, sampai memperlakukan objek bukan lagi karena objeknya, melainkan karena berebut nilai objek tersebut.”

Apa maksudmu Gogol, buatlah sederhana agar aku memahaminya.

“Semua bar itu sama. Menjual minuman dan kesenangan. Bar itu objek. Namun kita memperlakukan bar dengan gaya klasik, modern, art deco, minimalis, kolonial, kontemporer, bla-bla, dan itu semua demi tidak sama, demi tidak serupa, atau menolak mimesis”.

Entahlah Gogol, yang kita maksud ini serupa apa tidak. Namun, perilaku meniru ini sebenarnya cukup merepotkan bahkan bisa menghasilkan kemunduran. Sebut saja misal si bartender Oleg, jika ia mendapatkan banyak kesenangan dan keuntungan terhadap pekerjaannya ini, maka dapat dipastikan Oleg akan memberikan juga pekerjaan ini kepada anak, kerabat, dan cucunya. Oleg melupakan rasa malu. Kejujuran. Apalagi kemanusiaannya. Dan itu mimesis.

Kamu tahu Tamerlan Gogol?

Tamerlan memerlukan berhari-hari yang sangat panjang untuk membantai 70.000 orang ketika mengusai Isapahan. Di Hiroshima orang dapat memperoleh hasil yang sama dalam waktu beberapa detik. Dan hari ini sedang berlangsung di Gaza, Kango, dan Rwanda. Dan sekali lagi Gogol, itu semua mimesis.

“Demikiankah pemaknaan mimesismu? Padahal manusia menjadi peniru bukan karena ingin sama perihal objek, tapi privilege yang didapatkan dari meniru objek tersebut, itulah tadi yang aku sebut soal berebut nilai objeknya. Tapi…, ah sudahlah, pemaknaan hanyalah pemaknaan”. Seru Gogol

Gogol, justru yang membuat aku bingung, apakah manusia memang sebajingan itu? Alih-alih meniru hal agar peradaban jauh lebih baik malah menjadi peniru untuk mementingkan golongan. Itukah maksud manusia harus berdoa agar berlindung dari keadaan lapang yang meninabobokan?

“Doa itu tak ubahnya gaungan bunyi kesakitan-kesakitan, hanya dalam doa manusia mengakui pikiran-pikiran yang paling rahasia dan hasrat-hasrat terdalam. Tapi jangan harap Oleg yang kamu contohkan tadi akan berdoa demikian. Oleg justru berdoa agar ia bisa memberikan kekuasaan hingga cicitnya kelak.”

“Tunggu, bukankah nama Oleg itu terlalu eman-eman untuk contoh kebinalan tadi.” Sambung Gogol.

Apaan eman-eman. Gogol, kamu itu sastrawan Rusia. Sungguh eman-eman tidak cocok dengan lidahmu.

Gogol menatapku, kami tertawa bersama, mengangkat gelas lalu mendentingkannya. Kami menikmati minuman yang berbeda tetapi sepertinya kami klimaks dengan maksud yang sama.

Gogol konon ada peribahasa Afrika bahwa pasukan kambing yang dipimpin singa bisa mengalahkan pasukan singa yang dipimpin kambing. Bukankah itu aneh Gogol.

Bagaimana mungkin pasukan singa-singa itu kalah dengan kemampuannya sebagai raja hutan hanya karena dipimpin kambing?

Gogol tertawa begitu keras, ia tidak menjawabku, ia lalu menikmati cocktailnya dengan sesekali mendecap karena rasa hangat mengguyur tenggorokan hingga isi perutnya.

“Bukankah sedari engkau datang hingga kini mulutmu tidak berhenti bertanya. Jangan mengetahui terlalu banyak hal. Itu akan menjadi kutukan.” Seru Gogol sembari menatapku dengan senyum yang mengejek.

“Engkau harus tahu ini, sekaligus aku menjawab arogansi yang keduamu tadi”. Sambung Gogol.

“Aku tidak mungkin menyukaimu, apalagi menjadikanmu kekasihku. Kamu harus tahu. Pria itu punya preferensi. Dan aku tidak menyukai buah dada yang kecil”.

Sungguh Gogol? Ah padahal kupikir tentulah kita akan beruntung jika bersama. Tapi tidak mengapa. Semoga saja engkau bertemu wanita dengan dada yang besar itu.

Tapi Gogol, kamu harus tahu ini.

Psikolog Viren Swami dan Martin Tovée melakukan penelitian dengan menyelidiki apakah akses pria terhadap sumber daya akan memengaruhi preferensi mereka terhadap ukuran payudara pada wanita.

Dan kamu tahu jawabannya Gogol!, Pria yang kekurangan barang-barang material akan lebih menginginkan payudara yang lebih besar daripada pria yang memiliki barang-barang material.

Mungkin saja karena mereka merasa bahwa sudah cukup kekurangan barang material (miskin) sehingga mereka tidak mau lagi dada yang kecil juga. Sedang pria yang memiliki akses terhadap material, mereka memiliki kesenangan yang banyak sehingga preferensi mereka payudara yang kecil. Termasuk karena kelas mereka memahami payudara bukan lagi tanda kemampuan wanita untuk mengandung dan membesarkan anak.

Kali ini Gogol tertawa dengan lebih keras lagi. Lalu Gogol menjawab sembari mengangkat gelas cocktailnya

“Apakah aku seorang pria yang tidak memiliki kemampuan material? Kamu tahu harga cocktail sampanye Charles Heidsieck tahun 1981 yang langka ini, cognac Louis XIII Black Pearl, yang bahkan ini harus disajikan dengan emas 18 karat”. Sambat Gogol dengan nada yang menukik.

Tidakkah aku harus menganggap ini sebagai bentuk kemarahanmu Gogol. Aku tidak menghakimi preferensimu tadi. Aku hanya menyampaikan satu hasil experiment.

Yah apa salahnya jika kamu pria bermaterial dan memiliki preferensi wanita berpayudara besar. Experiment itu hanyalah persentase rata-rata. Bukan mewakili seluruhnya Gogol.

Hentikanlah kemarahan itu. Kemarahan tak ubahnya jalan frustrasi.

“Aku marah bukan karena preferensi payudara itu. Aku marah karena aku harus menerima kenyataan bahwa engkau sungguh tidak memahamiku. Tadinya aku berharap engkau akan mengcounter jawab dengan engkau mengingatkan perihal ciuman itu. Tapi nyatanya tidak. Sungguh sial, pria sepertiku harus menanggung perasaan dengan wanita sepertimu. Bahkan aku curiga, sekalipun aku mengatakan aku mencintaimu, mungkin engkau hanya menangkapnya ‘aku hendak bermain denganmu’.”

Baiklah Gogol, mari mengakhiri percakapan ini. Aku lebih menyukaimu berbicara cocktail daripada menemaniku berbicara Oleg si bartender itu. Ini malam natal, aku harus segera pulang.

Sampai jumpa Gogol, dan ini jawaban aku.

Aku tidak mungkin menemuimu di bar jika aku tidak mengetahui batas aman yang akan kamu berikan Gogol. Percayalah wanita sepanjang hidupnya hanya mencari rasa aman. Dan tentulah engkau mengetahui maksudku ini.

***