Beranda blog

Wabup Selle KS Dalle Dorong Peningkatan Mutu Literasi Guru di Kabupaten Soppeng

0
Foto Ist
Foto Ist

Intens.id, Soppeng – Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, memberikan perhatian serius terhadap potret literasi di Kabupaten Soppeng. Di hadapan ratusan pendidik, ia mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi daerahnya dalam skala regional Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Karya Tulis Ilmiah yang diikuti oleh lebih dari 300 guru di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Soppeng, Senin (18/5/2026), di Ruang Pola Kantor Bupati Soppeng.

Selle memaparkan, secara nasional minat baca di Kabupaten Soppeng sebenarnya masuk dalam kategori sedang. Namun, jika indikator tersebut dikomparasikan antar-kabupaten/kota di lingkup Provinsi Sulawesi Selatan, posisi Soppeng justru berada di barisan bawah.

“Melalui kegiatan seperti ini, saya harapkan dapat meningkatkan literasi dan minat baca kita, agar ke depannya Soppeng tidak lagi menempati posisi barisan bawah,” ujar Selle memberikan motivasi kepada para peserta.

Ia menegaskan optimismenya bahwa kualitas literasi daerah dapat dipacu secara bertahap melalui peran aktif para guru.

“Saya yakin dan percaya kita mampu naik, baik di skala regional Sulsel maupun nasional,” tambahnya.

Sinergi Peningkatan Kualitas Guru

Bimtek yang mengusung tema “Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Karya Tulis Ilmiah” ini terlaksana atas kerja sama antara Kantor Kemenag Soppeng dengan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (LP2KS). Peserta yang hadir mencakup guru dari jenjang RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, hingga MA/SMA se-Kabupaten Soppeng.

Senada dengan Wakil Bupati, Kepala Kantor Kemenag Soppeng, Afdal, S.Ag, MM, menekankan pentingnya adaptasi guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, tantangan digital saat ini mengharuskan guru untuk selangkah lebih maju dari peserta didik.

“Murid-murid kita sekarang luar biasa karena pengaruh AI. Maka guru dituntut membimbing agar peserta didik mampu memahami bacaan, mengambil inti sari, serta menganalisis apa yang mereka baca,” jelas Afdal.

Ia juga menambahkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengikis karakter siswa, sehingga peran guru tetap menjadi instrumen utama dalam membentuk generasi menuju Indonesia Emas.

Wadah Karya dan Perspektif Multipihak

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Farid, MA, PhD, menggarisbawahi peran strategis para guru, khususnya guru yang berstatus Dipekerjakan (DPK), sebagai representasi wajah Kementerian Agama di lapangan. Untuk memfasilitasi kompetensi menulis para guru, Seksi Pendidikan Madrasah telah menyiapkan Buletin Madrasah sebagai media internal penampung karya ilmiah.

Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, penyelenggara menghadirkan tiga narasumber dari rumpun keahlian yang berbeda:

  • Abd. Jalil Nasruddin, SE (Kanwil Kemenag Sulsel) dari perspektif birokrasi,
  • Prof. Dr. Sukardi Weda, M.Hum, M.Pd, M.Si, S.Sos, M.A.A (Akademisi) dari perspektif teoretis dan metodologi, serta
  • Jamal Hasan Basri (Praktisi Jurnalistik) dari perspektif teknik penulisan populer dan komunikasi publik.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, para guru diharapkan mampu melahirkan karya tulis ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar akademik untuk kenaikan pangkat, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan indeks literasi di Kabupaten Soppeng

Nurul Hanifa, Pelajar SMK Mega Rezky Tembus Podium Celebes Silat Championship 2026

0
Nurul Hafina (sabuk merah) bertanding dalam kategori remaja kelas E putri. (Foto: Istimewa)

Nurul Hanifa, murid dari SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar, terpilih menjadi salah satu peserta dalam ajang Celebes Silat Championship (CSC) 2026. Tidak hanya sebagai peserta namun ia juga berhasil menyabet juara 3.

Kompetisi pencak silat berskala nasional ini doselenggarakan pada tanggal 8 hingga 10 Mei 2026. Keikutsertaan Nurul dalam ajang ini merupakan bagian dari upayanya untuk kembali aktif di dunia olahraga bela diri setelah sempat beristirahat sejenak dari berbagai kompetisi.

Ajang Celebes Silat Championship 2026 diselenggarakan oleh Tapak Suci Sulawesi Selatan dengan rekomendasi resmi dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini menjadikan CSC 2026 sebagai wadah yang prestisius bagi para pesilat remaja untuk mengukur kemampuan mereka di tingkat regional maupun internasional.

Nurul Hanifa yang merupakan murid kelas X jurusan Keperawatan ini tetap konsisten dalam menekuni hobi serta bakatnya di bidang pencak silat. Dalam kejuaraan kali ini, Nurul berkompetisi pada cabang tanding pencak silat kategori remaja kelas E putri, yang diperuntukkan bagi peserta dengan berat badan antara 55 kg hingga 59 kg.

“Persiapan saya masih belum terlalu maksimal karena latihan hanya sekitar 2–3 kali seminggu. Tetapi saya tetap berusaha meningkatkan kemampuan dan menjaga semangat latihan agar bisa tampil lebih baik saat pertandingan,” terang Hanifa, sapaam akrabnya.

Partisipasi Nurul menunjukkan bahwa murid di SMK Kesehatan juga memiliki prestasi yang kompetitif di bidang non-akademik. Kehadirannya dalam kejuaraan ini memberikan gambaran positif mengenai keseimbangan antara kedisiplinan belajar dan aktivitas fisik bagi para pelajar di Makassar.

Aktif dalam Kegiatan Silat

Hanifa sendiri sebelumnya telah aktif mengikuti berbagai perlombaan pencak silat sepanjang tahun 2024 dan 2025. Namun, ia sempat mengambil masa vakum selama satu semester pada tahun lalu sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali berlaga di tahun 2026 ini.

“Di tahun 2026 ini saya kembali aktif mengikuti lomba, salah satunya di CELEBES SILAT CHAMPIONSHIP (CSC), karena saya ingin lebih meningkatkan diri, menambah pengalaman bertanding, serta mengembangkan kemampuan saya di bidang hobi pencak silat,” ujarnya.

Persaingan di Celebes Silat Championship 2026 tergolong sangat ketat karena melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan daerah. Para peserta tidak hanya datang dari lingkup lokal seperti Luwu dan Bantaeng, tetapi juga dari wilayah luar pulau seperti Papua, bahkan diikuti oleh peserta internasional dari Malaysia.

Keinginan kuat untuk mengembangkan hobi menjadi sebuah prestasi profesional menjadi faktor utama yang mendorongnya untuk bersaing kembali dengan pesilat-pesilat tangguh lainnya.

Ia berharap pengalaman yang didapat dari kejuaraan ini dapat menjadi pijakan untuk tampil lebih maksimal pada ajang-ajang berikutnya.

“Harapan saya ke depannya semoga bisa memberikan hasil terbaik, menambah pengalaman, meningkatkan prestasi, menjadi lebih percaya diri, serta bisa tampil lebih baik dari lomba-lomba sebelumnya dalam mengikuti kejuaraan berikutnya,” pungkas Nurul.

Cinta itu Fitrah, tapi Jangan Sampai Bikin Salah Arah

0
Ilustrasi by unsplash.com

INTENS.ID—Di zaman sekarang, bicara soal cinta rasanya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Scroll media sosial sedikit, isinya hubungan romantis. Nonton film, temanya cinta. Bahkan kadang ukuran “bahagia” seseorang diukur dari punya pasangan atau tidak.

Padahal, cinta sendiri sebenarnya adalah fitrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan rasa cinta dalam hati manusia. Karena itu, mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang salah. Yang jadi masalah adalah ketika cinta membuat seseorang kehilangan arah, melupakan batas, bahkan menjauh dari Sang Pencipta.

Di era digital seperti sekarang, menjaga hati memang tidak mudah. Godaan datang dari mana saja. Chat tanpa batas, hubungan tanpa kejelasan, budaya pacaran bebas, sampai tren menunjukkan kemesraan di media sosial sering dianggap hal biasa. Akhirnya, banyak orang mengira bahwa semua yang mengatasnamakan cinta pasti benar.

Padahal Islam punya cara pandang yang sangat indah tentang cinta. Islam tidak melarang cinta, tetapi mengajarkan bagaimana cinta tetap suci dan tidak berubah menjadi jalan menuju dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Terjemahnya: “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan menyebabkan terjadinya perzinaan.

Menariknya, ayat di atas tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang “mendekatinya”. Artinya, segala hal yang bisa menyeret seseorang ke arah tersebut juga perlu dijaga. Termasuk hubungan yang terlalu bebas tanpa batas syariat.

Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam dari Al-Haisam ibnu Malik At-Ta-i, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: “Tiada suatu dosa pun sesudah mempersekutukan Allah yang lebih besar di sisi Allah daripada nutfah (air mani) seorang lelaki yang diletakkannya di dalam rahim yang tidak halal baginya”.

Ketika Cinta Jadi Segalanya

Salah satu masalah yang sering terjadi di kalangan remaja sekarang adalah “cinta buta”. Seseorang bisa terlalu larut dalam perasaan sampai lupa diri. Rela mengorbankan prinsip, waktu, bahkan hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya demi mempertahankan seseorang.

Ada yang jadi malas ibadah karena sibuk memikirkan pasangan. Ada yang emosinya naik turun hanya karena chat tidak dibalas. Bahkan ada yang merasa hidupnya hancur ketika cintanya gagal.

Kenapa itu bisa terjadi?

Karena hati manusia memang butuh tempat bergantung. Kalau hati tidak dipenuhi cinta kepada-Nya, maka hati akan mudah menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada manusia. Padahal manusia bisa berubah, pergi, bahkan mengecewakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa salah satu tanda manisnya iman adalah ketika seseorang lebih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dibanding apa pun yang lain.

Saat hati dekat dengan Sang Pencipta, seseorang tidak akan mudah diperbudak perasaan. Ia tetap bisa mencintai dengan sehat, tenang, dan sadar batas.

Media Sosial: Tempat yang Bisa Menjaga atau Menghancurkan Hati

Kalau dipikir-pikir, tantangan menjaga hati di zaman sekarang jauh lebih berat dibanding dulu. Dulu orang harus bertemu langsung. Sekarang cukup lewat layar.

Kadang awalnya cuma saling follow. Lalu jadi sering lihat story. Mulai chat. Muncul rasa nyaman. Lama-lama terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Belum lagi konten-konten yang membuat orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat pasangan romantis setiap hari bisa membuat seseorang merasa kesepian, buru-buru ingin punya hubungan, atau akhirnya mencari validasi lewat cinta.

Karena itu, menjaga pandangan di era digital menjadi sangat penting. Bukan hanya menjaga mata di dunia nyata, tetapi juga menjaga apa yang kita lihat di layar ponsel. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ

Terjemahnya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30).

Ayat di atas merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan bagi mereka. Maka janganlah mereka melihat kecuali kepada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat, dan hendaklah mereka menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan.

Jadi apabila pandangan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja, maka hendaklah dia memalingkan pandangan matanya dengan segera. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam hadis shahihnya dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba, lalu beliau memerintahkan kepadaku memalingkan pandanganku”.

Berdasarkan bahwa pandangan mata merupakan sumber bagi rusaknya hati, sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama Salaf, bahwa pandangan mata itu adalah panah beracun yang menembus hati. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjaga kemaluan, sebagaimana Dia memerintahkan untuk menjaga pandangan yang mengantarkan kepada hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir).

Menjaga pandangan bukan berarti anti cinta atau anti teknologi. Justru itu cara agar hati tetap bersih dan tidak mudah terseret hawa nafsu.

Jangan Kosongkan Hati dan Waktu

Sering kali cinta yang berlebihan muncul karena seseorang terlalu kosong. Kosong hati, kosong aktivitas, kosong tujuan hidup.

Makanya, salah satu cara terbaik menjaga diri adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar, membangun mimpi, membantu orang tua, ikut kajian, membaca, olahraga, atau mengembangkan skill bisa membuat hidup lebih sehat secara emosional.

Orang yang punya tujuan hidup biasanya tidak mudah tenggelam dalam hubungan yang merusak.

Islam Punya Solusi: Pernikahan

Islam adalah agama yang realistis. Islam memahami bahwa manusia punya rasa cinta. Karena itu, Islam memberikan jalan yang halal dan mulia, yaitu pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

Terjemahnya: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan bukan sekadar tentang romantis, tetapi tentang ibadah, tanggung jawab, dan membangun kehidupan bersama dengan cara yang diridai-Nya.

Cinta yang Membawa Dekat kepada Allah

Pada akhirnya, cinta yang baik bukan cinta yang membuat seseorang lalai ibadah, overthinking setiap malam, atau rela melanggar aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mempertahankan hubungan.

Cinta yang benar adalah cinta yang membuat seseorang menjadi lebih baik. Lebih dekat kepada-Nya. Lebih menjaga diri. Lebih menghargai kehormatan dirinya.

Karena cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang menjaga hati agar tetap berada di jalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridai.

Referensi:

Kajian Ustadz Nuzul Dzikri: Cinta Buta Vs Cinta yang Rasional.

Kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah: Mengundang Azab Allah Lewat Pacaran.

Demi Diplomasi dan Masa Depan, Roma Rela Tempuh Cirebon–Jakarta Seorang Diri Mengikuti Workshop MUN

0
Foto: Globy

Di saat sebagian besar remaja menghabiskan akhir pekan untuk bersantai, Roma, siswa kelas X dari SMAN 1 Cirebon bernama Roma memilih jalan yang berbeda. Dengan semangat yang tinggi, ia seorang diri menempuh perjalanan jauh dari Cirebon menuju Ibu Kota Jakarta demi mengasah kemampuan di panggung diplomasi internasional melalui ajang MUN WORKSHOP yang diadakan oleh Globy pada Minggu, 10 Mei 2026.

Kehadiran Roma di tengah hiruk-pikuk Jakarta bukan tanpa alasan. Meski usianya masih sangat muda dan baru menduduki bangku kelas X, ia menunjukkan kematangan berpikir dengan mengambil inisiatif pribadi untuk hadir di workshop ini. Keputusan ini diambil bukan karena penugasan dari sekolah, melainkan murni dorongan dari dalam diri untuk mengeksplorasi dunia di luar batasan kurikulum sekolah formal.

Dedikasi selama delapan jam penuh, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, Roma melebur bersama kurang lebih 85 peserta lainnya dari berbagai daerah. Ia mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat intensif, mulai dari Introduction to MUN (Model United Nations) hingga Mastering RoP (Rules of Procedure) and Public Speaking. Bagi seorang siswa kelas X, materi mengenai prosedur persidangan PBB yang rumit tentu menjadi tantangan tersendiri, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya.

Puncak dari workshop ini adalah sesi MUN Simulation, di mana Roma mendapatkan peran strategis sebagai delegasi dari Korea Selatan. Dalam simulasi ini, ia dituntut untuk memahami posisi geopolitik Korea Selatan dan menyuarakan kepentingan negara tersebut dalam forum internasional.

“Saya ingin melangkah keluar dari zona nyaman menuju sesuatu yang baru, terlebih lagi mengenai isu-isu global yang selama ini hanya saya lihat di berita,” ungkap Roma mengenai motivasinya.

Roma (tengah) hadir bersama 85 peserta lainnya dalam kegiatan MUN Workshop pada Minggu (10/5/2026). (Foto: Istimewa)

Ia memiliki target tersendiri, yaitu memahami sistem diplomasi di dalam PBB secara komprehensif dan belajar bagaimana menyusun sebuah Outstanding Paper yang diakui sebagai hasil pemikiran delegasi terbaik. Baginya, kemampuan menulis dan berdiplomasi adalah paket lengkap yang harus dikuasai sejak dini.

Selain itu, aspek komunikasi menjadi fokus utamanya. Roma menyadari bahwa di masa depan, kemampuan berbicara di depan umum dan penguasaan bahasa Inggris adalah kunci utama. Melalui workshop ini, ia bertekad untuk menambah keterampilan public speaking serta memperluas jaringan pertemanan dengan sesama pemuda yang memiliki minat serupa di bidang isu global.

“Bagi saya yang masih di kelas X, perjalanan dari Cirebon ke Jakarta ini adalah investasi. Saya ingin menjadi lebih percaya diri dalam berbicara di depan forum, berani bertanya, dan yang terpenting adalah berani mempertahankan pendapat mengenai isu global dalam bahasa Inggris yang fasih,” ujar Roma.

Ia juga menambahkan bahwa partisipasinya ini merupakan langkah awal dalam menata masa depan yang lebih cerah.

“Saya sangat berharap pengalaman hari ini membawa kemanfaatan besar untuk meniti karier saya di masa depan. Tidak ada kata terlalu dini untuk mulai memikirkan bagaimana kita bisa berkontribusi bagi dunia.”.

Usia dan jarak bukanlah penghalang bagi generasi muda Indonesia untuk memiliki wawasan global. Keberaniannya untuk datang jauh-jauh dari Cirebon secara mandiri menunjukkan bahwa semangat literasi diplomatik telah tumbuh subur di jiwa pemuda, bahkan sejak tahun-tahun pertama di bangku SMA.

Legislator Demokrat Anarchie Arus Bakti Dorong Edukasi Petani dan Produktifitas Pertanian

0
Anarchie Arus Bakti,S.Psi Anggota DPRD Provinsi Sulsel Fraksi Partai Demokrat Dapil 8 Soppeng-Wajo (Ist)

Soppeng — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai Demokrat, Anarchie Arus Bakti, S.Psi., secara resmi membuka kegiatan Corteva Exhibition di Dusun Padali, Desa Tellulimpoe, Kecamatan Marioriawa, Selasa (5/5/2026).

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Bakti ini menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah konkret dalam mendukung program pemerintah untuk mempercepat swasembada pangan, khususnya pada sektor persawahan.

Bakti menyoroti tantangan yang dihadapi petani saat ini, yakni maraknya peredaran produk pertanian tidak resmi di platform belanja online. Produk-produk tersebut seringkali dijual dengan harga murah namun kualitasnya tidak terjamin.

“Banyak produk palsu yang beredar. Lewat edukasi ini, masyarakat diharapkan paham cara penggunaan dosis yang benar agar hasil panen tetap maksimal dan tidak merugi,” ujar Bakti.

Ia menilai, pemahaman komprehensif mulai dari pemilihan produk hingga teknik penggunaan di lapangan adalah kunci meningkatkan produktivitas. Bakti juga mengapresiasi langkah Corteva yang aktif memberikan edukasi langsung kepada para petani.

Kepala Desa Tellulimpoe, Darwis, S.IP., menyambut baik kehadiran legislator provinsi tersebut di tengah masyarakat. Menurutnya, kehadiran Bakti merupakan bentuk nyata kepedulian wakil rakyat terhadap kebutuhan sektor pertanian.

“Kami sangat mengapresiasi Bapak Bakti yang turun langsung. Kehadiran beliau menjadi motivasi besar bagi kami dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani di desa ini,” ungkap Darwis.

Selain fokus pada isu pertanian, legislator muda ini juga menegaskan komitmennya terhadap sektor pendidikan di daerah pemilihan (Dapil) Soppeng-Wajo. Ia meyakini bahwa kemajuan daerah harus ditopang oleh kualitas SDM yang mumpuni.

Bakti berjanji akan terus mengawal kebijakan yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan. Menurutnya, sinergi antara sektor ekonomi pertanian dan pendidikan akan menjadi pondasi kuat bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan secara luas.

Kegiatan Corteva Exhibition ini diharapkan menjadi momentum berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas petani lokal melalui edukasi teknologi pertanian yang tepat guna.

Dorong Percepatan Pembangunan, SDGs Center UNG Tawarkan Model Kemitraan Multi-Pihak di Tingkat Nasional

0
Tim SDGs Center UNG. (Foto: Ist)

Intens.id, Makassar – SDGs Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali memperkuat eksistensinya di kancah nasional. Lembaga ini dipercaya menjadi narasumber dalam Workshop Penyusunan Dokumen Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs yang digelar secara hybrid di Makassar, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan strategis ini diinisiasi oleh Bappenas, Sekretariat Nasional SDGs, dan GIZ. Forum ini mempertemukan berbagai elemen penting, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra pembangunan internasional, hingga sektor swasta guna menyusun panduan pembangunan yang lebih terarah dan terukur.

Kepala SDGs Center UNG, Dr. Raghel Yunginger, memaparkan materi mengenai model percepatan pelaksanaan SDGs berbasis Multi-Stakeholder Partnership (MSP). Menurutnya, kendala utama di daerah saat ini adalah pola kerja yang masih bersifat sektoral atau berjalan sendiri-sendiri.

“Banyak program pembangunan belum mencapai hasil optimal karena belum terbangun alur kemitraan yang terpadu. Setiap pihak sering bekerja dalam ruang masing-masing, sehingga potensi kolaborasi belum dimaksimalkan,” ungkap Dr. Raghel.

Ia menegaskan bahwa pendekatan MSP hadir sebagai solusi untuk membangun ekosistem kemitraan yang saling melengkapi. Dalam prinsip SDGs, pemerintah daerah bukan lagi aktor tunggal, melainkan harus bersinergi dengan akademisi, sektor swasta (CSR), lembaga filantropi, hingga komunitas masyarakat.

Dalam skema kolaborasi ini, pembagian peran menjadi sangat krusial. Perguruan tinggi bertugas memberikan kajian ilmiah dan inovasi, sementara sektor swasta mendukung dari sisi pembiayaan dan teknologi. Adapun masyarakat menjadi ujung tombak dalam implementasi di lapangan.

Dr. Raghel menekankan bahwa keberhasilan model ini sangat bergantung pada peran fasilitator yang mampu menjembatani seluruh kepentingan.

“Di sinilah peran SDGs Center menjadi krusial. Kami tidak hanya menghubungkan para pihak, tetapi memastikan kolaborasi memiliki arah jelas, mulai dari perumusan isu hingga penetapan aktivitas yang terukur,” jelasnya.

Model MSP ini diklaim mampu mengoptimalkan mobilisasi sumber daya dan mencegah tumpang tindih program. Pendekatan tersebut tidak hanya sekadar konsep, namun telah diuji keberhasilannya di berbagai konteks lokal, termasuk di Provinsi Gorontalo.

Ke depan, penyusunan RAD SDGs diharapkan tidak lagi sekadar menjadi dokumen administratif. Dokumen ini harus menjadi panduan integratif yang memastikan setiap intervensi pembangunan memiliki indikator keberhasilan yang objektif.

Dengan pembagian peran yang proporsional, setiap sumber daya diharapkan dapat dimobilisasi secara optimal. Hal ini bertujuan agar pembangunan daerah mampu menghasilkan dampak nyata yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Refleksi Implementasi Serapan Anggaran Pendidikan yang Miris pada Hardiknas

0
Anarchie Arus Bakti, S.Psi, Anggota DPRD Provinsi Sulsel Fraksi Partai Demokrat Dapil 8 Soppeng-Wajo (Foto:Ist)

Anarchie Arus Bakti, S.Psi (Anggota DPRD Provinsi Sulsel Fraksi Partai Demokrat Dapil 8 Soppeng-Wajo)

Linimasa sosial media kita ramai disesaki ucapan Hari Pendidikan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, Pidato dibacakan, upacara digelar, dan janji-janji manis masa depan bangsa kembali digaungkan.

Perihal yang kontras dengan kondisi yang terjadi di tingkat tapak, realitas yang perlu kita tanyakan dengan jujur, seberapa banyak dari perayaan itu yang benar-benar menyentuh akar masalah, dan seberapa banyak yang sekadar basa-basi tahunan?

Sebagai bagian dari penyelenggara pemeritah Provinsi Sulawesi Selatan, kami melihat pendidikan tidak bisa lagi hanya diromantisasi lewat narasi pengabdian guru atau keluhuran kurikulum. Di balik meja pemangku kebijakan publik, realitas pendidikan ujung-ujungnya bermuara pada satu hal yang sangat pragmatis, keberanian pemerintah dalam mengelola anggaran. Ke mana uang rakyat dialirkan?, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Pendidikan yang waras tidak bisa hanya mengandalkan keikhlasan tenaga pendidik. Ia butuh pondasi yang rasional. Guru butuh sejahtera, sekolah butuh fasilitas yang layak, dan anak-anak butuh akses yang tidak mendiskriminasi isi dompet orang tuanya. Kesemua itu bermula dari ketepatan kita mengeksekusi APBD/APBN.

Sebut saja fasilitas sekolah di SMAN 5 Soppeng yang kami temui saat kunjungan kerja pengawasan APBD pada Maret 2025 lalu, membuat saya menghentikan langkah sejenak saat memasuki pintu di sambut penampakan plafon kelas yang rubuh. Kenyataan yang menyentak membuat kita berpikir tentang keamanan para siswa menjalani proses menimba ilmu di ruangan yang mengancam.

Hal seriupa kami jumpai juga pada kunjungan kerja pada april lalu di keluarahan Walennae, Kabupaten Wajo, mulai dari lantai, dinding hingga atapnya sangat memprihatinkan.

Ironis realitas yang hanya dua dari beberapa sekolah yang cukup menampar kita. Hari ini, para pejabat sibuk bicara soal transformasi digital, memaksa siswa melek kecerdasan buatan (AI). Tapi di sudut-sudut daerah, mengalami berbagai kendala, belum lagi persoalan guru honorer yang mengabdi dengan gaji yang bahkan tak cukup untuk ongkos bensin sebulan.

Kesenjangan ini bukan takdir geografis. Ini adalah cerminan dari dosa kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak.

Kini, di tengah hiruk-pikuk itu, pemerintah pusat meluncurkan program Sekolah Rakyat. Konsepnya menjanjikan harapan baru, negara jemput bola, memotong rantai birokrasi, dan mendekatkan akses bagi keluarga yang selama ini terpinggirkan. Secara gagasan, ini sangat progresif. Ia menjawab kebutuhan mendesak untuk menghadirkan negara di titik-titik buta (blind spots) pembangunan.

Tapi sebagai orang yang tugasnya mengawasi jalannya pemerintahan, saya harus bersikap kritis. Kita sudah terlalu kenyang dengan kebijakan yang bersampul indah tapi implementasinya kedodoran di lapangan. Pertanyaan terbesarnya, apakah Sekolah Rakyat ini akan jadi solusi nyata, atau ujung-ujungnya cuma proyek ambisius tanpa jejak yang berarti?

Di sinilah peran pengawasan dari legislatif menjadi krusial. Di DPRD Sulawesi Selatan, kami tidak ingin sekadar menjadi tukang stempel anggaran. Pengawasan tidak boleh cuma berhenti di angka persentase serapan atau tebalnya laporan pertanggungjawaban di akhir tahun. Uang rakyat itu harus dikawal sampai kita yakin benar ia mendarat di ruang-ruang kelas, memperbaiki atap sekolah yang bocor, dan memastikan kesejahteraan para guru kita.

Publik juga harus cerewet. Transparansi bukan cuma soal memajang angka di website pemerintah, tapi soal membangun kepercayaan. Masyarakat berhak tahu, jika anggaran pendidikan dipotong, ke mana larinya? Jika ditambah, apa prioritasnya?

Kita tidak butuh terlalu banyak program yang gimmick-nya luar biasa. Kita butuh program yang tepat sasaran. Fokus saja pada yang mendasar, pemerataan infrastruktur fisik, perbaikan nasib guru, dan perluasan akses.

Sekolah Rakyat tidak boleh hanya berakhir sebagai tugu prasasti atau bangunan fisik yang diresmikan dengan gunting pita. Bangunan megah tanpa kualitas pengajaran di dalamnya hanyalah struktur beton yang kehilangan jiwa. Ia harus menjadi ruang tumbuhn tempat masa depan benar-benar disemai.

Pada akhirnya, wajah masa depan pendidikan kita tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa triliun anggaran yang diketok palu, tapi oleh kejujuran dalam mengelolanya dan keberpihakan dalam menyalurkannya. Jika anggaran benar-benar berpihak, Sekolah Rakyat bisa jadi jalan keluar. Jika tidak, ia hanya akan menambah panjang daftar jargon kebijakan yang dilupakan sejarah.

Di tengah riuhnya seremoni Hardiknas hari ini, realitas pendidikan di pelosok seringkali masih berjalan dalam sunyi. Di situlah komitmen kita benar-benar diuji apakah kita sungguh peduli untuk berbuat, atau sekadar ikut merayakan?

Menitipkan Anak pada Sistem yang Rapuh, Pulang Lewat Jalan yang Rentan

0

Setiap pagi, ada jutaan ibu di Indonesia yang melakukan satu hal yang sama, yakni menelan rasa bersalah.

Mereka meninggalkan anaknya di rumah, di tangan pengasuh, atau di daycare dengan satu doa yang berulang, “Ya Allah, jaga anakku saat aku tidak ada”.

Namun pertanyaannya hari ini menjadi jauh lebih menakutkan. Apakah doa itu sedang menggantikan fungsi sistem yang seharusnya bekerja?

Kasus kekerasan di daycare yang kembali viral bukanlah kejadian tunggal. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menegaskan bahwa kekerasan di daycare terjadi berulang dan membutuhkan evaluasi nasional menyeluruh.

Sepanjang tahun 2024 saja, KPAI menerima 2.057 pengaduan kasus terkait anak, angka yang menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak bukan sesuatu yang sporadis, tapi sistemik. Bahkan pada 2025, tercatat sekitar 2.031 kasus kekerasan terhadap anak, dengan lebih dari 51% korban adalah anak perempuan.

Artinya, setiap hari ada anak yang terluka, dan sebagian dari mereka adalah anak-anak yang dititipkan karena orang tuanya bekerja.

Sebagai ibu bekerja, saya membaca angka-angka ini bukan sebagai statistik, tapi sebagai kemungkinan. Kemungkinan bahwa anak saya bisa menjadi salah satu dari angka itu.

Lalu kita beralih ke sisi lain dari realitas, di mana ibu-ibu yang berangkat bekerja. Data Kementerian PPPA menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia pada 2024 mencapai 56,42%.

Di kota-kota besar, bahkan angkanya bisa lebih tinggi sekitar 55% perempuan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Dengan kata lain, lebih dari separuh perempuan dewasa di negeri ini hidup dalam ritme yang sama. Pergi pagi, pulang sore, meninggalkan anak demi bertahan hidup.

Namun ironinya, semakin banyak ibu bekerja, semakin besar pula ruang risiko yang mereka hadapi, dan sistem belum bergerak secepat itu untuk melindungi mereka.

Kecelakaan kereta di Bekasi menjadi pukulan kedua. Gerbong wanita bukan sekadar ruang transportasi. Ia adalah ruang harapan. Di dalamnya ada ibu-ibu yang sedang menghitung waktu untuk pulang. Ada yang membawa janji, “Mama sebentar lagi sampai”.

Namun realitas berkata lain, perjalanan pulang tidak selalu berujung pelukan.

Di titik ini, menjadi ibu bekerja di Indonesia terasa seperti hidup di antara dua ketidakpastian.

  1. Saat pergi, kita cemas meninggalkan anak di sistem yang belum sepenuhnya aman;
  2. Saat pulang, kita menghadapi risiko di perjalanan yang juga tidak sepenuhnya terjamin.

Ini bukan sekadar beban emosional. Ini adalah beban struktural yang dipikul oleh perempuan sendirian.

Negara sering merayakan “perempuan tangguh”. Tapi jarang bertanya, mengapa mereka harus setangguh itu untuk sekadar hidup normal?

Dalam Islam, menjaga anak bukan hanya urusan keluarga, ia adalah amanah sosial.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ

Terjemahnya: “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Maka ketika sistem gagal melindungi dan gagal memastikan keselamatan di transportasi publik, ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan kelalaian amanah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan dalam Quran Surah Al-Maidah ayat 32 bahwa menjaga satu kehidupan sama seperti menjaga seluruh manusia.

Namun hari ini, kita seperti terbiasa dengan berita kehilangan. Kita berduka. Kita marah. Lalu kita lupa.

Benar, takdir tidak pernah salah alamat. Jika sesuatu memang harus terjadi, ia akan menemukan jalannya. Karenanya, kita sering berlindung di balik kata takdir, seolah itu alasan untuk berhenti berbenah. Padahal takdir tidak pernah memerintahkan kita untuk abai.

Jika kecelakaan terjadi karena sistem yang lalai, jika anak terluka karena pengawasan yang lemah, maka itu bukan semata takdir, tapi hasil dari sesuatu yang dibiarkan.

Kita tidak bisa menghindari semua kemungkinan buruk, tapi kita bisa memastikan untuk tidak ikut membuka jalannya. Karena yang dipertanyakan kelak bukan hanya apa yang terjadi, tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mencegahnya.

Sejatinya, kita tidak kekurangan ibu yang kuat. Kita sedang kekurangan sistem yang serius.

Jika lebih dari setengah perempuan Indonesia bekerja, maka daycare bukan lagi pilihan tambahan, tapi kebutuhan utama, dan transportasi publik bukan lagi fasilitas, melainkan tulang punggung kehidupan. Keduanya harus aman, tanpa kompromi.

Sebagai ibu bekerja, saya tidak meminta kemewahan. Saya hanya meminta sesuatu yang seharusnya menjadi hak paling dasar. Tempat yang aman untuk anak saat saya bekerja, dan jalan yang aman agar bisa pulang memeluknya.

Karena bagi seorang ibu, dunia ini sederhana: Pergi dengan doa, dan pulang dengan selamat.

Jika itu saja belum bisa dijamin, maka yang perlu dipertanyakan bukan ketangguhan ibu, melainkan keseriusan kita dalam menjaga kehidupan. Wallahu a’lam bisshawab.

Pelatihan MC KOPRI Rayon Bung Hatta Tingkatkan Kepercayaan Diri Kader

0

intens.id – Sumenep, KOPRI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Bung Hatta sukses menyelenggarakan Pelatihan Master of Ceremony (MC) yang berlangsung dengan antusiasme tinggi dan partisipasi aktif dari para peserta. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kemampuan public speaking sekaligus membangun kepercayaan diri kader dalam memandu acara secara profesional.

Ketua KOPRI Rayon Bung Hatta, Nurul Mutmainnah, menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang untuk mencetak kader perempuan yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi publik yang mumpuni.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap para peserta mampu mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan siap tampil sebagai MC yang percaya diri serta profesional dalam berbagai kesempatan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kemampuan berbicara di depan umum merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki oleh setiap kader. Menurutnya, kepercayaan diri dalam berkomunikasi akan membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkontribusi di ruang publik.

“KOPRI ingin hadir sebagai wadah pengembangan diri, sehingga kader tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berani tampil dan menyampaikan gagasan di hadapan publik,” tambah Nurul Mutmainnah.

Pelatihan tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, khususnya anggota KOPRI Rayon Bung Hatta yang memiliki minat di bidang keprotokolan dan pembawa acara. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pembekalan materi yang meliputi teknik dasar menjadi MC, penyusunan naskah acara, penggunaan bahasa yang baik dan benar, serta praktik langsung membawakan acara.

Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga menekankan pada praktik interaktif, di mana peserta diberi kesempatan untuk tampil dan mengasah kemampuan secara langsung. Suasana pelatihan yang awalnya terasa menegangkan perlahan berubah menjadi lebih cair dan penuh semangat, seiring meningkatnya kepercayaan diri para peserta.

Kegiatan ditutup dengan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi atas jalannya pelatihan yang sukses. Keberhasilan acara ini menjadi bukti komitmen KOPRI Rayon Bung Hatta dalam mencetak perempuan tangguh yang siap berperan aktif dan mengambil posisi strategis di ruang publik.

Mafindo Makassar Fasilitasi Ratusan Guru di Sulawesi Selatan dengan Pelatihan AIGTS Online

0

Pelatihan AI Goes To School yang digelar Mafindo Makassar, sejak 27 Februari 2026 kini berlanjut hingga 16 April 2026 secara Online tatap maya dan fasilitas LMS program ini. Ratusan Guru dari berbagai Kabupaten Kota mengikuti pelatihan dengan penuh Semangat meski terlaksana siang hari.

Korwil Mafindo Makassar, Andi Fauziah Astrid mengemukakan bahwa kegiatan Pelatihan AIGTS ini merupakan program yang diprakarsai oleh VPN untuk memfasilitasi puluhan ribu guru-guru seluruh Indonesia. Di Sulawesi Selatan telah dilaksanakan sebanyak 5 Kali pelatihan AIGTS ini.

Trainer AIGTS Online yang bertugas, Arnidah juga menghimbau kepada Peserta pelatihan agar bijak dalam memperhatikan etika penggunaan AI. Karena ragam Kecerdasan Artifisial ini merupakan alat bantu yang di mana, kita sebagai manusia adalah pemilik ide itu sehingga tidak sampai bergantung sepenuhnya terhadap AI itu sendiri.

Gustania merasakan senang bisa bergabung dalam kegiatan ini, infonya didapatkan melalui WhatsApp Guru Sulsel dan ketika melihat judul kegiatan, rupanya menarik dan bermanfaat bagi guru untuk pembelajaran di kelas.

Ia juga menambahkan, Sebelum mengikuti kegiatan ini, pengetahuan tentang AI terbatas, sekadar AI yang umumnya digunakan. Tetapi setelah menyimak kegiatan hari ini, rupanya ada banyak jenis untuk digunakan supaya siswa lebih tertarik dengan pelajaran.

Muh. Wahyu, ketua KKG PJOK yg mengikuti kepesertaan pelatihan AIGTS Online ini juga menambahkan bahwa siap untuk kedepannya berkontribusi pada kegiatan Mafindo berikutnya.

Ia mengucapkan terimakasih pada penyelenggara dan peserta sebab pelatihan dilaksanakan siang hari tetapi semua tetap bersemangat. Materi-materi yang disampaikan mencakup prompting, gemini, napkin dan notebook LM rupanya memiliki manfaat yang besar untuk menunjang pengetahuan guru dan perlu diperdalam lagi berkat pelatihan ini.

Sebelum pelatihan tatap maya usai, Guru-guru juga memastikan tentang akses untuk memiliki modul AIGTS ini. Seluruh peserta didampingi oleh tim Pelaksana AIGTS untuk memperoleh berbagai benefit termasuk modul dan e-sertifikat.