Intens.id, Makassar – Sampah sering kali dipandang sebagai titik akhir dari rantai konsumsi, sebuah beban yang harus segera disingkirkan dan disembunyikan. Namun, bagi agroindustri PT Bio Inti Agrindo (PT BIA), paradigma tersebut mulai digeser secara radikal.
Melalui kolaborasi strategis dengan Klikhijau, perusahaan ini menempuh perjalanan jauh dari Merauke menuju Makassar untuk membedah potensi ekonomi dan ekologi di balik tumpukan limbah organik.
Bertajuk “Organic Insight Field Trip”, kegiatan yang berlangsung selama enam hari (26 April – 1 Mei 2026) ini bukan sekadar kunjungan lapangan biasa. Ini adalah langkah awal PT BIA untuk menjadi pelopor pengelolaan sampah organik terintegrasi di wilayah Papua Selatan, sebuah terobosan yang diharapkan mampu memperkuat skor Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan serta memenuhi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
PT BIA, yang mengoperasikan perkebunan dengan ribuan pekerja di Merauke, menghadapi tantangan klasik industri berbasis lahan, volume limbah organik yang masif. Di Merauke, unit pengolahan sampah organik yang terintegrasi masih sangat terbatas.
Menyadari hal tersebut, tim lintas departemen PT BIA yang dipimpin oleh Mr. Jeong Kiwon, bersama Bayu Anang Setiawan, Putra Rama Pradana Dahlan, dan Maftuh Indra Pramana, terjun langsung ke Makassar, kota yang kini menjadi hub inovasi pengelolaan sampah berbasis komunitas di Indonesia Timur.
“Tantangan industri masa depan bukan hanya soal produksi, tapi bagaimana mengelola sisa produksi menjadi sesuatu yang bernilai. Kami mengajak mereka melihat model mana yang paling memungkinkan untuk diadaptasi di area operasionalnya,” ujar Direktur Klikhijau, Anis Kurniawan.
Perjalanan ini mengeksplorasi spektrum luas pengelolaan sampah, mulai dari koridor kebijakan pemerintah hingga gang-gang sempit pemukiman padat.
Setelah brainstorming (curah pendapat) di tanggal 26 April, perjalanan dimulai pada Senin, 27 April 2026, di Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH Suma). Di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tim PT BIA mempelajari konsep Eco Office. Di sini, peserta melihat bahwa pengelolaan lingkungan harus dimulai dari keteladanan institusi, di mana pemilahan sampah dilakukan secara disiplin sejak dari meja kerja.
Sore harinya, fokus bergeser ke Kawasan Industri Makassar (KIMA). Di lokasi ini, tim mengamati bagaimana limbah industri dikelola menggunakan teknologi biologi: larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Penggunaan maggot menjadi solusi efisien untuk mereduksi sampah organik dalam skala besar sekaligus menghasilkan produk turunan berupa pakan ternak berprotein tinggi. Bagi PT BIA, model ini menawarkan inspirasi konkret tentang bagaimana limbah perkebunan bisa dikonversi menjadi unit bisnis baru yang sekaligus menyelesaikan permasalahan limbah.
Pada Selasa, 28 April, narasi pengelolaan sampah bergeser ke aspek sosial dan edukasi. Dimulai dengan observasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Universitas Hasanuddin (Unhas), tim kemudian dihadapkan pada realitas tajam di Komunitas Pemulung Antang, dekat lokasi TPA Makassar.
Di sini, tim PT BIA menyaksikan peran vital warga sebagai garda terdepan pemilahan sampah.
“Pengelolaan sampah bukan hanya soal teknologi canggih, tapi soal kelangsungan hidup manusia dan agensi lokal,” ungkap Umy Qalzum Hafid, Koordinator Program Organic Insight Field Trip.
Tak jauh dari sana, tim mengunjungi Cluster Berlian Permai Antang. Pemukiman ini memperkenalkan konsep Eco Mosque yang terintegrasi dengan pengolahan sampah warga dalam cluster perumahan, di mana rumah ibadah (masjid) tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban hijau melalui pengelolaan Bank Sampah dan komposting mandiri. Sinergi spiritual dan ekologis ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keberlanjutan bisa masuk ke dalam sendi-sendi budaya masyarakat.
Memasuki hari ketiga dan keempat, tim mendalami kekuatan kelembagaan di TPS3R Mariso dan TPS3R Untia. Di Mariso, mereka melihat bagaimana birokrasi pemerintah tingkat kelurahan mendukung penuh sistem daur ulang warga. Sementara di Untia yang terletak di wilayah pesisir, tantangannya berbeda, menjaga agar limbah organik tidak mencemari ekosistem laut.
Inspirasi unik justru ditemukan di tempat yang tak terduga, Lapas Kelas 1 Makassar. Di balik tembok penjara, para warga binaan berhasil mengimplementasikan urban farming terintegrasi. Sampah organik diolah menjadi pupuk untuk pertanian dan pakan ayam, menciptakan siklus pangan mandiri.
Selain itu, kunjungan ke Green House Adventure pandangan bahwa setiap individu bisa menjadi pabrik pengolah sampah. Dengan lahan terbatas, sampah organik disulap menjadi nutrisi bagi pertanian multikultur, menghasilkan pangan sehat tanpa ketergantungan pada pestisida kimia.
Puncak perjalanan ditutup pada Jumat, 1 Mei 2026, dengan kunjungan ke TPS3R Karebosi yang mewakili wajah pengelolaan sampah di kawasan pusat bisnis dan ekonomi. Seluruh rangkaian observasi ini kemudian dirangkum dalam sesi diskusi mendalam di salah satu cafe yang berada di jalan Andi Djemma Makassar.
Bersama tenaga ahli Klikhijau, Nurhadji Madjid, S.T. bersama tim PT BIA menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang menjadi cetak biru implementasi di Merauke.
Bagi perusahaan visioner, limbah bukanlah liability (beban), melainkan aset ekonomi tersembunyi. Dengan mempelajari ekosistem sirkular di Makassar, PT BIA memiliki momentum strategis untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin agroindustri berkelanjutan di Indonesia Timur.
“Para peserta sangat antusias. Mereka tidak hanya bertanya tentang teknis pengolahan, tapi juga mendalami model manajemen dan bagaimana menggerakkan partisipasi pekerja serta masyarakat sekitar,” tambah Umy Qalzum.
Melalui Organic Insight Field Trip, PT BIA telah menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya mengambil hasil bumi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistemnya. Perjalanan ini adalah bukti bahwa transisi menuju ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi, pengetahuan, dan kemauan untuk turun langsung ke lapangan.
Dari Makassar, sebuah benih inovasi kini dibawa menuju Merauke. Jika berhasil diimplementasikan, PT BIA akan tercatat sebagai perusahaan yang mampu mengubah wajah limbah organik menjadi simbol kemakmuran baru bagi lingkungan dan masyarakat Papua Selatan.





