Beranda blog Halaman 21

Mempertanyakan Ulang Kekitaan

0
Mempertanyakan Ulang Kekitaan-Foto: ilustrasi

Intens.id – Kita hendak disuarakan oleh siapa ditengah chaos hari ini. Keadaan yang tanpa batas, definisi, dan identitas. Keadaan komunikasi yang terdistorsi. Kita telah berada pada kondisi batas yang kian kabur.

Kita tidak lagi bisa membedakan presiden sebagai lembaga dengan presiden sebagai kepala negara.

Kita tidak lagi bisa membedakan prinsip dengan asas. Kita tidak lagi bisa membedakan ahli dengan amatir. Kemampuan-kemampuan inilah yang telah hilang diantara kita. Raib dan tidak kunjung dicari keberadaannya.

Sialnya lagi, menyuarakan batas kabur tersebut kian jauh. Distingsi (derajat perbedaan) tidak lagi mampu menjadi lilin keyakinan. Diantara kita yang tersisa hanya ignorant, yang tersisa hanya sebagai individu yang tidak memiliki kemampuan mengetahui fakta penting. Bahkan kita tidak mampu membedakan mana kepentingan publik dan mana kepentingan golongan.

Apa yang terjadi ketika kita kehilangan kemampuan tersebut? Kita tidak lagi mampu melihat diri sendiri melalui mata orang lain.

Selama bukan kita yang menjadi korban atas polusi, maka kita tidak lagi bersuara soal negara bertanggung jawab atas lingkungan yang sehat.

Selama bukan anak-anak kita yang terkena stunting, kita tidak lagi menyuarakan hak atas jaminan sosial.

Selama bukan kita yang kehilangan akses pendidikan, kita tidak lagi mengkritik akses pendidikan yang tidak merata.

Selama bukan kita korban dari pengabaian bpjs kesehatan hingga meregang nyawa, kita tidak lagi menyuarakan akses kesehatan yang kian diskriminatif dan mahal.

Selama bukan kita korban pelecehan, kita tidak lagi menyuarakan betapa pedihnya menjadi penyintas bahkan tidak lagi menyuarakan ruang aman bagi korban.

Selama bukan kita korban dari penyerobotan lahan, kita tidak lagi meringis kehilangan rumah sumber penghidupan.

Selama bukan kita yang dipersekusi, kita tidak lagi menyuarakan betapa sialnya kehilangan hak.

Selama bukan kita korban ketidakadilan hukum, kita tidak pernah menyuarakan bahwa keadilan harus ditegakkan walau langit akan runtuh “fiat justitia ruat caelum”.

Selama bukan kita yang dibungkam, dibreidel, kita tidak lagi berteriak fasisme.

Selama bukan kita yang gagal maka kita tidak lagi berempati atas nanar keadaan yang usaha menghianati hasil.

Selama bukan kita…

Bukankah dengan semua ini sudah saatnya kita mempertanyakan ulang, layakkah kita disebut sebangsa setanah air?

Sampai kapan rasa kekitaan terus hilang?

Sampai kapan pasif dengan semua ini?

Sikap pasif, pesimis, netral, sama saja bersepakat membiarkan penindasan, ketidakadilan, diskriminasi terus terjadi.

Mari kembali menemukan kemampuan tersebut. Kemampuan membedakan. Kemampuan merasakan. Kemampuan meragukan. Kemampuan mempertanyakan. Dengan itu semua kita mampu kembali merasakan khasiatnya berbhineka, dan kita punya banyak cara untuk memulainya.

Memulai kemampuan tersebut kita dapat dengan terang, jelas mengetahui apa peran yang dapat diambil melihat kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada ruang publik yang rasional.

Ruang publik yang berdasar pada legitimasi kekitaan, bukan atas nama golongan. Legitimasi publik yang diperoleh melalui konsensus rasional atas nama kedaulatan rakyat.

“Sungguh tidak rasional jika anak-anak kita mendapatkan makanan gratis seharga Rp. 10.000 namun kita selaku orang tua dipajak 12%. Lebih aneh lagi belum berkeluarga, ibaratnya kita sudah tidak merasakan enaknya ngewe halal eh malah disikat duluan dengan bringas oleh negara”.

Melalui kemampuan tersebut mampu menilai bahwa bukan perihal kebenaran atau kesalahannya, tetapi perihal kemanjurannya, keberhasilannya dalam menyatukan kepentingan dari suatu kelas, kelompok, dan gerakan lain ke dalam kepentingan mereka sendiri dengan tujuan membangun kehendak kolektif rakyat secara nasional.

Kita bangsa yang lahir melalui falsafah tepa selira-senasib sepenanggungan, dan negara wajib berdiri di atas falsafah tersebut. Kapan negara dalam hal ini diwakili oleh lembaga negara gagal merepresentasikan falsafah tersebut maka kita berhak merampasnya kembali, bahkan jika perlu kita revolusi. Jika Perlu.

Gogol

0

Intens.id – Manusia memang rumit, kita mempelajarinya sepanjang waktu namun tetap absurd. Tetapi demikian  tidak membuat kita berhenti untuk meraba kembali, mencari tahu apa dan bagaimana sebenarnya manusia.

Segala pencarian adalah jalan mengenal diri yang sejati. Ada: kebingungan, kekeliruan, blunder, afirmasi, anasir, taksa, yang selalu merengek dan menolak untuk tidak dininabobokkan.

Tunggu, apa yang kita bicarakan ini? Jika dilanjutkan sepertinya ini akan sedikit serius. Bukankah terlalu melelahkan segala keseriusan itu?

Baiklah mari kita coba mulai meraba manusia dengan sedikit ketidaktegangan, dengan bahasa yang membuat kita menapak bumi karena kita masih menolak menuju surga.

Begini…

Suatu waktu aku bertemu dengan Gogol, aku menyapanya…

“tu veux jouer avec moi?”

Gogol terbahak-bahak, ia tertawa merdeka, semacam kebahagiaan mengutuk kekasih yang meninggalkannya namun datang memohon kembali.

“Вы хотите поиграть со мной”?

Wahai Gogol, aku telah menyapamu dengan dua bahasa. Tentulah engkau mengerti bahasamu sendiri.

Gogol lantas mendekat, mencium bibirku. Melumat dua kali dengan napas yang tertahan namun begitu piawai. Aku melihatnya dengan jelas. Aku enggan menutup mata. Ini pelecehan. Bukan suatu hal yang harus aku nikmati.

Kamu tahu, kamu ini aneh! Seru Gogol.

Kita baru saja berpapasan lantas mengajakku bermain, dan bagaimana mungkin aku tidak tertawa dengan keadaan itu.

Kamu juga aneh Gogol, aku hanya mengajakmu bermain, objek permainan tidak aku tawarkan, kenapa engkau tetiba menggulung bibirku.

Bukankah ciuman juga permainan? Tanya Gogol.

Tidak Gogol, permainan hanya disebut permainan ketika dua subjek sepakat bahwa itu adalah permainan.

Kamu terlalu strukturalis. Pria tidak menyukai itu.

Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pria Gogol!

Berarti ciuman tadi seharusnya tidak memberatkanmu. Tatap Gogol.

Keberatan itu tidak melekat pada subjek atau objeknya, tapi ketidakkonsensusan. Ah sialan kamu Gogol.

Jangan mengumpatiku, aku ini sastrawan, ini bukan maksud unjuk gigi. Tapi aku memintamu untuk hati-hati dengan ucapanmu. Aku takut namamu akan abadi hingga dibaca Dostoyevsky dan Tolstoy.

Maukah engkau menciumku kembali? Tanyaku.

(Gogol memutar wajahnya, tangan kanannya menyentuh dagu dan sisi atas leherku)

(Pada saat wajah Gogol mendekat aku memalingkan wajah lalu menghadapnya kembali),

Tidak Gogol, tawaran tadi guyonan. Aku tidak menawarimu ciuman. Aku hanya mengajakmu menyadari kembali bahwa kamu tak ubahnya laki-laki di luar sana, kamu bukan sastrawan Rusia, kamu hanya Gogol yang tidak tahu bahasa Prancis.

Gogol adakah engkau hendak mendengarku?

Sampaikanlah, meskipun guyonanmu tadi sempat membuatku hendak sedikit liar. Ucap Gogol.

Gogol, aku penasaran berapa banyak diantara kita yang gagal membersamai orang-orang yang kita cintai dikala kegagalan menggamit mereka.

Aku penasaran berapa banyak orang tua yang bangga dengan pencapaian anak-anaknya namun gagal memeluk anaknya ketika dunia sedang tidak berpihak.

Gogol, aku penasaran berapa banyak saudara yang menopang saudaranya yang lain namun gagal menopang ketika ketakramahan menolak berpihak.

Gogol, apakah penasaranku itu aneh. Aku begitu sedih, aku hendak marah.

Jika aku menjawab ini, kamu akan mengetahui bahwa betul aku bukan Gogol. Karena Gogol tidak mungkin mengutip Nietzsche. Nietzsche says, don’t judge life, don’t dare to judge life. He says it’s awful, who are all these guys who are judging life? What does that mean? By what right do you dare to judge life?

Tunggu, kenapa Gogol tidak mungkin mengutip Nietzsche?

Tanya Gogol, jangan tanya aku.

Kamu Gogol. Seruanku.

Bukan, aku bukan Gogol, sebagaimana maksudmu tadi, aku tak ubahanya laki-laki diluar sana.

Memang kenapa laki-laki diluar sana? Tanyaku.

Ia punya ipk 2.3 namun memimpin perempuan seperti dirimu.

Aarrghhtttt, sialan kamu Gogol.

Kamu yang sial.  Jamanmu yang pahit. Ucap Gogol dengan memelas.

Ingat ini, jika perahumu terbawa arus, mungkin akan terjadi tabrakan, namun tabrakan tersebut berfungsi untuk membatasi dan menyamakan kedudukan, namun tidak untuk menetralisir atau menentang. Karena netral ditengah jamanmu hari ini sama saja engkau telah berpihak kepada penyebab kekacauan. Sambungnya.

Ah sudahlah Gogol. Aku mulai membencimu. Ucapku sembari meninggalkannya.

Tunggu, dengar ini dulu

Kita semua dikelilingi oleh orang-orang yang membenci manusia. Namun kita juga bertemu mereka sepanjang waktu, dan sungguh menakjubkan, ini semacam wacana yang memadukan  sikap sinis dengan basa-basi yang begitu ekstrem.

Увидимся позже, Ева

Aku tahu Gogol, sampai jumpa.

“Man is a mystery: if you spend your entire life trying to puzzle it out, then do not say that you have wasted your time. I occupy myself with this mystery, because I want to be a man”. Dostoyevsky  

 

Fenomena Bakal Kenaikan Pajak 12% Hingga Rasionalitas Perempuan

0

“Bagaimana jadinya jika visi misi karakter suatu bangsa menjadi bagian komoditas bisnis?”

Intens.id – Penghujung akhir tahun kita mendapatkan kado yang mencekik dengan bakal kenaikan pajak 12%. Mengapa  kado? Karena tentulah ini akan menjadi penghargaan, pemberian, hadiah kepada kelompok tertentu. Yah kelompok tertentu. Sedang mencekik inilah yang akan kita nikmati bersama.

Pajak 12% bukanlah hal yang besar ketika kita bandingkan dengan negara lain, tapi mengapa seolah ini akan besar nerakanya? Padahal jika research tujuan pajak digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, yang outputnya kesejahteraan masyarakat.

Atau dengan kata lain semakin besar pajak maka kesejahteraan masyarakat akan semakin besar pula. Lantas mengapa kita semua menjerit dengan kenaikan ini? Ini menandakan lanskap gaungan atas nama kesejahteraan publik melalui pajak tidak kita rasakan.

Pendidikan kian mahal, akses kesehatan menjadi barang luxury, ruang publik seperti perpustakaan umum, ruang terbuka hijau, transportasi umum yang nyaman menjadi barang langka.

Pajak alih-alih digunakan untuk memperbanyak jalur kereta api justru pemerintah memilih memperbanyak jalan tol.  Pada akhirnya kepublikan yang dihasilkan bukan lewat solidaritas, ini hanyalah kepentingan yang berkedok kepublikan (seolah atas nama kepentingan umum) padahal hanya mengenyangkan kepentingan kelompok elit.  Yah misi karakter bangsa hari ini menjadi bagian komoditas bisnis.

Belum lagi garibnya keadilan. Bahkan hierarchy tertinggi hari ini ialah “No viral no justice”, tidakkah ini sangat konyol. Bahkan sesekali saya penasaran apakah orang-orang yang sedang dan pernah sekolah hukum bisa tidur nyenyak dengan pemerkosaan akses keadilan tersebut.

Tentulah kita semua telah kehilangan ‘muka’. Makanya sangat wajar dan normal ketika kita semua mengutuk kenaikan pajak tersebut yang notabenenya tidak lagi mampu  memberikan akses yang sama.  Kita dipunguti terlalu banyak namun hasilnya hanya naik anjing. Iya naik anjing.

***

“Bagaimana jadinya jika perempuan memutuskan tidak melahirkan bayi?”

Jumlah total perempuan di Indonesia menurut BPS ialah 136.384.845, dengan total usia 20-49 tahun sebanyak 43.271.378. Dari total tersebut jumlah perempuan yang menikah hanya sebanyak 4.393.039. Sekaligus ini merupakan persentase pernikahan yang terendah di 10 tahun terakhir.

Tren penurunan pernikahan sebagai reaksi perempuan terhadap ketidakpercayaan  melihat partner hidup, fatherless, konstruksi sosial, mahalnya biaya rumah tangga, besarnya biaya membesarkan anak.

Bahkan dari 4,3 juta pernikahan sebanyak 71 ribu perempuan memilih childfree. Kini negara seperti China, Korea, Jepang mengalami hal yang serupa dan  berupaya keras membujuk perempuan untuk menikah dan memiliki anak dengan menyediakan fasilitas yang sangat baik.

Indonesia mengalami fenomena yang sama meskipun dampaknya akan mulai besar di tahun 2050. Terbukti dengan angka kelahiran semakin menurun. Total Fertility Rate (TFR) tahun 1971 sebanyak 5,61 atau seorang perempuan melahirkan sekitar 5-6 anak selama masa reproduksinya.

Tahun 1990 TFR 3,1 atau seorang perempuan melahirkan tiga anak. Tahun 2023 TFR 2,18 setara seorang perempuan melahirkan 1 atau 2 anak. Dan  tahun 2050 TFR diproyeksikan akan turun menjadi 1,95 anak per perempuan. Negara hari ini belum mampu melihat akibat kekacauan tersebut terbukti dengan kebijakan kian konyol, termasuk menaikkan  pajak 12%.

KB hari ini bukan lagi crot di luar, dengan spiral atau IUD, tapi dengan melihat biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, biaya fun, food, fashion. Bahkan ketika memutuskan hendak menjadikan anak memiliki kualitas yang baik maka bayarannya akan jauh lebih fantastis.

Bayangin membesarkan anak perempuan saja hari ini akan menghabiskan berapa banyak coba? Saya sangat yakin perempuan kelas menengah hari ini setidaknya mengeluarkan biaya skincare perbulan paling sedikit 500 ribu (sebelum pajak 12%, setelah kenaikan akan lebih banyak lagi) belum biaya fashion, belum makan, belum healing, belum ngekafe, dan diantara semua itu paling sial ketika perempuan melek buku karena setidaknya akan mengeluarkan biaya 500-1 juta/bulan dengan tingkat adiksi yang jauh lebih besar.

Hal itu baru introduction, belum tetekbengek yang lain, belum ketika tiba-tiba ada trend labubu, trend fashion lari, fashion gunung, belum trend coklat dubai. Dan jangan berharap perempuan tidak mengikuti trend tersebut ketika perempuan tidak memiliki consciousness yang baik. Dan semua trend-trend tersebut dikenai pajak. Silahkan total sendiri butuh biaya berapa banyak untuk itu semua. Dan sepertinya akan semakin banyak pemuda/i yang enggan mengambil peran tersebut.

Perempuan memutuskan tidak mengambil peran untuk melahirkan anak adalah reaksi rasional terhadap apa yang terjadi. Keputusan tersebut sebagai reaksi setelah melihat akibat-akibat yang terjadi. Keputusan tersebut bukan sentimen belaka. Karena sentimen berupa reaksi dengan mereduksi terlebih dahulu kebenaran sebelum mencari, menetapkan, dan bereaksi terhadap kebenaran tersebut. Sedangkan keputusan perempuan ditetapkan setelah mencari kebenaran hingga sebab akibat yang terjadi.

Fenomena-fenomena demikian yang membuat perempuan enggan melahirkan anak. Jika dahulu apropriasi tubuh perempuan dimulai dari rahim maka, hari ini rahim digunakan untuk kembali merampas dan mengembalikan hak-hak sosial, termasuk hak publik melalui pajak.

 

 

PT AHB Kabaena Disinyalir Lakukan Penambangan Ilegal, LSM Lingkar Tambang (FPR, GMPS Sultra) Angkat Suara

0

INTENS.ID, KABAENA – MINGGU,10/11/ 2024, Kelompok Mahasiswa dan Masyarakat Talaga Raya, menduduki beberapa ruas jalan menuju tempat penambangan. Hal ini dilakukan warga terkait lahan yang belum di bayar lunas oleh pihak perusahaan.

“Lahan kami diambil, tapi semua ganti rugi belum terselesaikan dan yang kami dengar justru menguap begitu saja tanpa ada solusi yang jelas,” Ucap Gusnawan selaku pemilik lahan,

Koordinator lapangan GMPS SULTRA Riswan, menambahkan bahwa PT AHB KABAENA sampai saat ini polemik tentang pembebasan lahan masyarakat belum terselesaikan.

“Sementara dalam UU MINERBA No 3 tahun 2020 pasal 1 dan 2 menjelaskan bahwa pihak perusahaan tambang dalam melakukan proses eksplorasi dan eksploitasi wajib menyelesaikan hak atas tanah kepada yang berhak, Namun pada faktanya pihak perusahaan belum menyelesaikan kompensasi pembebasan lahan secara menyeluruh kepada kelompok masyarakat Talaga Raya” Ungkapnya

Tak hanya itu, hal ini ikut di suarakan oleh salah satu Aktivis Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muslim Buton, selaku koordinator lapangan

“Aktivitas pertambangan yang di lakukan oleh PT AHB KABAENA kami sinyalir beroperasi di luar IUP, hal ini jelas sekali bisa kita lihat menggunakan aplikasi Minerba One Maps (Momi),” Ucap Masfandi

Foto lokasi tambang

Kemudian dari itu Mahasiswa serta masyarakat dalam waktu dekat akan melakukan aksi di depan Polda, GAKUM serta KLHK apabila hal ini tidak di tindak lanjuti dengan segera

“Dalam waktu dekat kami memastikan diri akan melakukan aksi di depan Polda serta Kejaksaan tinggi untuk meminta APH segera menindaklanjuti terkait dugaan pelanggaran ini sebagai di atur dalam, UU MINERBA NOMOR 03 TAHUN 2020.pasal 35 dan pasal 158 tentang ketentuan pidana bagi setiap perusahaan yang melakukan penambangan di luar IUP,” Tambahnya

Sampai dengan berita ini dirilis belum ada konfirmasi dari pihak perusahaan ketika di hubungi via WhatsApp.(*)

SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar Gelar Webinar Mengenalkan Beasiswa Bank Indonesia

0

SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar kembali melaksanakan webinar “RANUM” pada Kamis (7/11/2024). Kegiatan yang diselenggarakan melalui zoom meeting tersebut membahas mengenai Beasiswa Bank Indonesia.

Andi Zahrah, selaku narasumber menjelaskan jika tujuan dari Beasiswa Bank Indonesia untuk meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi, indeks pembangunan manusia dan daya saing bangsa.

Selain itu tujuannya lainnya adalah meningkatkan prestasi mahasiswa baik dalam bidang akademik dan non akademik sehingga mampu menghasilkan SDM yang berkualitas.

“Jadi Beasiswa Bank Indonesia memberikan penerimanya ruang yang besar untuk dapat kreatif, mandiri, produktif serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” jelas Aya, yang merupakan mahasiswa Universitas Negeri Makassar.

Terdapat dua kategori Beasiswa Bank Indonesia yakni unggulan dan reguler. Untuk unggulan sendiri, terang Aya hanya terdapat di Universitas Hasanuddin untuk Sulawesi Selatan. Sedangkan beasiswa reguler sendiri di Sulawesi Selatan terdapat di tiga kampus yakni Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar dan UIN Alauddin Makassar.

“Yang membedakan beasiswa unggulan dan reguler adalah dari segi jumlah pendanaan yang kita dapatkan. Unggulan mendapatkan 18 juta per tahun sedangkan reguler mendapatkan 12 juta per tahunnya,” ujarnya.

Kriteria calon penerima Beasiswa Bank Indonesia. (Sumber: Bank Indonesia)

Aktif Berkegiatan

Beasiswa Bank Indonesia sendiri mensyaratkan penerimanya tergabung dalam komunitas Generasi Baru Indonesia atau biasa disingkat dengan genBI yaitu komunitas para penerima beasiswanya.

“GenBI adalah komunitas penerima Beasiswa Bank Indonesia yang berfokus dalam peningkatan SDM yang kreatif mandiri dan produktif,” terang Aya.

Salah satu yang membuat Beasiswa Bank Indonesia menarik adalah manfaat langsung yang dirasakan oleh penerimanya melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh genBI. Sehingga menurutnya hal itu membuat kapasitas diri dan kualitas individu semakin meningkat.

“Beasiswa ini tidak hanya memberikan manfaat bagi penerimanya, tetapi memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas,” ujarnya.

Selain itu keaktifan di genBI juga memungkinkan peluang untuk mendapatkan kembali beasiswa di tahun berikutnya. Beasiswa Bank Indonesia sendiri didapatkan per tahun dan bisa mendapatkan diri lagi untuk tahun kedua.

“Setiap kampus dalam setiap 1 periode akan memberikan rekomendasi. Teman-teman dianggap aktif dan memungkinkan akan aktif lagi dalam bergabung di GENBI adalah salah satu penentu untuk bisa diterima tahun berikutnya,” terangnya.

Terakhir, ia mendorong para siswa yang hadir untuk aktif berkontribusi terhadap masyarakat. Melalui kegiatan sosial dapat menumbuhkan jiwa kepedulian dan berdampak nyata.

“Seberapa besar kita peduli dengan lingkungan sekitar akan menjadi pertimbangan dalam mendapatkan Beasiswa Bank Indonesia,” tandasnya.

Proyek Konstruksi di SMAN 1 Baubau Dikritik Mahasiswa, Dinilai Abaikan Standar K3 dan Timbulkan Polusi Debu yang Ganggu Masyarakat

0

Intens.id, Baubau – Proyek konstruksi yang tengah berlangsung di area SMAN 1 Baubau mendapat sorotan tajam dari kalangan mahasiswa yang kritis terhadap penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mahasiswa menyoroti minimnya kepatuhan terhadap standar K3 pada proyek ini, yang tidak hanya mengabaikan keselamatan pekerja tetapi juga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Material konstruksi diangkut tanpa penutup terpal, sehingga debu bertebaran dan mengganggu kenyamanan publik dan sebagainya.

Andi menyatakan keprihatinan atas sikap pengawas lapangan yang dianggap kurang peduli terhadap keselamatan publik, terutama mengingat proyek ini berada di lingkungan pendidikan. Mereka menegaskan bahwa pengawas lapangan harus bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan publik terkhususnya warga yang beraktivitas disekolah. “Proyek di dekat fasilitas pendidikan seharusnya memenuhi standar keamanan tertinggi. Debu dan polusi seperti ini menciptakan lingkungan yang tidak sehat bagi siswa, dan kami menilai pengawas lapangan lalai dalam tanggung jawabnya,” ungkap Andi salah satu perwakilan SATKAR Ulama Indonesia Kota Baubau

Kritik keras juga ditujukan kepada instansi pemerintah dan pihak terkait yang bertanggung jawab dalam pengawasan proyek ini. Andi menilai pengawasan K3 di lapangan tidak berjalan optimal, yang memungkinkan terjadinya pelanggaran seperti ini. Naim dari SATKAR Ulama Indonesia Kota Baubau, mengungkapkan bahwa pihak pengawas seharusnya berperan lebih aktif dalam memantau kepatuhan K3 di setiap proyek konstruksi, terlebih di lokasi yang berdampak langsung pada institusi pendidikan. “Pengawasan yang lemah hanya akan memicu pelanggaran berulang. Perlu ada tindakan tegas bagi yang mengabaikan standar K3,” tegas Naim.

Kebakaran Rumah Warga Diduga Akibat Kelalaian Kompor Menyala

0

Intens.id, Buton – Satu unit rumah di Jalan Syekh Salim Desa lasalimu, Kecamatan Lasalimu Selatan, Buton, dilaporkan kebakaran, jumat (01/11/2024), siang.

Kebakaran tersebut diduga terjadi akibat kompor yang dibiarkan menyala dan tidak diawasi. Api dengan cepat membesar dan melalap sebagian besar bangunan sebelum akhirnya dapat dipadamkan oleh masyarakat setempat .

Menurut keterangan warga sekitar, kejadian bermula ketika pemilik rumah diduga meninggalkan kompor tunggku dalam keadaan menyala tanpa pengawasan. Beberapa menit kemudian, api mulai menyebar ke bagian dapur dan merambat ke ruangan lain. Kobaran api baru berhasil dikendalikan sekitar pukul 16 : 00 WITA, setelah masyarakat dan pemerintah desa setempat berupaya memadamkan api dengan alat seandanya.

Salah satu korban, Melly, mengatakan bahwa api terlihat dari bagian dapur rumah pada sekitar pukul 13.00 WITA. “Saya melihat asap mengepul dari dapur rumah, dan tak lama kemudian api sudah mulai menjalar, saat itu saya langsung berlari keluar rumah sembari meminta pertolongan warga,” ujar Melly.

Akibat kebakaran ini, kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun pemilik rumah mengalami syok ringan dan segera mendapatkan perawatan. (*)

Nobar Debat & Diskusi “Debat Kedua Pilgub Sultra 2024” Berhasil Digelar oleh DPD Pejuang Indonesia Maju (PENEMU) Sulawesi Tenggara

0

Kendari, 1 November 2024 – DPD Pejuang Indonesia Maju (PENEMU) Sulawesi Tenggara sukses mengadakan acara Nobar Debat dan Diskusi “Debat Kedua Pilgub Sultra 2024: Kesejahteraan, Peningkatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur Berkualitas” yang berlangsung di Universe Cafe pada hari Jumat, 1 November 2024. Acara ini dihadiri oleh berbagai panelis dan terbuka untuk umum, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam diskusi politik yang konstruktif.

Acara ini menarik perhatian banyak audiens, dengan penawaran gratis minuman untuk 40 peserta pertama. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang ramah dan inklusif bagi semua yang hadir. Dalam debat tersebut, setiap pasangan calon (paslon) menunjukkan penguasaan materi yang baik; namun, Matin sang Ketua DPD PENEMU Sultra, salah satu panelis, menyoroti bahwa terdapat isu penting yang tidak dibahas dalam debat tersebut. Ia menyatakan, “Secara umum setiap paslon menguasai materi debat, akan tetapi ada satu isu penting yang tidak diangkat yaitu mengenai BRICS. Padahal hal ini berkenaan dengan tema yaitu kesejahteraan.”

Matin menjelaskan lebih lanjut bahwa jika Indonesia resmi bergabung dengan BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa), hal ini dapat membuka peluang investasi baru, memperluas pasar internasional, dan menguatkan ekonomi domestik. Ini tentu saja akan berdampak positif bagi Provinsi Sulawesi Tenggara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, Matin menekankan pentingnya memberdayakan masyarakat untuk menjadi pengusaha sebagai langkah strategis dalam mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran. Ia menegaskan bahwa DPD Pejuang Indonesia Maju (PENEMU) Sulawesi Tenggara berkomitmen untuk mendukung pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan diadakannya kegiatan ini, DPD PENEMU Sultra berharap agar pemilih muda dapat lebih teredukasi mengenai calon-calon yang akan mereka pilih. Acara ini bukan dimaksudkan untuk memihak salah satu paslon tertentu; melainkan sebagai forum diskusi konstruktif untuk masa depan Sulawesi Tenggara tercinta.

DPD PENEMU Sultra mengajak seluruh masyarakat untuk terus aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi dan mendukung dialog terbuka demi kemajuan daerah.

Workshop Pengembangan Modul Digital di UNM, Dosen Dilatih Rancang Pembelajaran Berbasis Proyek

0
Pembukaan kegiatan workshop pengembangan modul berbasis Project Based/Case Method di Universitas Negeri Makassar. (Foto/Instimewa)

Universitas Negeri Makassar melanjutkan program kerjasama dengan SEAMOLEC. Di bawah Pusat Pengembangan Kurikulum, Pusat Sumber Belajar, Media dan Evaluasi Pembelajaran LP2MP UNM telah dilaksanakan kegiatan Wokshop Pengembangan Modul Digital Berbasis Cased Method / Project Based dengan melibatkan dosen sebanyak 113 peserta di Lt. 13 Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar.

Dosen yang turut serta merupakan utusan perwakilan masing-masing fakultas di Universitas Negeri Makassar. Workshop pengembangan modul itu dibuka pada 29 Oktober 2024 secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNM, Prof. Dr. Aslinda, M.Si .

Kegiatan dilanjutkan dengan materi serta praktik hingga 31 Oktober 2024 didampingi Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum, PSB, Media dan Evaluasi Pembelajaran, Dr. Arnidah, S.Pd., M.Si bersama Prof. Dr. Arsad Bahri, M.Si (Ketua LP2MP UNM) dan Hartoto, M.Pd (Koordinator SYAM-OK UNM) mendampingi Tim SEAMOLEC yang kali ini mengutus Mr. Timbul, Mr. Sodikin, Mr. Ali dan Ms. Dania ke Universitas Negeri Makassar.

Wakil Rektor Bidang Akademik dalam sambutannya, menghimbau agar seluruh peserta dapat memanfaatkan peluang yang ada dengan baik dan memaksimalkan untuk merancang modul yang nantinya dapat dipergunakan sebagai acuan belajar mengajar di mata kuliah masing-masing dosen peserta. Selanjutnya dapat menjadi penyambung tongkat estafet untuk meneruskan pengetahuan ini di fakultas masing-masing.

Kapus Kurikulum LP2MP UNM  menambahkan “Sebagaimana anjuran WR1 UNM, Bapak dan Ibu dosen memilih satu mata kuliah yang akan dipilih untuk dikembangkan ke dalam bentuk modul. Memastikan satu RPS dan  SAP yang telah dipersiapkan. Selalu memperhatikan CPMK dengan turunannya yakni Sub-CPMK, hingga Indikator dan Tujuan Pembelajaran pada mata kuliah masing-masing,” terangnya.

“Dengan harapan agar modul lebih spesifik dan komponen yang diperlukan untuk melengkapi isi modul ajar lebih bernilai guna dan selaras, hingga menghasilkan luaran produk Modul Digtital Micro yang sesuai ketentuan dari SEAMOLEC sebagai prasyarat penerbitan sertifikat bagi peserta workshop ini,” tambahnya.

Kegiatan Workshop yang berlangsung luring selama tiga hari ini, dibersamai Tim SEAMOLEC memberikan pengarahan agar produk yang dihasilkan runut, dengan memanfaatkan aplikasi yang telah disediakan, seluruh peserta memiliki tantangan harian oleh narasumber yang perlu dipenuhi.

Diantaranya melakukan submitting RPS/CPMK serta SAP, implementasi  video dan penerapan gamifikasi sebagai upaya produksi modul yang lebih interaktif. Beberapa aplikasi dan software baru juga diperkenalkan oleh Tim SEAMOLEC bagi para Peserta untuk melengkapi komponen isi modul.

“Di luar ekspektasi bahwa peserta yang mengikuti workshop kali ini mencapai jumlah ratusan, harapannya peserta dapat benar-benar mengikuti seluruh rangkaian materi hingga akhir dan memahami dengan baik. Namun meski praktik dilaksanakan selama 3 hari, peserta dapat memaksimalkan produksi modul hingga sepekan kemudian untuk mengupload produk melalui etraining SEAMOLEC. Yang perlu dipastikan juga adalah CPMK yang dipilih ialah topic yang berbasis projek based/ case method,” ungkap Mr. Tim.

Seluruh peserta yang melakukan submitting link produk modul itu tidak serta merta automatis mendapatkan kesempatan diterbitkan sertifikatnya oleh pihak SEAMOLEC, melainkan kepatutan adanya revisi hingga kelayakan penerbitan sertifikat dikirimkan ke email peserta yang produk modulnya telah tervalidasi. Sebab tim SEAMOLEC juga telah mensosialisasikan skoring / poin pemenuhan komponen modul yang telah disepakati bersma para peserta di awal kegiatan workshop pengembangan modul yang berbasis PBL/Case method itu.

Antusiasme dan keseriusan peserta mengikuti kegiatan terlihat hingga hari ketiga, melalui penampilan presentasi produk oleh beberapa dosen. Peserta dan pelaksana dapat tetap melanjutkan diskusi dan komunikasi melalui fasilitas whatsapp group yang disediakan serta fitur konsultasi melalui laman etraining SEAMOLEC.

“Peserta yang berhasil menyelesaikan Draft Modul Digital Micro dan memperoleh sertifikat dari SEAMOLEC, kedepannya tidak menutup kemungkinan akan dilibatkan untuk menjadi fasilitator dalam program pelatihan/workshop Micromodul di Universitas Negeri Makassar,” ungkap Prof. Dr. Arsad selaku Ketua LP2MP UNM yang menutup kegiatan luring Workshop.

SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar Berbagi Pengetahuan Beasiswa Kepada Siswa Melalui Ranum

0

Pendidikan menjadi pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia menjadi berkualitas. Di tengah persaingan yang semakin ketat, menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan akademik dan keterampilan.

Melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi adalah langkah dalam meningkatkan kualitas generasi muda. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk membiayai pendidikan tinggi, salah satunya melalui beasiswa.

Melihat pentingnya hal tersebut, SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar menggelar webinar RANUM “Rancang Aksi Untuk Masa Depan”. Kegiatan yang digelar pada Kamis (24/10/2024) ini mengangkat tema Tips Lulus Esai Beasiswa Unggulan.

Ummu’ Athiyah Sudirman, narasumber webinar menjelaskan jika beasiswa unggulan merupakan beasiswa yang diberikan oleh negara dengan memberikan kesempatan kepada individu terbaik untuk melanjutkan studi pendidikan tinggi dengan biaya negara.

“Jadi beasiswa unggulan ini salah satu jalan yang bisa kita tempuh untuk berkuliah dengan dibiayai negara,” ujar Ummu, yang merupakan peraih beasiswa unggulan tahun 2021.

Mahasiswa Pendidikan Matematika ICP UNM ini juga menjelaskan beberapa hal yang perlu disiapkan untuk mendapatkan beasiswa. Pertama adalah luruskan niat dan hilangkan keraguan. Lalu kemampuan untuk selalu bertanya serta potensi yang harus terus digali.

“Jangan ragu bertanya, ketika kita bertanya kita mau mencari hal baru dan kita mau menggali informasi. Setiap orang pasti dibekali ilmu pengetahuan dan punya kelebihan masing-masing.,” terangnya.

Selain itu ia juga menekankan untuk merealisasikan setiap upaya untuk mendapatkan beasiswa, bukan hanya sekadar kata-kata.

“Jangan sampai cuma terlalu besar omongannya, tapi ternyata tidak ada dilakukan,” tambah Ummu.

Tips Meraih Beasiswa

Beasiswa Unggulan sendiri memiliki 3 jenis beasiswa yakni masyarakat berprestasi, pegawai Kemendikbud-Ristek dan penyandang disabilitas. Ia menekankan pada jenis beasiswa masyarakat berprestasi.

Dari laman Beasiswa Unggulan sendiri dijelaskan jika beasiswa masyarakat berprestasi adalah beasiswa yang diberikan bagi masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang sarjana, magister, dan doktor yang diselenggarakan pada perguruan tinggi dalam negeri atau perguruan tinggi luar negeri.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2020, hingga 2023 tercatat sebanyak 6.384 orang sebagai penerima Beasiswa Unggulan. Jumlah mahasiswa penerima BU yang aktif sendiri sebanyak 4.259 orang.

“Sebanyak 2.275 penerima Beasiswa Unggulan pada jenjang S1/D4 yang aktif di tahun ajaran 2023-2024. Di Sulawesi Selatan sendiri sebanyak 446 penerima beasiswanya,” jelasnya.

Ia juga turut memberikan tips untuk mendapatkan beasiswa. Pertama adalah mempersiapkan kelengkapan berkas dengan baik. Lalu mencari lingkungan yang suportif dan jangan takut bertanya.

“Kita harus menjadi lingkungan yang mendukung kita untuk mendapatkan beasiswa,” tegasnya.

Selain itu penting untuk memperbaiki niat dan meningkatkan kepercayaan diri. Mengembangkan softskill khususnya komunikasi hingga penting adalah untuk berdoa dan meminta restu orang tua.

“Saat akan melamar pekerjaan, yang menjadi pertimbangan adalah pernah mendapatkan beasiswa atau tidak. Ketika kita dapat beasiswa ada cerita tersendiri yang kita punya,” pungkas Ummu.