Beranda blog Halaman 20

Sinergi Lintas Generasi: Memperkuat Peran PMII dalam Dinamika Sosial dan Kebangsaan

0

Intens.id, Kendari – Dalam upaya memperkuat peran intelektual muda dalam dinamika sosial dan kebangsaan, Sekretaris Jenderal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi tenggara, menyoroti peran strategis PMII dalam menjawab tantangan zaman serta kontribusi konkret bagi pembangunan daerah.

Dalam pernyataannya, Masfandi, Sekjend PMII Sulawesi Tenggara, menegaskan bahwa peran kader PMII tidak hanya berhenti pada advokasi mahasiswa, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak perubahan di berbagai sektor.

“PMII harus menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran kritis di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Kita tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam dinamika sosial dan politik, tetapi harus aktif menawarkan solusi yang konstruktif,” ujar Masfandi

Opini bersama ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi di dalam PMII, termasuk sinergi antara kader aktif dan alumni. Beberapa strategi yang bisa kita terapkan, antara lain peningkatan kapasitas kepemimpinan, penguatan kajian akademik, serta peran aktif dalam mengawal kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat.

Dalam kesempatan yang sama, Masfandi, menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan di tubuh PMII harus tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan organisasi yang telah diwariskan oleh para pendahulu.(*)

Climb for the Climate, Media Edukasi SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar Sabet Juara 1 Lomba Esai

0
Siswa SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar Juara Lomba Essaii

SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar kembali menorehkan prestasi. Kali ini siswa mereka mendapatkan juara I pada kategori lomba esai dalam Dies Natalis ke-19 Universitas Mega Rezky Makassar.

Pauline Yonathan dan Devita Sari siswa yang mewakili sekolah mengangkat judul Climb for the Climate: Media Edukasi Krisis Iklim untuk Generasi Muda. Pauline, ketua tim menjelaskan jika media edukasi dilatarbelakangi oleh dampak krisis iklim yang saat ini semakin terasa.

“Beberapa data menunjukkan seperti kenaikan suhu yang saat ini mencapai 1,59°C, lalu kenaikan muka air laut global naik 2-3 mm setiap tahunnya,” terangnya.

Hal tersebut tambah dia, semakin diperparah oleh deforestasi secara global yang berkontribusi aktif dalam pelepasan karbon ke atmosfer.

“Kalau kita melihat data dari WRI, tahun 2023 kita kehilangan hutan tropis sebanyak 3,7 hektar,” ujarnya.

Selain dampak parah dari krisis iklim, sayangnya hal tersebut masih mendapat respon kurang percaya terhadap krisis iklim. Salah satu survei dari Remotivi menunjukkan hanya 37% dari 1.097 yang memiliki kesadaran tinggi terhadap krisis iklim.

Berdasarkan hal tersebut, kedua siswa ini mencoba untuk meningkatkan kesadaran masyarakat khusus pelajar terhadap pengetahuan mengenai dampak krisis iklim. Hal ini juga sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yakni memasukkan Climate Action.

“Merujuk pada SDGs tujuan ke 13 yaitu penanganan perubahan iklim dengan sasaran target ke 3, dalam hal ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak bahaya terjadinya krisis iklim,” jelasnya.

SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar kembali menorehkan prestasi. Kali ini siswa mereka mendapatkan juara I pada kategori lomba esai dalam Dies Natalis ke-19 Universitas Mega Rezky Makassar.

Pauline Yonathan dan Devita Sari siswa yang mewakili sekolah mengangkat judul Climb for the Climate: Media Edukasi Krisis Iklim untuk Generasi Muda. Pauline, ketua tim menjelaskan jika media edukasi dilatarbelakangi oleh dampak krisis iklim yang saat ini semakin terasa.

“Beberapa data menunjukkan seperti kenaikan suhu yang saat ini mencapai 1,59°C, lalu kenaikan muka air laut global naik 2-3 mm setiap tahunnya,” terangnya.

Hal tersebut tambah dia, semakin diperparah oleh deforestasi secara global yang berkontribusi aktif dalam pelepasan karbon ke atmosfer.

“Kalau kita melihat data dari WRI, tahun 2023 kita kehilangan hutan tropis sebanyak 3,7 hektar,” ujarnya.

Selain dampak parah dari krisis iklim, sayangnya hal tersebut masih mendapat respon kurang percaya terhadap krisis iklim. Salah satu survei dari Remotivi menunjukkan hanya 37% dari 1.097 yang memiliki kesadaran tinggi terhadap krisis iklim.

Berdasarkan hal tersebut, kedua siswa ini mencoba untuk meningkatkan kesadaran masyarakat khusus pelajar terhadap pengetahuan mengenai dampak krisis iklim. Hal ini juga sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yakni memasukkan Climate Action.

“Merujuk pada SDGs tujuan ke 13 yaitu penanganan perubahan iklim dengan sasaran target ke 3, dalam hal ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak bahaya terjadinya krisis iklim,” jelasnya.

Media Berbasis Ular Tangga

Melihat berbagai dampak nyata tersebut, kedua siswa berinisiatif untuk membuat media edukasi untuk memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai krisis iklim.

“Kami mengangkat ide untuk membuat media edukasi yang dapat digunakan oleh semua kalangan usia demi memberikan edukasi tentang krisis iklim yang dibungkus dengan permainan ular tangga yang menyenangkan,” kata Pauline, yang juga merupakan ketua OSIS di sekolahnya.

Devita salah satu tim menjelaskan jika permainan ular tangga ini layaknya permainan ular tangga pada umumnya. Namun inovasi yang dibuat adalah dengan menambahkan kartu-kartu yang berisi mengenai informasi seputar krisis iklim.

“Kami menambahkan kartu kesempatan dan tantangan yang berisi pertanyan mengenai krisis iklim lalu dijawab oleh siswa. Jika benar, akan ada reward dengan maju beberapa langkah dan jika salah maka mendapatkan punishment berupa mundur beberapa langkah,” terangnya.

Hal tersebut, kata Devita membuat siswa mendapatkan edukasi krisis iklim dengan cara yang menyenangkan. Selain itu juga mendorong minat belajar siswa untuk mengetahui dampak dari krisis iklim yang saat ini sedang terjadi.

Juara yang mereka dapatkan merupakan hasil dari upaya dalam mengedukasi generasi muda terkait krisis iklim. Di satu sisi, isu krisis iklim juga jarang mereka dapatkan sehingga proses pembuatan ini membuatnya belajar juga mengenai krisis iklim.

“Awalnya sempat ragu apalagi setelah melihat topik yang diangkat yang menurutnya saya cukup asing, karena saya sendiri tidak punya dasar untuk menulis esai. Namun saya sangat bersyukur karna dalam proses pengerjaan esai ini banyak pihak yang mendukung dan tentunya ada pembimbing yang terus  memberikan arahan untuk kami,” terang Devita.

Pauline juga menjelaskan jika proses pembuatan esai ini mendapatkan banyak pembelajaran terhadap dirinya sendiri.

“Berjuang mengatur waktu, menahan lapar, berusaha menstabilkan emosi dan kembali melanjutkan proses. Namun dibalik perjuangan itu, hasil yang didapatkan tidak mengecewakan,” pungkasnya.

Melihat berbagai dampak nyata tersebut, kedua siswa berinisiatif untuk membuat media edukasi untuk memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai krisis iklim.

“Kami mengangkat ide untuk membuat media edukasi yang dapat digunakan oleh semua kalangan usia demi memberikan edukasi tentang krisis iklim yang dibungkus dengan permainan ular tangga yang menyenangkan,” kata Pauline, yang juga merupakan ketua OSIS di sekolahnya.

Devita salah satu tim menjelaskan jika permainan ular tangga ini layaknya permainan ular tangga pada umumnya. Namun inovasi yang dibuat adalah dengan menambahkan kartu-kartu yang berisi mengenai informasi seputar krisis iklim.

“Kami menambahkan kartu kesempatan dan tantangan yang berisi pertanyan mengenai krisis iklim lalu dijawab oleh siswa. Jika benar, akan ada reward dengan maju beberapa langkah dan jika salah maka mendapatkan punishment berupa mundur beberapa langkah,” terangnya.

Hal tersebut, kata Devita membuat siswa mendapatkan edukasi krisis iklim dengan cara yang menyenangkan. Selain itu juga mendorong minat belajar siswa untuk mengetahui dampak dari krisis iklim yang saat ini sedang terjadi.

Juara yang mereka dapatkan merupakan hasil dari upaya dalam mengedukasi generasi muda terkait krisis iklim. Di satu sisi, isu krisis iklim juga jarang mereka dapatkan sehingga proses pembuatan ini membuatnya belajar juga mengenai krisis iklim.

“Awalnya sempat ragu apalagi setelah melihat topik yang diangkat yang menurutnya saya cukup asing, karena saya sendiri tidak punya basic untuk menulis essay, namun saya sangat bersyukur karna dalam proses pengerjaan essay ini banyak pihak yang mendukung dan tentunya ada pembimbing yang terus  memberikan arahan untuk kami,” terang Devita.

Pauline juga menjelaskan jika proses pembuatan esai ini mendapatkan banyak pembelajaran terhadap dirinya sendiri.

“Berjuang mengatur waktu, menahan lapar, berusaha menstabilkan emosi dan kembali melanjutkan proses. Namun dibalik perjuangan itu, hasil yang didapatkan tidak mengecewakan,” pungkasnya.

Mahasiswa Laporkan Dugaan Korupsi Dana BOSP dan Beasiswa PIP SMA 1 Lasalimu Selatan ke Kejati Sultra

0
Mahasiswa Laporkan Dugaan Korupsi Dana BOSP dan Beasiswa PIP SMA 1 Lasalimu Selatan ke Kejati Sultra

Intens.id, Kendari – Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) APBD – AN WATCH menggelar aksi dan resmi melaporkan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lasalimu Selatan ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Laporan tersebut dilayangkan pada Kamis, 23 Januari 2025, atas dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOSP) dan Program Indonesia Pintar (PIP).

Menurut Syafi, koordinator aksi, dugaan korupsi ini mencakup penyimpangan dalam pengelolaan dana BOS dan proyek rehabilitasi gedung sekolah.

Ia menyebutkan, ketidaksesuaian laporan pertanggungjawaban keuangan dengan kondisi sebenarnya di lapangan menjadi alasan utama laporan tersebut.

“Kami menduga ada ketidaksesuaian antara laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah dengan realisasi di lapangan,” tegas Syafi.

Mahasiswa juga mengungkap bahwa kerugian negara yang diduga terjadi mencapai ratusan juta rupiah. Selain itu, dampaknya turut dirasakan langsung oleh siswa karena beberapa fasilitas sekolah yang rusak tidak kunjung diperbaiki meskipun anggaran perbaikan telah dialokasikan.

Berdasarkan dokumen laporan pertanggungjawaban (LPJ) Tahun Anggaran 2024 yang dapat diakses melalui OMSPAN, disebutkan bahwa realisasi dana pada Tahap 1 mencapai Rp14.030.000 dan Tahap 2 sebesar Rp60.353.000.

Namun, hasil investigasi mahasiswa di lapangan mengungkapkan ketidaksesuaian tersebut.

“Hasil advokasi kami menunjukkan bahwa realisasi dana yang disebutkan tidak terlihat penggunaannya di lapangan,” lanjut Syafi.

Tidak hanya dana BOS, mahasiswa juga menyoroti adanya dugaan pungutan liar dalam penyaluran beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP).

Mereka mendapati laporan dari sejumlah siswa yang mengaku harus memberikan uang kepada oknum sekolah setelah menerima potongan beasiswa.

“Berdasarkan penyampaian beberapa siswa, mereka diminta memberikan uang kepada pihak sekolah setelah menerima dana beasiswa. Ini jelas sebuah pelanggaran,” tambah Syafi.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lasalimu Selatan belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp juga tidak mendapat respons.

Mahasiswa mendesak Dinas Pendidikan dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera menyelidiki dugaan ini secara transparan. Mereka juga menyerukan perlunya langkah tegas guna menjaga integritas pendidikan dan memastikan hak siswa terpenuhi.

Kasus ini menjadi sorotan publik, mengingat pentingnya pengelolaan dana pendidikan yang bersih dan bertanggung jawab demi mendukung kualitas belajar-mengajar di sekolah.

Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS dan PIP di SMA Negeri 1 Lasalimu Selatan, Mahasiswa Siap Melapor

0

Intens.id buton, – Dugaan korupsi terkait Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 1 Lasalimu Selatan semakin mendapat perhatian. Saat ini, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) berencana untuk melaporkan kasus ini kepada pihak berwenang.

Ketua AMPP, Muhamad Syafii, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengumpulkan sejumlah bukti awal dan keterangan dari masyarakat serta siswa yang terlibat terkait dugaan penyimpangan dalam pengelolaan dana tersebut. “Kami merasa terpanggil untuk mengambil langkah ini demi menyelamatkan dunia pendidikan di daerah kami. Korupsi dalam pendidikan adalah kejahatan serius yang merugikan generasi penerus bangsa,” tegas Syafii.

Mahasiswa menyoroti dugaan bahwa dana PIP tidak disalurkan secara penuh kepada siswa yang berhak menerimanya. Selain itu, mereka juga menduga adanya mark-up dalam pengelolaan dana BOS yang seharusnya digunakan untuk operasional sekolah, seperti pembelian alat tulis, perbaikan fasilitas, dan kegiatan belajar-mengajar.

Dalam waktu dekat, AMPP berencana menyerahkan laporan resmi kepada Kejaksaan Negeri Sulawesi Tenggara dan Inspektorat. Selain itu, mereka juga akan menggelar aksi damai sebagai bentuk desakan agar pihak berwenang segera mengusut tuntas kasus ini.

“Kami tidak hanya melaporkan, tetapi juga akan terus mengawal proses hukum kasus ini. Kami ingin memastikan bahwa pihak-pihak yang terlibat mendapat sanksi tegas sesuai hukum yang berlaku,” tambah Syafi’i.

Sementara itu, pihak SMA Negeri 1 Lasalimu Selatan hingga saat ini belum memberikan tanggapan terkait rencana pelaporan ini. Kepala sekolah dan pihak manajemen sekolah diharapkan segera memberikan klarifikasi kepada publik untuk mencegah polemik yang lebih lanjut.

Mahasiswa berharap laporan ini dapat menjadi titik awal untuk pembenahan sistem pengelolaan dana pendidikan, khususnya di wilayah Buton. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam mengawasi transparansi penggunaan dana pendidikan.

Kepala Desa Balo Dilaporkan ke Kejaksaan Terkait Dugaan Korupsi Dana Desa

0

Intens.id Bombana, – Kepala Desa Balo tengah menjadi sorotan setelah masyarakat melalui Sjamsuddin Makka melaporkan dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan olehnya. Dugaan tersebut terkait dengan pengelolaan anggaran desa yang diduga tidak transparan dan adanya indikasi penyalahgunaan dana. (18/01/2025)

Menurut laporan yang diterima, dana desa yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan program pemberdayaan masyarakat diduga diselewengkan dan tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya. Beberapa warga mengungkapkan adanya proyek fiktif serta ketidaksesuaian antara realisasi anggaran dengan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan.

Masyarakat Desa Balo, dalam keterangannya, menyatakan bahwa langkah ini diambil setelah keluhan yang mereka sampaikan selama beberapa bulan terakhir tidak mendapat tanggapan yang memadai.

“Kami sudah mencoba meminta klarifikasi dari kepala desa, namun tidak ada respons yang memuaskan. Atas dasar itu, kami sepakat untuk melaporkan kasus ini ke kejaksaan agar ditindaklanjuti,” ujar Syamsudin Makka.

Sejumlah masyarakat Desa Balo juga menyampaikan kekecewaan melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terkait dugaan penyelewengan dana desa. Ketua BPD Desa Balo, dalam keterangannya, menegaskan, “Kami berharap dana desa digunakan untuk kemajuan desa, bukan untuk kepentingan pribadi. Jika terbukti bersalah, kami meminta agar ada tindakan tegas.” ujarnya.

Hingga berita ini terbitkan, pihak pemerintah desa belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Namun, sumber internal mengonfirmasi bahwa laporan tersebut kini sedang dalam tahap verifikasi dokumen dan bukti.

Masyarakat Desa Balo berharap agar kasus ini segera diusut tuntas demi keadilan dan transparansi dalam pengelolaan anggaran desa. Mereka juga berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi para pemimpin desa lainnya untuk menjalankan tugas dengan integritas dan tanggung jawab.(*)

Dugaan Kejanggalan dalam Bukti Transaksi Pertanggungjawaban Anggaran BBM di Satpol PP Kota Baubau

0

Intens.id, Kendari, – Dugaan kejanggalan dalam dokumen pertanggungjawaban anggaran belanja bahan bakar minyak (BBM) yang diajukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Baubau mengemuka.

Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), ditemukan bahwa beberapa nota pembelian BBM yang digunakan sebagai bukti transaksi tidak dapat di yakini dan setelah di konfirmasi ke pihak SPBU tempat pembelian BBM, nota-nota tersebut bukan merupakan nota yang dikeluarkan secara resmi oleh SPBU tersebut.

Hal ini menimbulkan dugaan adanya pemalsuan bukti transaksi untuk menyamarkan kondisi yang sebenarnya dan memunculkan kecurigaan bahwa dokumen tersebut sengaja dipalsukan untuk menutupi penyimpangan.

“Kondisi ini menjadi indikasi adanya upaya untuk menyamarkan realisasi penggunaan anggaran belanja BBM. Meskipun kelebihan pembayaran tersebut akan dikembalikan ke kas daerah, dugaan pemalsuan dokumen pendukung yakni nota transaksi belanja BBM tetap harus ditindaklanjuti,” Ujar Syafi’i ( Jendral lapangan Gembok Demokrasi).

Kemudian Jika dugaan tersebut terbukti bahwa dokumen tersebut sengaja dipalsukan, hal ini dapat melanggar pasal 263 KHUP tentang pemalsuan dokumen yang mengatur tentang pemalsuan data untuk tujuan tertentu. Dan juga pasal 3 UU nomor 31 Tahun 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah di ubah dengan UU nomor 20 Tahun 2001, yang mengatur penyalagunaan wewenang yang merugikan keuangan negara.

“Hal ini kami rasa jelas perlu untuk di tindak lanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan sebagai mahasiswa kami memastikan diri akan terus mengawal dugaan tersebut secara terang benderang” Tambahnya.

Organisasi Gembok Demokrasi menyerukan penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Transparansi dalam penggunaan dana publik adalah hal yang wajib. Jika ada indikasi permainan, maka wajib hukumnya di usut tuntas” tutup Syafii (*)

Sampai dengan berita ini terbit belum ada konfirmasi dari Kasatpol PP kota bau-bau ketika di hubungi via WhatsApp.

Lampu Kuning

0
Ilustrasi: Muhammad Riszky

oleh Pauline Yonathan*

Kicauan burung bersahut-sahutan, mentari mulai menampakkan semburat jingga di ufuk timur— embun pagi yang menyejukkan itu, bertaburan mengelilingi permukaan bumi yang fana ini. Cahaya dari ufuk timur itu menembus jendela kamarku, memaksaku untuk membuka mata.

Aku membuka mata dan rupanya rasa hampa itu masih tetap bersarang dalam jiwa ini. Sekilas kulirik handphone milikku yang terletak tepat di samping tempat tidur. Hanya ada notifikasi dari grup— dan beberapa orang teman yang mengirimkan pesan, seperti yang sudah-sudah. Notifikasi yang setiap pagi kunantikan, kini telah sirna.

Aku beranjak dari tempat tidur, menuju sebuah cermin yang terletak tepat di samping lemari. Selamat pagi, Alina Almalika. Sapaku pada diri sendiri, di hadapan cermin. Mataku sembab, mungkin karena tangis sepanjang malam. Ketika melihat diriku di cermin, pikiranku seolah-olah kembali teringat pada kejadian tadi malam.

Kejadian yang membuatku merasa kosong dan hampa pagi ini. Aku menjalin hubungan dengan seorang pria, sebut saja ia Pram. Hubungan yang kujalin dengannya telah berjalan selama 5 tahun. Berbagai kisah telah kulalui bersamanya, baik dan buruknya— tanpa tapi, semua kuterima.

Namun, malam kemarin aku memutuskan untuk mengakhiri kisah itu dengannya. Lelah dan lega kurasakan di waktu yang sama. Aku muak dengan segala sikapnya yang seakan-akan tidak menghargai diriku, seenaknya berbuat apa saja— tanpa memikirkan perasaanku.

Aku lelah menahan segala rasa sakit yang ia berikan dan dengan bodohnya aku tetap memaafkannya berulang kali, mengakhiri hubungan dengannya lalu memulai kembali seakan-akan tidak terjadi apapun.

Aku lelah. Kali ini, aku bersumpah benar-benar menjadi yang terakhir. Tak ada lagi kata “memulai kembali” dengannya, atau dengan siapapun. Aku hanya ingin sendiri. Walaupun rasanya hampa, ditemani kekosongan ini— lebih baik dibandingkan bersama seseorang yang hanya memberi rasa sakit terus-menerus, pikirku.

Namun disaat yang bersamaan, aku menangisi beberapa hal indah yang telah kulalui bersamanya selama 5 tahun ini. Mungkin, inilah alasan yang membuatku sanggup bertahan dalam hubungan toxic ini. Selain itu, aku tak ingin kembali mengenal orang baru, melalui fase adaptasi kembali— lebih baik memperbaikinya berulang kali dengan Pram.

Namun keputusanku sudah bulat, tak ada lagi hubungan baru dengan siapapun dan tak ada lagi hubungan yang dijalin kembali dengan Pram. Aku muak. Aku menyeka bulir-bulir air mata yang tanpa sadar jatuh membasahi pipiku dan menyadari bahwa sesedih apapun yang kurasakan saat ini karena melepas Pram, dunia harus tetap berjalan.

Siang itu cukup panas, terik matahari yang menembus permukaan bumi memberi manfaat bagi tumbuhan untuk berfotosintesis dan bertahan hidup. Aku memulai aktivitas seperti biasanya, berusaha menyibukkan diri untuk melupakan kejadian tadi malam.

Kegiatan akademik dan organisasi hari ini cukup padat, banyak program kerja yang harus segera terlaksana dalam waktu dekat ini. Tanpa sadar, hari menjelang malam. Mentari kembali ke peraduannya. Aku bergegas pulang ke rumah, sangat lelah rasanya menunjukkan senyum ke orang lain di saat duniaku sedang tidak baik-baik saja.

Sesampainya di rumah, aku menuju kamar dan menjatuhkan tubuh tepat di ranjang milikku. Sembari berbaring sejenak, kulirik handphone yang berada tepat di samping tubuhku. Diantara notifikasi yang kutemui, terdapat notifikasi pesan darinya, Pram. Entah apalagi yang ia inginkan, dan aku membuka pesan tersebut.

Seperti yang sudah-sudah, pesan untuk mengajakku kembali memulai hubungan dengannya, namun rasanya aku benar-benar lelah bersamanya. Dengan tegas aku membalas pesannya dengan penolakan.

Lelah bukan? di saat seperti ini, ia berusaha untuk menarikku kembali dalam genggamannya. Namun ketika aku berada di genggamannya, tak ada hal yang membuatku merasa berharga untuknya. Malam itu, aku segera menutup mata, beristirahat dari padatnya aktivitas yang kujalani hari ini. Berharap hari esok akan lebih baik.

Tiga hari sejak aku mengakhiri hubungan dengan Pram. Hari ini merupakan akhir pekan, waktu yang biasanya dimanfaatkan oleh orang banyak untuk beristirahat atau berkunjung ke tempat wisata di luar sana, untuk menjernihkan pikiran dari padatnya aktivitas.

Aku memilih memanfaatkan waktu akhir pekan ini dengan beristirahat di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah seharusnya kulakukan. Sore itu, aku mendengar suara motor yang berhenti tepat di depan rumah. Suara motor ini sudah tidak asing di telingaku, dan benar rupanya itu suara motor Pram.

Aku sudah menebak tujuannya mendatangiku, tentu saja untuk mengajakku kembali bersamanya. Mati-matian kupertahankan keputusanku, kali ini aku benar-benar menggunakan logika yang kumiliki untuk menghadapinya.

Setelah 5 tahun belakangan ini aku lebih mengutamakan perasaan dan rasa cinta yang kumiliki untuknya, ia tidak membalasku dengan perlakuan yang baik, mengekang namun tidak ingin dikekang. Kudengar suara langkahnya yang semakin mendekat, kemudian ia mengetuk pintu utama yang langsung terhubung ke ruang tamu rumahku.

Aku mendekati pintu itu, perlahan kubuka untuk menerimanya memasuki rumah ini. Aku memandangi wajahnya, dan ia menatapku. Tak ada kata yang kuucapkan, hanya memandanginya. Mungkin ini akan jadi yang terakhir untukku melihatnya. Sebagai tuan rumah, kupersilahkan ia masuk, duduk di ruang tamu.

Sejenak aku bergegas ke dapur untuk membuatkannya minuman dan cemilan, kutinggalkan ia seorang diri di ruang tamu. Setelah menyelesaikan hal yang menjadi tujuan ku ke dapur, aku segera kembali menuju ruang tamu, membawakannya minuman dan cemilan yang kubuat.

“Lin…” lirih suaranya memanggilku, sontak aku berpura-pura menyibukkan diri dengan minuman dan cemilan yang kubawa dari dapur untuknya.

“Alin..” panggilnya untuk yang kedua kali. Langsung saja aku menanyakan tujuannya menampakkan wajah dan mengganggu akhir pekanku.

“Kita mulai kembali ya?” ucapnya, mengajakku kembali bersamanya. Seketika aku mengangkat wajahku, menatap matanya. Sudah kuduga, tujuannya mendatangi rumah ini untuk hal itu. Aku lelah.

“Pram, aku lelah. Sangat lelah. Kita selesaikan ini saja, berakhir disini. Kupastikan ini akan jadi yang terakhir untukmu mendatangi rumah ini. Berulang kali hal ini terulang, aku merasa sangat tidak berharga bagimu. Bahkan kepada kedua orang tuaku, tidak ada rasa hormat yang kamu berikan.” ucapku panjang lebar.

Pikiranku kembali di malam kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya, aku terlibat perdebatan dengannya melalui pesan. Topik yang menjadi perdebatan saat itu bermula saat ia mengawalinya dengan pembahasan yang tertuju kepada orang tuaku, kemudian ia mengemukakan pendapatnya yang seakan-akan tidak menghargaiku sebagai seorang wanita, pendapatnya merendahkanku, seolah-olah aku tidak mampu mengerjakan apapun dengan baik.

Malam itu, aku benar-benar merasa tidak sejalan dengannya dan membayangkan hidup bersama seseorang yang tidak sejalan dan sepemikiran, sama halnya dengan merelakan diriku menjadi bonekanya. Kini, ia berada tepat di depanku. Ia menyanggah ucapanku dengan pembelaan terhadap dirinya, tak ada kata maaf ataupun kesadaran darinya. Sifat playing victim yang ia miliki benar-benar tidak asing bagiku.

Pembelaan demi pembelaan ia utarakan kepadaku atas pendapatnya yang merendahkanku dengan kedua orang tuaku. Bahkan diantara pembelaan itu, ia menyalahkanku atas segala hal yang terjadi. Sekali lagi, aku lelah.

“—namun, baiklah jika keputusanmu sudah bulat. Rupanya usahaku untuk memperbaiki hubungan ini sia-sia, nihil. Kita melanjutkan jalan masing-masing. Terima kasih untuk segalanya.” ucapnya lantang tepat di hadapanku. Untuk yang terakhir kalinya, aku menggenggam tangannya.

Sekilas aku merindukan masa dimana pertama kali bersamanya. Segala hal yang telah kulalui dengannya, kenangan indah bersamanya yang tersimpan rapi di memori ingatanku. Sembari menggenggam tangannya, aku mengucapkan terima kasih. Kemudian ia beranjak menuju pintu, aku mengikutinya hingga menuju teras rumah. Ia berpamitan untuk segera pergi sembari menaiki motornya.

Untuk yang terakhir kalinya, aku mengelus dan mengacak-acak rambutnya. Ia bergegas pergi, kutatap punggungnya yang sudah melaju —perlahan menjauhi rumah ini. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipiku. Benar-benar berakhir.

Empat bulan sejak kuputuskan mengakhiri hubungan dengan Pram, berbagai kegiatan kulalui untuk menyibukkan diri sehingga tidak ada waktu untuk mengingatnya. Toh, saat ini ia juga sudah bahagia dengan orang baru disampingnya. Orang baru yang rupanya teman dekatku.

Lucu bukan? namun begitulah hidup, penuh misteri yang tidak bisa kita tebak. Lupakan tentang Pram dan kekasih barunya, mari melanjutkan hidup di dunia yang fana ini. Hari ini akan dilaksanakan satu program kerja yang cukup besar, semoga semuanya berjalan lancar tanpa kendala, harapku dalam hati.

Sebagai pengurus yang menyandang jabatan Sekretaris Umum, aku ditugaskan untuk mencetak beberapa surat. Namun saat mencetak surat tersebut, entah ada apa pada printer itu sehingga macet dan tidak dapat mencetak surat dengan baik. Sialnya, aku tidak tahu cara untuk memperbaikinya, gumamku dalam hati.

Salah seorang yang kukenal dalam ruangan itu berbalik ke arahku, sebut saja ia Kak Zain. Ia menanyakan kendala printer itu, lalu ia mendekat ke arahku. Entah bagaimana caranya mengotak-atik printer itu sehingga kembali mencetak surat dengan baik. Aku sangat berterima kasih padanya dalam hati.

Kemudian ia memberitahuku cara menggunakan printer itu dengan nada lembut, rupanya printer ini sudah sangat lama, mungkin sebaiknya segera diganti dengan yang baru, ocehku dalam hati. Tak lupa, aku mengucapkan terima kasih kepada Kak Zain, kali ini bukan dalam hati.

Namun tak ku sangka, ia membalas ucapan terima kasih itu dengan jokes receh yang membuatku tertawa lepas. Begitulah Kak Zain yang kukenal, humoris dan suka menolong orang lain.

Hari itu pelaksaan program kerja berjalan lancar, setelah mengikuti rapat evaluasi aku segera bergegas pulang. Tak ada yang ingin kulakukan saat ini selain berbaring dan meluruskan tulang belakang di tempat tidurku tercinta. Benar saja, sesampainya di rumah keinginanku segera terwujud.

Saat berbaring segala rasa lelah benar-benar kurasakan. Hari ini seru namun melelahkan, gumamku dalam hati. Sembari berbaring, aku melakukan refleksi tentang segala hal yang terjadi hari ini. Kejadian-kejadian lucu, menegangkan, beberapa kendala yang terjadi namun dapat segera teratasi pada pelaksanaan program kerja dan —entah mengapa, tiba-tiba aku teringat pada Kak Zain yang meluangkan waktu di tengah kesibukannya, untuk membantuku.

Aku juga teringat akan jokes receh yang ia berikan saat membalas ucapan terima kasihku, tanpa sadar membuatku tersenyum sebab aku tidak pernah terfikir jokes seperti itu. Setelah melakukan refleksi, aku menyadari bahwa rasanya sedang berada dalam kekosongan, banyak hal yang ingin kuceritakan tentang hari ini, namun entah pada siapa.

Dalam kekosongan itu, sejenak membuatku melarikan diri menuju handphone. Beberapa dokumentasi kegiatan hari ini kubagikan ke sosial media melalui fitur cerita yang akan hilang dalam waktu 24 jam —dan aku berpindah ke sosial media yang satu, sekedar melihat kehidupan orang lain. Beberapa menit setelahnya, aku mendapat notifikasi dari Kak Zain yang membalas cerita yang kubuat.

“Semangat lin, jaga kesehatan” ucapnya dalam balasan cerita itu.

Senyum tipis terukir di wajahku, aku membalasnya dengan ucapan terima kasih hingga obrolan dengannya berlanjut, tanpa sadar aku bercerita padanya tentang hari ini. Kekosongan yang sedari tadi kurasakan perlahan sirna. Bak cahaya yang semula redup, kini mulai bersinar kembali secara bertahap.

Hari-hari berlanjut, benih cinta yang kurasakan semakin bermekaran seiring keakrabanku dengan Kak Zain. Beberapa orang teman yang dekat denganku selalu menyampaikan sesuatu tentang Kak Zain —tentang tatapan dan sikapnya kepadaku yang lain dari biasanya.

Walau tersipu, aku menyadari bahwa hal itu tidak akan terjadi, dan benar-benar mustahil. Ragu dan bimbang saat ini kurasakan, mungkin perasaan ini hanya dimiliki olehku sendiri. Aku menelaah keadaan, perhatian yang ia berikan padaku, sifat humoris dan tawa itu, selalu ia berikan pada semua orang.

Entah pembeda apa yang temanku lihat darinya, bagiku perlakuan yang ia berikan sama pada semua orang. Tak ada yang beda, tak ada yang spesial. Namun obrolan virtual dengannya terus berlanjut hingga sampai pada tahap “saling memberi kabar” selayaknya kedua insan yang menjalin hubungan istimewa.

Walau darinya tak pernah kudengar kejelasan akan keakrabanku dengannya saat ini —untuk menanyakan padanya pun, menurutku masih terlalu dini. Selain itu, aku takut tidak mampu menahan malu jika faktanya ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku, yang artinya aku terlalu percaya diri.

Bagaimana jika obrolan yang terus berlanjut ini hanya kebiasaannya dalam menjaga hubungan baik dengan siapa saja? bagaimana jika aku yang berlebihan dalam menilai segala perhatian dan tawa yang ia berikan? —dan bagaimana jika rupanya ia sudah memiliki orang lain, terlebih selama mengenalnya ia memang tergolong orang yang sangat tertutup, sejauh ini aku belum mengenalnya lebih dekat.

Puluhan pertanyaan bersarang dalam benakku. Bagaimana bisa obrolan virtual ini terus berlanjut dengannya, saling memberi kabar dan tersenyum selayaknya manusia yang jatuh cinta saat kembali membaca obrolan-obrolan dengannya, tanpa kejelasan perasaan yang ia miliki untukku. Mungkin, nanti akan kutemui sendiri jawaban akan segala pertanyaan itu —akan kuikuti alur ini, sampai dimana semesta membawaku bersamanya.

 

*Penulis merupakan siswa Jurusan Farmasi SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar.

Merawat Oposisi

0
“Indonesia paling tepat dijabarkan sebagai demokrasi kriminal di mana para oligark secara teratur ikut serta dalam pemilihan umum sebagai alat berbagi kekuasaan politik, sambil menggunakan kekuatan kekayaan mereka untuk mengalahkan sistem hukum dengan intimidasi dan bujukan”. Jeffrey A. Winters

Tepat 13 tahun silam Winters menyampaikan hal tersebut, dan sepertinya dasawarsa hanya berganti tapi oligark tetap tumbuh subur di negeri ini. Dominan dan mencokol dengan kuat.

Penyebab dominasi terjadi karena lemahnya oposisi. Oposisi tidak pernah benar-benar hadir di negeri ini. Terlalu asing dan bahkan dianggap tidak penting.

Padahal kekuasaan yang tidak mengarah kepada legitimasi kepentingan masyarakat sosial hanya mampu berakhir dengan dua kemungkinan: pertama, berakhir karena krisis ekonomi., kedua, berakhir karena kuatnya oposisi.

Oposisi tak ubahnya seperti kapal yang melawan arus, tujuannya bukan untuk melawan tetapi sebagai penyeimbang.

Oposisi akan curiga dan cemas jika melihat spiral kekerasan, spiral komunikasi yang terdistorsi, dominasi yang berlebihan.

Oposisi sebagai presuposisi, melangkah untuk menduga sebelum, praanggapan dalam melihat kemungkinan ringkihnya kondisi, dan abrul-adulnya yang terjadi.

Lantas siapa saja yang mungkin menjadi oposisi?

Manusia dikutuk untuk membawa citra Tuhan ‘imago dei’, berbudi luhur, ber-adi luhung.

Lebih radiks Platon menyebut manusia sebagai paideia ‘pembalikan’ dari seluruh diri (jiwanya) atau dari kondisi tidak-terdidik, tidak-berbudaya menjadi beradab, berbudaya.

Manusia yang tidak pernah menjadi tuan atau budak keserakahan yang hatinya dengan mudah condong ke sisi kebaikan.

Sekali lagi dengan citra manusia tersebut, siapa yang mungkin menjadi oposisi? Atau siapa yang harus menjadi oposisi?

Yaitu mereka para pendidik, para pemuda, para tokoh masyarakat, para agamawan, …. Sengaja saya isi titik-titik agar mampu mengisi sendiri siapa saja mereka yang harus bertanggung jawab sebagai oposisi. Dengan catatan, manusia itu imogo dei atau siapa pun yang melihat ketimpangan maka akan tersihir untuk menolak, melawan, dan marah.

Para pendidik?

Khusus para pendidik oposisi dipegang penuh oleh para Profesor atau guru besar. Karena profesor berasal dari kata profess yang berarti “secara terbuka menyatakan atau secara publik mengklaim kepercayaan, keyakinan, atau opini”. Profesor harus mampu membawa kekuatan moral dan kekuatan intelektual.

Profesor menjadi garda terdepan dalam mengkritik perselingkuhan negara dari apa yang Socrates sebut: kebijaksanaan/wisdom, keberanian/courage, disiplin/discipline, dan keadilan/justice.

Sengaja saya kemukakan tugas profesor agar kita semua mampu melempari atau meludahi mereka jika tidak sesuai dengan perannya. Dan sengaja saya memilih diksi melempari dan meludahi sebagai akibat betapa hina ketika mereka tidak menjalankan tugasnya.

Sengaja juga saya paparkan siapa saja bertugas sebagai oposisi untuk menghindari apa yang Dieter Senghaas sebut sebagai politisasi fundamental. Yaitu segala masalah politik menjadi masalah masyarakat. Atau sering kita dengar istilah ‘masalah kita bersama’.

Penerimaan asumsi ‘masalah kita bersama’ menjadikan kaburnya batas antara siapa yang bertanggung jawab, siapa yang harus memberikan solusi, siapa yang harus memecahkan masalah, dan siapa yang harus dihukum atas kesalahan tersebut.

Melenceng sedikit, seandainya saja kita paham betul batas ini, tentu saja kita akan mengutuk lebih keras para pelaku pemerkosa publik hari ini.

Sekali lagi, profesor harus mampu menyampaikan opini dengan tegas lugas di tengah krisis moral, krisis kepercayaan, krisis kebangsaan, krisis kemanusiaan, krisis kepentingan publik.

Profesor adalah oposisi. Preferensi dari para profesor harus condong pada kepentingan masyarakat sosial.

Kapan para pemangku jabatan negara tidak condong pada kepentingan tersebut maka profesor harus lantang dan lugas menyampaikan preferensinya, karena mati-hidupnya kritik dan kritis adalah dari mereka (profesor).

Profesor harus membudayakan. Sebagai inspirasi keelokan, kebaikan, dan keteladanan.

Bahkan siapapun yang berkeinginan menjadi profesor (para sarjana, master, doktor) uraian tersebut harus ditempuh. Sungguh hina ketika profesor memiliki jejak yang pernah: ‘sebagai’ pemujamu pemerintah yang korup, tidak rasional, tidak bernalar, dan tidak… (isi sendiri).

Lantas siapa lagi?

Para pemuda!

Para pemuda harus menjadi penyeimbang atau oposisi. Sumpah pemuda sebagai tonggak bahwa pemuda harus bergariskan: bertumpah darah, berbangsa, berbahasa, berbihneka yaitu Indonesia.

Pemuda harus mampu mendidik dan merawat jiwanya. Jiwa yang berlandas simpati, empati, rasionalitas. Jiwa yang mampu bergulat melawan ketidakadilan.

Serupa moralitas binatang atau dewa, tergantung bagaimana pemuda merawat dan mendidik jiwanya.

Para pemuda harusnya malu dengan sentilan dari Ariel Heryanto yang mengatakan bahwa, ‘pemuda hari ini tidak lagi di uji ketahanannya di ruang interogasi polsek karena menyuarakan hak rakyat, melainkan di uji plaza shop, perfume ternama, brand, fashion, video game, dan kesenangan yang terhegemoni’.

Seolah pemuda hari ini hanyalah pemuda yang ketika tanpa mengikuti trend sangat papa.

Jika Rene Descartes pernah berkata ‘cogito ergo sum aku berpikir, maka aku ada’ maka sepertinya sebutan pemuda hari ini lebih tepatnya menjadi ‘aku mengikuti tren, maka aku ada’.

Sekali lagi, sudah saatnya malu dengan sentilan tersebut.

Pemuda adalah tonggak bangsa. Harapan perpanjangan tangan ‘kehidupan’.

Sengaja saya beri tanda petik kata kehidupan agar pemuda tidak melupakan bahwa kehidupan yang hendak di tuju adalah kehidupan yang berkeadilan, berkemanusiaan, berkerakyatan.

Pemuda yang berhasrat menawarkan ide kehidupan yang baik, pemuda yang senewen, menggila, menerkam ketika melihat hukum diperjual belikan.

Pemuda yang berteriak ketika para penguasa mengobok-obok tatanan hukum demi para oligark dan cukong-cukong.

Pemuda, ia manusia dengan ambisi pribadi mencari jati diri dan ketenangan, namun sejalan dengan ambisi menghidupi bersama.

Sekali lagi, pemuda adalah penyeimbang. Pemuda serupa Tangan ‘Tuhan’ yang masih muda, baru, fress, dan kuat.

Pemuda, bercinta dengan banyak sekaligus mengontrol roda pemerintahan agar tetap waras.

Pemuda, sampai ketemu entah di jalan aksi bersama, atau di ruang-ruang media. Kalian adalah pengguna terbesar platform TikTok, X, Instagram, YouTube, untuk menyuarakan ketimpangan dan kecurangan para bedebah negeri ini.

Lantas, siapa lagi?

Para agamawan.

Saya akan membahas para agamawan selaku oposisi dengan memulai menggambarkan satu fenomena buzzer yang tumbuh subur akhir-akhir ini.

Buzzer, seseorang atau sekelompok orang yang menyebarkan informasi dengan tujuan mengecoh dan mempengaruhi opini publik.

Buzzer bertugas untuk menjaga ‘kebahagiaan’ para pemegang kekuasaan.

Oleh para pemegang kekuasaan merawat buzzer dengan cara: menyediakan keamanan, meramalkan dan memenuhi kebutuhan, memfasilitasi kesenangan, menyelamatkan dari kesulitan hidup.

Buzzer bersepakat, bersedia bersama menutupi perselingkuhan dan menghilangkan kecurigaan atas ‘permainan’ di negeri ini’.

Kenapa saya memulai tilikan agamawan sebagai oposisi dengan menyebutkan buzzer biangkerok karena sekiranya negeri ini mengatas namakan diri sebagai berketuhanan.

Tentulah peran agama akan mempengaruhi psikologi para pemeluknya. Agama yang akan menghindarkan dari perilaku ‘penjilat, dan munafik’.

Penjilat dan munafik adalah mereka yang seolah olah hadir untuk kepentingan publik padahal hanya mengenyangkan perut sendiri. Bahkan berani ikut merepresi, menindas siapa pun yang tidak sejalan dengan mereka.

Demikian fungsi agama. Dan fungsi agama berjalan melalui para agamawan.

Agamawan sebagai oposisi atau penyeimbang mendogmakan para pemeluknya untuk hidup sesuai perintah Tuhan.

Hidup sesuai perintah Tuhan tentu sejalan dengan kebaikan bersama dalam berbangsa.

Menurut Ernest Renan berbangsa adalah suatu solidaritas dalam skala yang besar, dibangun dengan perasaan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan orang di masa silam dan pengorbanan-pengorbanan yang siap dilakukan orang di masa depan. Dengan konsensus, kehendak yang dinyatakan dengan jelas untuk meneruskan suatu kehidupan bersama.

Jika hal tersebut tidak tercapai, dan oposisi tidak lahir dari orang-orang yang beragama maka sudah saatnya mempertanyakan ulang dimana agama hari ini. Kemana agamawan hari ini.

Apakah agama terjual dan laku dihadapan politik sehingga tersisa hanya nama-nama agama?

Apakah agamawan sibuk dengan urusan surga neraka sampai lupa, bahwa mereka juga harus hadir kepada manusia yang sedang di dunia namun luntang-lantung diperkosa kebijakan yang tidak ramah? Kehilangan rumah? Kehilangan hutan?

Bukankah selain agama masing-masing kita punya agama bersama yaitu Indonesia, yang kitabnya UUD, falsafahnya Pancasila, teladannya Founding Fathers, dan perayaannya berbangsa?

Sekali lagi, mari merawat oposisi. Mari menjadi oposisi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gogol: Cokol Pemikiran

0
Cokol Pemikiran-Foto: Ilustrasi/Mutmainnah

Intens.id – …setelah pertemuan hari itu, aku kembali menemui Gogol. Kali ini aku akan menemuinya di sebuah bar. Bar bergaya klasik yang identik dengan pengunjung yang individualis atau pengunjung yang datang dengan tujuan menikmati minuman, bukan untuk bersosialisasi. Dan ini akan menjadi bar pertama yang akan aku kunjungi, sebagaimana kata Gogol, bar ini tidak bergaya Hemingway dengan ladies bar-nya.

Я хочу опоздать

Sapaku, sembari menarik stoll bar.

“Jika bukan engkau, tentulah aku mengumpati arogansimu itu” seru Gogol.

Kita semua punya pengecualian dihadapan kekasih Gogol, sebagaimana pengecualian Tuhan kepada hambanya.

“Engkau bukan kekasihku, dan aku tidak berniat menjadi tuhan”.

Kamu hanya belum mengenalku Gogol, kelak kamu akan memiliki niat untuk menjadikanku kekasihmu, entah dengan waktu yang tepat atau dengan waktu yang belum berpihak.

“Sudahlah, mocktail atau cocktail?” tanya Gogol.

“Tapi seharusnya wanita sepertimu tidak layak dengan minuman tiruan, mock itu tiruan”.

Aku tahu Gogol, jangan mengajariku bahasa.

Tolong beri aku mocktail Honey Blackberry Mint. Seruku kepada bartender yang bernama Oleg.

Aku tidak menyukai rasa pahit dan asam Gogol. Sambungku

Aku juga tidak menyukai rasa manis, namun setidaknya itu jauh lebih mampu aku nikmati dibandingkan rasa pahit dan asam cocktail, sebagaimana tujuan aku datang, hendak menikmati minuman. Juga alunan jazz dan blues jika ada.

“Aku tidak hendak mengajarimu bahasa, aku hanya menyampaikan mock itu tiruan. Tiruan”.

Apa yang salah dengan tiruan Gogol. Bukankah sejak kecil hingga besar seperti sekarang ini kita semua Mimesis (peniru)?

“Tidak, kalau saja kita ini mimesis, tentulah tidak memperlakukan objek sampai sedemikian rupa. Bahkan karena kita tidak ingin disebut sama, sampai memperlakukan objek bukan lagi karena objeknya, melainkan karena berebut nilai objek tersebut.”

Apa maksudmu Gogol, buatlah sederhana agar aku memahaminya.

“Semua bar itu sama. Menjual minuman dan kesenangan. Bar itu objek. Namun kita memperlakukan bar dengan gaya klasik, modern, art deco, minimalis, kolonial, kontemporer, bla-bla, dan itu semua demi tidak sama, demi tidak serupa, atau menolak mimesis”.

Entahlah Gogol, yang kita maksud ini serupa apa tidak. Namun, perilaku meniru ini sebenarnya cukup merepotkan bahkan bisa menghasilkan kemunduran. Sebut saja misal si bartender Oleg, jika ia mendapatkan banyak kesenangan dan keuntungan terhadap pekerjaannya ini, maka dapat dipastikan Oleg akan memberikan juga pekerjaan ini kepada anak, kerabat, dan cucunya. Oleg melupakan rasa malu. Kejujuran. Apalagi kemanusiaannya. Dan itu mimesis.

Kamu tahu Tamerlan Gogol?

Tamerlan memerlukan berhari-hari yang sangat panjang untuk membantai 70.000 orang ketika mengusai Isapahan. Di Hiroshima orang dapat memperoleh hasil yang sama dalam waktu beberapa detik. Dan hari ini sedang berlangsung di Gaza, Kango, dan Rwanda. Dan sekali lagi Gogol, itu semua mimesis.

“Demikiankah pemaknaan mimesismu? Padahal manusia menjadi peniru bukan karena ingin sama perihal objek, tapi privilege yang didapatkan dari meniru objek tersebut, itulah tadi yang aku sebut soal berebut nilai objeknya. Tapi…, ah sudahlah, pemaknaan hanyalah pemaknaan”. Seru Gogol

Gogol, justru yang membuat aku bingung, apakah manusia memang sebajingan itu? Alih-alih meniru hal agar peradaban jauh lebih baik malah menjadi peniru untuk mementingkan golongan. Itukah maksud manusia harus berdoa agar berlindung dari keadaan lapang yang meninabobokan?

“Doa itu tak ubahnya gaungan bunyi kesakitan-kesakitan, hanya dalam doa manusia mengakui pikiran-pikiran yang paling rahasia dan hasrat-hasrat terdalam. Tapi jangan harap Oleg yang kamu contohkan tadi akan berdoa demikian. Oleg justru berdoa agar ia bisa memberikan kekuasaan hingga cicitnya kelak.”

“Tunggu, bukankah nama Oleg itu terlalu eman-eman untuk contoh kebinalan tadi.” Sambung Gogol.

Apaan eman-eman. Gogol, kamu itu sastrawan Rusia. Sungguh eman-eman tidak cocok dengan lidahmu.

Gogol menatapku, kami tertawa bersama, mengangkat gelas lalu mendentingkannya. Kami menikmati minuman yang berbeda tetapi sepertinya kami klimaks dengan maksud yang sama.

Gogol konon ada peribahasa Afrika bahwa pasukan kambing yang dipimpin singa bisa mengalahkan pasukan singa yang dipimpin kambing. Bukankah itu aneh Gogol.

Bagaimana mungkin pasukan singa-singa itu kalah dengan kemampuannya sebagai raja hutan hanya karena dipimpin kambing?

Gogol tertawa begitu keras, ia tidak menjawabku, ia lalu menikmati cocktailnya dengan sesekali mendecap karena rasa hangat mengguyur tenggorokan hingga isi perutnya.

“Bukankah sedari engkau datang hingga kini mulutmu tidak berhenti bertanya. Jangan mengetahui terlalu banyak hal. Itu akan menjadi kutukan.” Seru Gogol sembari menatapku dengan senyum yang mengejek.

“Engkau harus tahu ini, sekaligus aku menjawab arogansi yang keduamu tadi”. Sambung Gogol.

“Aku tidak mungkin menyukaimu, apalagi menjadikanmu kekasihku. Kamu harus tahu. Pria itu punya preferensi. Dan aku tidak menyukai buah dada yang kecil”.

Sungguh Gogol? Ah padahal kupikir tentulah kita akan beruntung jika bersama. Tapi tidak mengapa. Semoga saja engkau bertemu wanita dengan dada yang besar itu.

Tapi Gogol, kamu harus tahu ini.

Psikolog Viren Swami dan Martin Tovée melakukan penelitian dengan menyelidiki apakah akses pria terhadap sumber daya akan memengaruhi preferensi mereka terhadap ukuran payudara pada wanita.

Dan kamu tahu jawabannya Gogol!, Pria yang kekurangan barang-barang material akan lebih menginginkan payudara yang lebih besar daripada pria yang memiliki barang-barang material.

Mungkin saja karena mereka merasa bahwa sudah cukup kekurangan barang material (miskin) sehingga mereka tidak mau lagi dada yang kecil juga. Sedang pria yang memiliki akses terhadap material, mereka memiliki kesenangan yang banyak sehingga preferensi mereka payudara yang kecil. Termasuk karena kelas mereka memahami payudara bukan lagi tanda kemampuan wanita untuk mengandung dan membesarkan anak.

Kali ini Gogol tertawa dengan lebih keras lagi. Lalu Gogol menjawab sembari mengangkat gelas cocktailnya

“Apakah aku seorang pria yang tidak memiliki kemampuan material? Kamu tahu harga cocktail sampanye Charles Heidsieck tahun 1981 yang langka ini, cognac Louis XIII Black Pearl, yang bahkan ini harus disajikan dengan emas 18 karat”. Sambat Gogol dengan nada yang menukik.

Tidakkah aku harus menganggap ini sebagai bentuk kemarahanmu Gogol. Aku tidak menghakimi preferensimu tadi. Aku hanya menyampaikan satu hasil experiment.

Yah apa salahnya jika kamu pria bermaterial dan memiliki preferensi wanita berpayudara besar. Experiment itu hanyalah persentase rata-rata. Bukan mewakili seluruhnya Gogol.

Hentikanlah kemarahan itu. Kemarahan tak ubahnya jalan frustrasi.

“Aku marah bukan karena preferensi payudara itu. Aku marah karena aku harus menerima kenyataan bahwa engkau sungguh tidak memahamiku. Tadinya aku berharap engkau akan mengcounter jawab dengan engkau mengingatkan perihal ciuman itu. Tapi nyatanya tidak. Sungguh sial, pria sepertiku harus menanggung perasaan dengan wanita sepertimu. Bahkan aku curiga, sekalipun aku mengatakan aku mencintaimu, mungkin engkau hanya menangkapnya ‘aku hendak bermain denganmu’.”

Baiklah Gogol, mari mengakhiri percakapan ini. Aku lebih menyukaimu berbicara cocktail daripada menemaniku berbicara Oleg si bartender itu. Ini malam natal, aku harus segera pulang.

Sampai jumpa Gogol, dan ini jawaban aku.

Aku tidak mungkin menemuimu di bar jika aku tidak mengetahui batas aman yang akan kamu berikan Gogol. Percayalah wanita sepanjang hidupnya hanya mencari rasa aman. Dan tentulah engkau mengetahui maksudku ini.

***

 

 

Meriah dan Penuh Inspirasi, SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar Gelar Penerimaan Rapor dan Kegiatan P5

0
Fashion show busana daur ulang hasil karya siswa SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar. (Foto: SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar)

SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar menggelar kegiatan penerimaan rapor yang dirangkaikan dengan Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Senin (23/12/2024).

Kegiatan yang dilangsungkan di Ballroom Universitas Mega Rezky Makassar menghadirkan banyak penampilan yang seluruhnya dilakukan oleh siswa kelas X, XI, dan XII. 

Kegiatan ini berlangsung meriah dengan dihadiri lebih dari 400 orang yang terdiri dari siswa, orang tua siswa, tamu undangan dan civitas SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar.

Adapun kegiatan yang dilakukan sebelum penerimaan rapor adalah penampilan tari dari kelas X, fashion show busana daur ulang dan penampilan organisasi ekstrakurikuler karate dan tari dari SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar.

Taufieq selaku kepala sekolah menerangkan jika acara penerimaan rapor yang dirangkaikan dengan penampilan karya P5 ini menjadi ruang bagi orang tua siswa untuk melihat perkembangan akademik dan juga non akademik selama 1 semester.

Ia menekankan jika kehadiran orang tua menjadi krusial dalam melihat secara langsung perkembangan anaknya dan juga mendapatkan masukan dari guru-guru khususnya wali kelasnya.

“Kami harapkan kehadiran orang tua untuk melihat sejauh mana perkembangan peserta didik selama 6 bulan. Pentingnya kegiatan adalah disinilah salah satu forum untuk menjembatani pendidikan ananda di rumah dan juga perkembangan ananda di sekolah,” ujarnya.

Menurutnya ada tiga faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan siswa.Pertama adalah keterlibatan sekolah dalam hal ini wali kelas. Kemudian keterlibatan dari orang tua itu sendiri dan keterlibatan masyarakat. 

Salah satu wali kelas sedang menjelaskan hasil akademik siswa selama 1 semester kepada orang tua. (Foto: SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar)

“Kalau ketiga faktor ini sudah mendukung maka anak didik kita ini bisa menempuh jalur pendidikannya dengan baik dan sukses dimasa depan,” terang Taufieq.

Ia juga mendorong agar keterlibatan orang tua dalam kegiatan yang dilakukan oleh sekolah agar dapat dimaksimalkan untuk perkembangan anak mereka.

“Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan baik oleh orang tua siswa saya khawatir perkembangan peserta didik ke depan terkait dengan pengetahuan, keterampilan dan karakter akan terhambat,” tandasnya.

Apresiasi datang dari orang tua siswa yang menyebut jika kegiatan menjadi ajang untuk menampilkan bakat para siswa di SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar.

“Sebagai orang tua sangat bangga bisa menyaksikan para yang sangat luar biasa dan berprestasi. Terima kasih buat guru yang selama ini telah membimbing anak saya,” ujar Rasnah.

Konsistensi adalah kunci

Kegiatan penerimaan rapor juga dirangkaikan dengan memberikan penghargaan terhadap siswa yang berada pada peringkat satu hingga tiga di masing-masing kelasnya. Pauline Yonathan, siswa kelas XII Program Keahlian Farmasi kembali berhasil mendapatkan peringkat 1 di kelasnya.

Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam membagi waktu antara kegiatan akademik, organisasi dan peningkatan kapasitas dirinya. Pauline yang juga dari semester satu hingga 4 selalu meraih peringkat pertama di kelasnya ini juga turut membagikan tips untuk bisa mempertahankan prestasi.

“Harus mampu memilah hal yang paling penting untuk didahulukan, apalagi ketika kegiatan organisasi dan akademik bertabrakan,” ujarnya.

Selain itu ia menyarankan untuk tidak menunda-nunda sesuatu terlebih saat beberapa tugas akademik dan organisasi terus dijalankan.

“Jangan menunda-nunda. Hal ini juga salah satu bentuk ikhtiar, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat di waktu luang,” terang Pauline, yang juga merupakan Ketua OSIS, SMK Kesehatan Terpadu Mega Rezky Makassar.

Terakhir, sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa maka perlunya berdoa dan berikhtiar kepada sang pencipta.

“Dari semua itu, penting adalah memastikan kita tetap berserah diri kepadaNya. Berdoa kepada sang Khaliq, sebab manusia hanya mampu merencanakan,” tandasnya.