Intens.id Buton, Sulawesi Tenggara – 21 Juli 2025 Seorang mahasiswa asal Desa Lasalimu Pantai, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi jalan utama di desanya yang tak kunjung tersentuh perbaikan selama lebih dari 17 tahun. Bagi sebagian orang, jalan rusak mungkin hal biasa. Tapi bagi masyarakat Lasalimu Pantai, itu adalah bagian dari keseharian yang diam-diam menyakitkan.
“Saya tumbuh dengan melihat bagaimana orang tua saya dan warga desa setiap hari harus melewati jalan yang berlumpur, licin, dan penuh lubang. Sampai hari ini, ketika saya sudah menjadi mahasiswa, keadaan itu tidak banyak berubah,” ungkap Fahrul La Ode, mahasiswa asal desa tersebut.
Menurutnya, jalan bukan sekadar infrastruktur fisik—ia adalah simbol akses, harapan, dan keterhubungan. Ketika jalan tak kunjung diperbaiki, itu bukan hanya hambatan fisik, melainkan juga psikologis. Rasa percaya diri dan harga diri warga ikut terkikis karena merasa desa mereka tidak dianggap penting dalam peta pembangunan.
“Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Tapi ketika 17 tahun berlalu dan tak ada perubahan berarti, kami mulai bertanya-tanya: apakah desa kami dilihat, didengar, atau justru dilupakan?” tutur Fahrul, Ketua DPK GMNI UHO
Ia menambahkan, generasi muda desa tidak tinggal diam. Mereka terus berjuang, menempuh pendidikan, membawa suara desa ke ruang-ruang yang lebih luas, berharap suatu hari nanti, ada perhatian yang datang bukan karena suara keras, tapi karena nurani yang terbuka.
“Ini bukan cerita tentang keluhan. Ini cerita tentang harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, anak-anak kecil di Lasalimu Pantai bisa berangkat sekolah tanpa harus berjalan kaki di jalan becek, dan ibu-ibu bisa menjual hasil panen tanpa takut kendaraan terjebak rusak akibat jalan berlobang,” tutupnya.
Cerita tentang Lasalimu Pantai adalah satu dari banyak potret desa yang masih bergulat dengan tantangan infrastruktur dasar. Mungkin tidak terdengar di pusat kabupaten. Tapi suara sunyi dari desa-desa seperti inilah yang seharusnya menjadi cermin bagi arah pembangunan ke depan. (*)





