INTENS.ID—Langit mulai meredup ketika langkah-langkah warga perlahan mengarah ke Masjid Al-Ihsan di RT 3 Dusun Coddong, Desa Bonto Katute, Sinjai Borong, Senin (16/3/2026).
Aroma hidangan berbuka puasa menguar, berpadu dengan suasana hangat kebersamaan yang terasa begitu akrab di dalam masjid.
Bukan sekadar buka puasa bersama, momen ini menjadi saksi hidupnya sebuah bangunan yang lahir dari kebaikan banyak tangan.
Masjid Al-Ihsan yang berarti “kebaikan” memang bukan nama tanpa makna. Di balik berdirinya, tersimpan cerita tentang warga yang rela berbagi sebagian harta, tenaga, bahkan waktu mereka. Semua terajut dalam satu tujuan, yakni mewujudkan rumah ibadah bagi bersama.
Ketua pengurus masjid, Muhammad Ali, S.Pd., menuturkan bahwa pembangunan masjid ini dimulai sejak bulan Sya’ban 1446 Hijriah, sekitar satu tahun lalu.
Sejak awal, ada harapan sederhana namun penuh keyakinan; masjid ini harus bisa digunakan dalam waktu satu tahun. Dan harapan itu kini menjelma nyata.
“Alhamdulillah, Ramadan ini masjid sudah bisa difungsikan untuk salat lima waktu, Tarawih, witir, hingga salat Jumat,” ujarnya dengan nada syukur.
Lebih dari sekadar bangunan, Masjid Al-Ihsan perlahan menjadi pusat kehidupan spiritual warga. Bahkan, pengurus telah merencanakan pelaksanaan salat Idul Fitri di tempat ini, serta berbagai kegiatan keagamaan setelah Ramadan, seperti pengajian TKA/TPA setiap hari kerja dan pengajian umum di akhir pekan.
Namun malam itu, bukan hanya kebersamaan yang menjadi pengikat. Di hadapan jamaah, IPTU H. Rahmat Kurniansyah AR.S.Sos., M.H., menyampaikan tausiyah yang sederhana namun mengena. Ia mengingatkan kembali posisi masjid dalam kehidupan umat Islam.
“Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar,” ucapnya.

Di penghujung Ramadan, ia mengajak jamaah untuk tidak larut dalam gemerlap dunia, termasuk godaan promo dan kesibukan belanja, yang kerap mengalihkan dari nilai-nilai ibadah.
“Jangan sampai kita lebih tergiur dengan yang sementara, padahal janji pahala dari Allah jauh lebih besar,” lanjutnya.
Pesannya pun mengalir pada hal-hal yang sering terluput, seperti menjaga lisan dari ghibah, menahan amarah, dan memperkuat persaudaraan. Sebab, iman, katanya, tidak akan sempurna tanpa rasa cinta kepada sesama.
Malam semakin larut. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya lembut, sementara jamaah satu per satu bersiap menunaikan ibadah berikutnya.
Di Masjid Al-Ihsan, Ramadan tahun ini bukan hanya tentang ibadah. Ia adalah tentang kebaikan yang tumbuh, tentang kebersamaan yang menguat, dan tentang harapan yang akhirnya menemukan tempatnya.





