Intens.id, Bulukumba – Dunia pertanian di Bulukumba tiba-tiba menjadi sorotan bukan karena inovasi atau panen melimpah, melainkan karena insiden tak terduga yang melibatkan seorang penyuluh pertanian dan media.
AF, seorang penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rilau Ale, menuai kritik tajam setelah menunjukkan sikap keberatan terhadap pemberitaan media mengenai masalah pertanian di Desa Batukaropa, Kecamatan Rilau Ale. Insiden ini memicu respons cepat dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba yang menyatakan akan segera memanggil Andi Fatma untuk klarifikasi.
Kejadian bermula saat AF tak sengaja berpapasan dengan Sapriaris, seorang warga Batukaropa yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi media daring KlikSulsel.id, di Dusun Bentengnge. Kala itu, Sapriaris tengah mendampingi Babinsa Desa Batukaropa untuk mendokumentasikan kondisi pertanian setempat menggunakan ponselnya.
Tanpa diduga, pertemuan singkat itu berubah menjadi konfrontasi. Dengan nada tinggi dan gestur emosional, AF terang-terangan meluapkan ketidaksenangannya atas maraknya pemberitaan media daring mengenai isu-isu pertanian di Batukaropa. Ia bahkan melontarkan protes keras dan melampiaskan kekesalannya kepada Sapriaris, menyebut nama jurnalis lain yang kerap memberitakan kondisi serupa.
“Kenapa selalu diberitakan? Tidak harus diberitakan! Biarkan kami mencari solusi,” tegas AF, seolah menuntut penghentian pemberitaan.
“Kamu itu dengan si Alpian yang selalu beritakan, kemarin sawahnya Pak Suardi kalian beritakan,” tambahnya, menunjukkan kekesalannya yang terakumulasi terhadap sorotan media.
Swadaya Petani di Tengah Keterbatasan: Pintu Air Jebol, Dana Patungan Jadi Solusi
Dalam suasana yang memanas itu, Sapriaris berusaha menjelaskan tujuan kehadirannya. Ia mengungkapkan bahwa konfirmasinya kepada AF bertujuan untuk mengetahui progres perbaikan pintu air Bendungan Buloe yang sebelumnya jebol.
Kondisi ini, menurut Sapriaris, mendesak karena perbaikan tersebut dilakukan secara gotong royong dan biayanya ditanggung secara patungan oleh para petani. Hal ini terpaksa dilakukan demi memastikan pasokan air ke sawah tidak terganggu terlalu lama, mengingat lambatnya bantuan pemerintah.
AF membenarkan bahwa perbaikan tersebut memang dilakukan secara swadaya oleh petani.
“Saat ini kami kumpulkan biaya dari para petani untuk menyewa alat berat excavator agar air bisa segera mengalir ke sawah. Daripada menunggu bantuan pemerintah yang lama,” ungkapnya.
Pernyataan ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi lapangan di mana petani harus berjuang sendiri menghadapi masalah infrastruktur vital.
Namun, setelah memberikan penjelasan, AF kembali melontarkan permintaan agar media berhenti memberitakan Desa Batukaropa.
“Jadi janganmi selalu beritakan-beritakan Batukaropa. Kamu itu sama si Alpian selalu bikin repot,” ucapnya dengan nada meninggi, lagi-lagi menunjukkan ketidaknyamanan terhadap peran kontrol sosial media.
Pimpinan Redaksi KlikSulsel.id, Sapriaris, sangat menyayangkan sikap penyuluh tersebut. Menurutnya, perilaku AF dinilai tidak profesional dan tidak mencerminkan etika pelayanan publik yang seharusnya dimiliki seorang abdi negara.
“Sebagai penyuluh, seharusnya beliau menyampaikan informasi dengan tenang dan profesional. Media punya fungsi kontrol dan menyuarakan kondisi lapangan,” ujar Sapriaris.
Ia menekankan bahwa media memiliki peran penting dalam mengawasi jalannya pembangunan dan menyampaikan suara rakyat, termasuk kondisi pertanian yang dihadapi petani.
Sapriaris pun secara terbuka meminta Dinas Pertanian dan Inspektorat Bulukumba untuk segera mengevaluasi kinerja penyuluh di BPP Rilau Ale.
“Gaya komunikasi seperti ini potensi mencederai kepercayaan masyarakat terhadap penyuluh pertanian,” tambahnya, menyoroti dampak negatif dari komunikasi yang tidak tepat terhadap hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Menanggapi insiden yang viral ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba, Thayeb Maningkasi, merespons dengan cepat. Ia menyatakan komitmennya untuk segera memanggil AF ke kantor dinas guna memberikan klarifikasi atas pernyataannya.
“Melalui UPT Penyuluhan saya minta untuk mengklarifikasi pernyataannya, besok di kantor dinas. Ini bikin gaduh saja,” tulis Thayeb melalui pesan WhatsApp pada Kamis, 17 Juli 2025.
Respons cepat dari Dinas Pertanian ini diharapkan dapat meredam kegaduhan dan memastikan bahwa pelayanan publik tetap berjalan profesional.
Berbeda jauh dengan sikap emosional penyuluh, Babinsa Desa Batukaropa yang turut hadir mendampingi Andi Fatma, justru memberikan penjelasan yang menenangkan dan lebih humanis.
“Memang darurat, Dinda. Jadi perbaikan pintu air dilakukan secara swadaya, termasuk biaya sewa excavator. Ini demi mempercepat pengairan ke sawah petani,” ujarnya dengan nada ramah. Penjelasan Babinsa ini tidak hanya informatif tetapi juga menunjukkan empati terhadap kondisi darurat yang dialami petani.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi seluruh aparatur dan petugas lapangan tentang pentingnya komunikasi terbuka, profesional, dan empatik dalam berinteraksi dengan masyarakat maupun media. Alih-alih menghindari sorotan, keterbukaan justru dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah. Kini, publik menanti langkah tegas dan transparan dari Dinas Pertanian Bulukumba dalam menjaga integritas pelayanan publik serta memastikan dukungan penuh bagi petani di tengah berbagai tantangan yang mereka hadapi.





