Beranda blog Halaman 11

Ratusan Massa AMS Demo Mapolres Sumenep, Tuntut Kapolri Mundur Imbas Tewasnya Affan di Senayan

0
Screenshot

Intens.IdSumenep, Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sumenep (AMS) menggelar demonstrasi di depan Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Sumenep, Sabtu (30/08/2025). Aksi ini merupakan bentuk solidaritas atas tewasnya Affan Kurniawan, seorang sopir ojek online (Ojol) asal Jawa Timur yang menjadi korban dalam aksi demonstrasi di depan Kompleks DPR RI, Senayan, pada Kamis (28/08/2025).

Koordinator Lapangan (Korlap) AMS, Ardianta Alzi Candra Kusumada, menyebut tragedi tersebut memantik kemarahan publik, termasuk di Sumenep. Menurutnya, peristiwa ini menunjukkan bahwa POLRI gagal menjalankan fungsi sebagaimana diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002, yang menegaskan peran kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

“Teman berjuang kita telah dihabisi, dilindas oleh oknum anggota POLRI. Mereka yang harusnya mengayomi, justru yang membunuh. Maka kami tegaskan: kami sudah tidak percaya lagi terhadap POLRI,” tegas Ardi saat berorasi.

Dalam aksi tersebut, AMS mengajukan empat tuntutan utama:

  1. Kapolres Sumenep harus menindak tegas anggotanya yang terbukti bertindak represif.

  2. Menjamin tidak ada lagi kekerasan hingga pembunuhan terhadap aktivis maupun masyarakat sipil.

  3. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diminta mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral.

  4. Memberikan hukuman terberat kepada pelaku yang menyebabkan kematian Affan Kurniawan.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB ini berjalan damai. Massa membawa berbagai poster bernada kritik keras, di antaranya bertuliskan “Kami Tak Percaya POLRI: Bubarkan Saja!” dan “Nyawa Tidak Seharga Kata Maaf”.

Sementara itu, Kapolres Sumenep AKBP Rivanda, yang turun langsung menemui massa, menyampaikan apresiasi atas jalannya aksi yang berlangsung tertib. Ia menegaskan bahwa kasus tewasnya Affan telah ditangani oleh Divisi Propam POLRI, dengan memeriksa sedikitnya 7 anggota yang bertugas saat kejadian.

“Beri POLRI kesempatan dan silakan kawal prosesnya hingga selesai. POLRI pasti transparan,” pungkas Rivanda di hadapan peserta aksi.

Meski demikian, massa AMS menilai ucapan maaf dan janji transparansi tidak cukup untuk membayar nyawa seorang rakyat kecil yang gugur dalam perjuangan.

“Nyawa tidak sebanding dengan ucapan kata maaf dari POLRI,” tandas Ardi, menutup orasinya.

Cipayung Plus Kota Baubau Desak Pembubaran DPR, Soroti Represifitas Aparat, dan Gagas Gerakan #TNI_Bersama_Rakyat_dan_Mahasiswa

0

Intens.id Baubau, 30 Agustus 2025 – Aliansi Cipayung Plus Kota Baubau, yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa dan pemuda, kembali menyuarakan kritik keras terhadap kondisi politik nasional. Dalam pernyataan terbaru mereka, aliansi ini menegaskan dua isu utama: desakan pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan kritik terhadap meningkatnya tindakan represif aparat berseragam cokelat. Selain itu, Cipayung Plus juga menggagas gerakan #TNI_Bersama_Rakyat_dan_Mahasiswa sebagai upaya memperkuat solidaritas rakyat, mahasiswa, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 

DPR Dinilai Gagal Jalankan Fungsi Representasi

 

Menurut Cipayung Plus, DPR saat ini tidak lagi menjalankan amanat rakyat sebagai lembaga representatif. Mereka menilai DPR justru lebih sering mengedepankan kepentingan elite politik daripada memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.

 

“Kami meminta agar DPR dibubarkan karena jelas-jelas gagal menjalankan fungsi representasi rakyat. Mereka lebih sering membela kepentingan pribadi dan golongan daripada mendengarkan suara masyarakat,” tegas salah satu perwakilan Cipayung Plus Baubau.

 

Seruan pembubaran DPR ini dipandang sebagai langkah awal untuk membangun sistem politik yang lebih demokratis dan berpihak kepada rakyat.

 

Kritik terhadap Represifitas Aparat

 

Selain DPR, aliansi ini juga menyoroti tindakan represif aparat keamanan berseragam cokelat yang identik dengan kepolisian. Menurut mereka, dalam beberapa tahun terakhir aparat kerap menggunakan kekerasan berlebihan terhadap mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil, terutama dalam aksi demonstrasi.

 

“Apakah aparat keamanan ingin menciptakan citra negara yang represif? Kami ingin agar seragam cokelat ini kembali pada tugas aslinya: melindungi rakyat, bukan menakut-nakuti mereka,” tegas pernyataan Cipayung Plus.

 

Dorong Solidaritas TNI, Rakyat, dan Mahasiswa

 

Sebagai langkah solutif, Cipayung Plus mendorong terciptanya kedekatan antara TNI, rakyat, dan mahasiswa melalui gerakan #TNI_Bersama_Rakyat_dan_Mahasiswa. Gerakan ini diharapkan mampu membangun peran TNI sebagai pengawal kedaulatan rakyat, bukan sebagai kekuatan yang membatasi ruang demokrasi.

 

“Mahasiswa dan rakyat selalu berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan. TNI seharusnya bersolidaritas dengan kami, bukan melawan kami,” ujar salah satu anggota aliansi.

 

Seruan Persatuan untuk Demokrasi

 

Pernyataan Cipayung Plus Baubau ini menegaskan komitmen mereka untuk terus memperjuangkan hak-hak rakyat dan menolak segala bentuk penindasan. Aliansi ini mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya mahasiswa dan pemuda, untuk bersatu dalam mewujudkan Indonesia yang lebih adil, demokratis, dan bebas dari praktik politik pragmatis.

“Ini adalah seruan bagi seluruh mahasiswa, pemuda, dan rakyat Indonesia untuk bersatu. Kita harus berdiri bersama, dengan TNI sebagai bagian dari perjuangan rakyat, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis,” tutup Cipayung Plus dalam seruannya. (*)

Ratusan Pelajar dan Mahasiswa Ramaikan Sahabat Willy Aditya Madura Fest 2025

0

Intens.id – Pamekasan, Ratusan pelajar dan mahasiswa se-Madura antusias mengikuti Sahabat Willy Aditya Fest 2025 yang digelar pada 28–29 Agustus di Kafe Teman Juang, Pamekasan. Lebih dari 100 peserta ambil bagian dalam dua kategori lomba utama, yakni puisi tingkat siswa dan pidato tingkat mahasiswa.

Suasana meriah sekaligus penuh makna terasa sepanjang acara. Para pelajar membacakan puisi dengan ekspresi mendalam, sementara mahasiswa menyampaikan pidato kritis dan inspiratif. Penampilan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri yang menilai kualitas generasi muda Madura kian menjanjikan.

Berikut hasil lomba Sahabat Willy Aditya Madura Fest 2025:

Lomba Puisi (Siswa):

  • Juara 1: Aufa Rifki Firdaus

  • Juara 2: Zalfa Maulidina Zahro

  • Juara 3: Alfiana Zakiatul Fikri

Lomba Pidato (Mahasiswa):

  • Juara 1: Musfiroh

  • Juara 2: Moh. Hayyi

  • Juara 3: Nabilatul Aliyah

Ketua Panitia, Abdus Syakur, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya kepada seluruh peserta. “Acara ini menjadi wadah penting untuk menumbuhkan kreativitas, keberanian, dan literasi generasi muda Madura. Kami senang melihat antusiasme luar biasa ini, semoga ke depan lebih banyak lahir talenta muda berprestasi dari Madura,” ujarnya.

Lebih dari sekadar lomba, acara ini menjadi bukti nyata kepedulian Willy Aditya, Ketua Komisi XIII DPR RI, terhadap pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan kepemudaan. Selama ini, ia dikenal konsisten memperjuangkan hadirnya ruang-ruang kreatif bagi generasi muda, termasuk melalui ajang seperti Madura Fest.

Komitmen ini sekaligus menegaskan bahwa Madura tidak hanya kaya budaya, tetapi juga memiliki generasi muda yang siap bersaing secara intelektual dan kreatif, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Salah satu pemenang lomba puisi, Aufa Rifki Firdaus, mengaku bangga bisa ikut serta dalam kegiatan ini. “Acara ini luar biasa, sangat tertata dan menyenangkan. Saya mendapat pengalaman baru, belajar dari peserta lain, dan semakin percaya diri. Semoga kegiatan ini terus berlanjut karena sangat bermanfaat bagi pelajar dan mahasiswa Madura,”tuturnya.

Dengan semangat tersebut, Sahabat Willy Aditya Madura berharap Madura Fest dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya melahirkan lebih banyak talenta muda, tetapi juga memperkuat posisi Madura sebagai tanah berbudaya, berdaya saing, dan penuh potensi.

PKKMB UNIJA 2025 Usung Kampus Berdampak dengan Jargon “Wiraraja Paraten: Ajege Na’ Poto, Arabhet Bumi”

0

Intens.id – Sumenep – Universitas Wiraraja (Unija) resmi membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 di halaman kampus utama, Senin (25/8/2025). Sebanyak 1.100 mahasiswa baru yang tersebar pada 19 program studi, tujuh fakultas, dan satu pascasarjana ikut serta dalam agenda tahunan ini.

Pembukaan berlangsung meriah dengan parade Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), prosesi pemukulan gong oleh Rektor, hingga pelepasan ribuan balon merah putih ke udara, bertepatan dengan momentum HUT Kemerdekaan RI ke-80. Suasana semakin spektakuler ketika panitia membentangkan tulisan raksasa bertuliskan PKKMB 2025 dengan ketinggian mencapai 9 meter.

Rektor Universitas Wiraraja, Dr. Sjaifurrachman, menyampaikan selamat datang kepada ribuan mahasiswa baru dan menegaskan bahwa Unija konsisten menjadi pilihan utama masyarakat Madura dalam menempuh pendidikan tinggi. “Selamat bergabung di Universitas Wiraraja, kampus unggul berwawasan kebangsaan. Kehadiran Anda semua adalah bukti kepercayaan masyarakat yang terus bertambah setiap tahunnya,” ujarnya.

Tahun ini, PKKMB Unija mengusung tema “Wiraraja Paraten: Harmoni Intelektual Muda dan Lingkungan” dengan jargon “Wiraraja Paraten: Ajege Na’ Poto, Arabhet Bumi”. Filosofi jargon tersebut bermakna menjaga jati diri sekaligus merawat bumi, sejalan dengan semangat Kampus Berdampak yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam rangka mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Menurut Rektor Sjaifurrachman, konsep Kampus Berdampak menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat mencetak lulusan dan menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga agen perubahan sosial yang melahirkan inovasi serta solusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan. “Kami ingin mahasiswa Unija tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka sosial, peduli lingkungan, dan mampu memberikan manfaat langsung di tengah masyarakat,” tegasnya.

Rangkaian PKKMB 2025 berlangsung sejak 25 Agustus hingga 6 September 2025. Selain pemberian materi akademik dan pengenalan kehidupan kampus, mahasiswa baru juga dijadwalkan mengikuti aksi sosial penanaman pohon dan pembersihan sampah di Kabupaten Sumenep.

Sebagai penutup, panitia akan menggelar konser musik bertajuk Mahesa Fest dengan menghadirkan sejumlah artis ternama, di antaranya Warda KDI, Tharisa, serta bintang tamu utama Jihan Audy.

Dengan semangat kebangsaan, kepedulian lingkungan, dan kemeriahan budaya, PKKMB Unija 2025 diharapkan menjadi tonggak awal lahirnya intelektual muda Madura yang siap berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Puncak Acara MBaH 2025 Meriah, Pengajian Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW Hadirkan KH. Ali Mawardi

0

Intens.id – Sumenep, Takmir dan Remaja Masjid (Remas) Bani Hasan Manding menutup rangkaian kegiatan MBaH 2025 (Masjid Bani Hasan) dengan menggelar Pengajian Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, Minggu (24/8/2025). Acara puncak ini menghadirkan muballigh kondang, KH. Ali Mawardi, yang memberikan tausiyah penuh makna tentang keteladanan Rasulullah SAW.

Pengajian akbar tersebut dikemas secara unik dan berbeda dari biasanya. Selain mendapatkan siraman rohani, jamaah juga berkesempatan memperoleh berbagai doorprize menarik. Hadiah utama berupa 1 unit sepeda listrik, mesin cuci, kipas angin, hingga beragam hadiah hiburan lainnya menambah semarak acara yang dipadati ratusan jamaah dari berbagai wilayah.

Ketua Takmir Masjid Bani Hasan Manding, H. Achmad Jauhari, menuturkan bahwa konsep pengajian kali ini memang sengaja dibuat berbeda. “Kami ingin memberikan suasana baru dalam pengajian, agar masyarakat semakin antusias hadir. Selain mendapat ilmu agama, jamaah juga bisa pulang dengan hadiah. Intinya, bagaimana majelis taklim ini bisa lebih hidup dan diminati semua kalangan,” ujarnya.

Menurut Jauhari, kegiatan ini bukan sekadar seremonial memperingati Maulid Nabi, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah islamiyah dan memperkuat semangat cinta Rasul di tengah masyarakat. “Harapan kami, masyarakat bisa lebih semangat duduk bersama di majelis taklim. Karena inti dari semua ini adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW,” tambahnya.

Acara puncak MBaH 2025 ini terselenggara berkat dukungan berbagai pihak. Sejumlah sponsor turut ambil bagian, di antaranya Siyta Cell, Keke Busana Muslim, dan Griya Sehat MADASAKTI. Sementara untuk publikasi, Masjid Bani Hasan didukung oleh sejumlah media partner seperti Madura Channel, SekitarSumenep.id, Kabar Madura, Intens.id, Info Manding, dan Kominfo Sumenep.

Dengan perpaduan antara dakwah, kebersamaan, dan nuansa meriah, Puncak MBaH 2025 di Masjid Bani Hasan Manding tidak hanya menjadi ajang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga wujud nyata upaya mendekatkan masyarakat pada nilai-nilai Islam dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

Takmir dan Remas Masjid Bani Hasan Gelar SLAMI MBaH 2025, Meriahkan Maulid Nabi di Sumenep

0

Intens.id – SUMENEP, Takmir dan Remaja Masjid (Remas) Bani Hasan, Kecamatan Manding, sukses menggelar kegiatan SLAMI MBaH 2025 (Semarak Lomba Anak Islami Masjid Bani Hasan 2025) yang berlangsung pada Minggu–Senin, 17–18 Agustus 2025. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 130 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep.

Agenda tahunan ini menjadi salah satu tradisi Masjid Bani Hasan dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, dengan menghadirkan nuansa kebersamaan, dakwah, sekaligus ajang kreasi bagi anak-anak dan remaja.

Ketua Panitia, Ust. Moh. Ainur Roziq, S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan sarana menanamkan nilai keislaman sejak dini. “SLAMI MBaH 2025 tidak hanya digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk meningkatkan rasa cinta kepada beliau. Kami ingin anak-anak tumbuh dengan semangat meneladani akhlak Nabi,” ujarnya.

Rangkaian lomba berlangsung meriah dengan berbagai kategori yang diikuti peserta, mulai dari lomba tahfidz, adzan, hingga lomba mewarnai. Antusiasme peserta dan dukungan masyarakat sekitar menjadikan acara ini semakin semarak.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai sponsor, di antaranya Siyta Cell, Keke Busana Muslim, dan Griya Sehat MADASAKTI. Sementara itu, sejumlah media partner turut berpartisipasi dalam publikasi kegiatan, seperti Madura Channel, SekitarSumenep.id, Kabar Madura, Intens.id, Info Manding, dan Kominfo Sumenep.

Panitia berharap, kegiatan ini dapat menjadi wadah pembinaan generasi muda Islam di Sumenep. “Ke depan, kami ingin SLAMI MBaH menjadi ikon kegiatan islami di Manding yang mampu memperkuat ukhuwah serta memotivasi anak-anak untuk terus belajar agama dengan gembira,” tambah Ainur Roziq.

Dengan dukungan masyarakat dan pihak terkait, Masjid Bani Hasan bertekad menjadikan kegiatan ini terus berkelanjutan dan semakin berkualitas setiap tahunnya.

KAM Sultra Desak Polda Sultra Evaluasi Polres Wakatobi Terkait Lambannya Penanganan Kasus Perusakan Kantor Balai TN Wakatobi

0

Intens.id, Kendari, 22 Agustus 2025 — Konsorsium Aktivis Merdeka (KAM) Sulawesi Tenggara menggelar aksi demonstrasi di Mapolda Sultra pada Jumat (22/8). Aksi tersebut merupakan bentuk desakan terhadap kepolisian agar segera mengevaluasi kinerja Polres Wakatobi yang dinilai lamban dalam menangani kasus perusakan aset negara, yakni pagar Kantor Balai Taman Nasional Wakatobi Wilayah III.

Koordinator lapangan, Rahmat, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi yang dilakukan KAM Sultra merupakan langkah awal dan tidak akan berhenti sampai laporan yang telah dilayangkan benar-benar diproses sesuai dengan ketentuan undang-undang.

“Bahwa sampai hari ini pihak Polres Wakatobi belum melakukan gelar perkara sebagai tindak lanjut penegakan hukum yang berkelanjutan. Kami mendesak agar segera dilakukan penahanan terhadap para terduga pelaku pengrusakan aset negara,” tegas Rahmat.

Menanggapi aksi tersebut, Kompol Sihotang selaku Pelaksana Kabag Wasidik Polda Sultra menyampaikan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti laporan yang masuk sesuai mekanisme dan prosedur hukum yang berlaku.

“Kami menunggu pelaporan resmi di Polda Sultra. Setelah itu, kami akan memperdalam proses dengan menurunkan tim sesuai SOP. Kasus ini akan menjadi atensi khusus sehingga penanganannya berjalan sebagaimana mestinya sesuai undang-undang,” ujar kompol Sihoti, pelaksana kabag Wasidik Polda Sultra

Rahmat menambahkan, pihaknya bersama KAM Sultra akan terus melakukan langkah-langkah tekanan (pressure) agar kasus ini segera ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum. “Kami juga akan melengkapi laporan yang disiapkan sehingga bisa menjadi tolak ukur dalam penanganan kasus ini oleh Polda Sultra,” pungkasnya (*)

17 Tahun jalan Lasalimu Dibiarkan Rusak, Warga: Pemerintah Hanya Ada Saat Kampanye

0

Intens.id, Buton — Warga Desa Lasalimu kembali meluapkan kekecewaannya. Jalan utama desa yang sudah rusak selama 17 tahun hingga kini belum juga disentuh pembangunan. Alih-alih mendapat perhatian, warga justru dipaksa hidup dalam kepungan debu setiap hari. Karena tak tahan lagi, masyarakat pun bergotong royong memperbaiki jalan dengan peralatan seadanya. Lubang-lubang besar ditimbun tanah dan batu, sekadar agar kendaraan bisa lewat.

“Sejak dulu jalan ini rusak, sampai sekarang tidak pernah diperbaiki. Pemerintah hanya pandai berjanji waktu kampanye, tapi setelah itu menghilang. Kami sudah bosan dibohongi,” ujar Zulfiki, warga Lasalimu

Warga lainnya, mengaku kesal karena dampaknya langsung dirasakan keluarga.

“Setiap hari kami hirup debu. Anak-anak batuk, tapi pemerintah seperti tidak peduli. Kami ini juga rakyat, kami punya hak untuk dapat jalan yang layak,” tambahnya.

Tokoh pemuda setempat menilai abainya pemerintah adalah bentuk nyata ketidakadilan.

“Kalau jalan di kota bisa mulus cepat dibangun, kenapa desa harus menunggu hampir dua dekade? Ini bukti pemerintah lebih mementingkan pencitraan ketimbang kebutuhan rakyat di desa,” Guntar, tambahnya .

Gotong royong warga memperbaiki jalan hanyalah simbol keterpaksaan, bukan solusi. Di satu sisi mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap desanya, tapi di sisi lain memperlihatkan gagalnya pemerintah hadir di tengah rakyatnya sendiri.

Kini warga Lasalimu menuntut jawaban tegas: sampai kapan mereka harus bersabar? Apakah pemerintah masih terus menutup mata, atau berani turun tangan membuktikan bahwa mereka betul – betul bersama masyarakat .(*)

Mantan Kades Ombul Sampang Cawe-Cawe Pengunaan Dana Desa

0

Intens.id – Sampang, Meski masa jabatannya telah berakhir sejak 2021, mantan Kepala Desa (Kades) Ombul, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, disebut-sebut masih memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan di desa tersebut. Informasi yang dihimpun, sejak jabatan kepala desa dialihkan kepada Penjabat (Pj) Kades yang merupakan kerabat dekatnya, pelayanan publik hingga sejumlah kegiatan desa disebut masih berpusat di kediaman mantan kades.

Terbaru, dugaan keterlibatan mantan kades kembali mencuat dalam proyek perbaikan jalan di Dusun Sabungan Timur, Desa Ombul. Jalan yang diperbaiki sepanjang 154 meter itu sejatinya merupakan jalan poros kabupaten, yang semestinya menjadi tanggung jawab Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sampang. Namun, perbaikan tersebut justru menggunakan Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025 dengan nilai sekitar Rp179 juta.

Penggunaan dana desa untuk proyek ini dinilai menyalahi aturan. Berdasarkan Pasal 2 Ayat 1 Permendesa PDT Nomor 2 Tahun 2024 tentang Petunjuk Operasional Atas Fokus Penggunaan Dana Desa Tahun 2025, DD seharusnya difokuskan pada penanganan kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, kesehatan desa, penguatan adaptasi iklim, pengembangan potensi desa, hingga pembangunan padat karya tunai dengan bahan baku lokal.

Dana desa memang diperbolehkan untuk pembangunan infrastruktur jalan, namun terbatas pada jalan poros desa yang menghubungkan antardusun, bukan jalan poros kabupaten. Sejumlah warga menilai, proyek tersebut dilakukan karena lokasinya berada di sekitar kawasan keluarga mantan kades.

Ironisnya, beberapa jalan poros desa di wilayah Ombul justru mengalami kerusakan yang lebih parah, namun tidak mendapat prioritas perbaikan. Kondisi ini membuat masyarakat kerap bergotong royong memperbaiki jalan secara swadaya. “Kalau semuanya swadaya, lalu fungsi pemerintah desa untuk apa?” ungkap AM salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Selain dianggap melanggar aturan penggunaan dana desa, proyek tersebut juga dinilai mengabaikan prinsip transparansi dan partisipasi masyarakat. Pasal 17 dan Pasal 21 dalam Permendesa PDT Nomor 2 Tahun 2024 menegaskan pentingnya pelibatan warga serta publikasi terbuka dalam penetapan dan pelaksanaan program dana desa.

Pengamat desa menilai, praktik cawe-cawe mantan kades bukan hanya berpotensi merugikan desa, tetapi juga dapat berdampak pada keberlanjutan pencairan dana desa ke depan jika terbukti tidak tepat sasaran. “Sudah tidak menjabat kepala desa, seharusnya kembali menjadi warga biasa, bukan justru mengendalikan pemerintahan desa,” ujarnya.

Masyarakat pun berharap pemerintah kecamatan, kabupaten, hingga aparat pengawas dapat menindaklanjuti dugaan penyalahgunaan wewenang ini. Mereka menegaskan, dana desa harus digunakan sesuai aturan agar benar-benar memberi manfaat pada masyarakat luas, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

SOeCI: Seleksi Organisasi yang Elegan, Cerdas, dan Ikhlas

0

Intens.id, Sumenep – Orientasi mahasiswa baru atau yang lebih akrab di kalangan mahasiswa UNIBA Madura dengan SOeCI (Student Orientation and Campus Induction) memang selalu menarik. Di permukaan, ia tampak seperti pesta penyambutan akademik yang hangat dan inspiratif. Tapi di belakang layar? Kadang lebih mirip audisi “Indonesia Mencari Posisi”.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan SOeCI di UNIBA Madura kembali mengundang berbagai komentar. Bukan karena programnya buruk atau narasumbernya ngelantur, melainkan karena satu hal yang sangat “akademik”: ajang haus validasi.

Anehnya, semua pihak mengaku paling peduli pada mahasiswa baru, tapi entah kenapa tiap kali panitia dibentuk, yang muncul justru riak-riak perasaan yang tersinggung, akun-akun anonim yang mendadak kritis, dan tudingan tentang dugaan korupsi yang kadang baunya lebih mirip aroma membingungkan; diam, lalu tampil ke permukaan ketika momennya pas.

Tahun ini, bahkan lebih ramai: akun anonim bermunculan dengan rajin menguliti sisi lain kampus. Bukan untuk solusi, tapi lebih mirip ingin menyalakan api keraguan pada panitia dan kampus.

Belum cukup sampai di situ, drama bertambah lengkap ketika muncul isu “alumni yang sudah wisuda” tapi entah bagaimana bisa masuk dalam jajaran panitia Div. Ketertiban, meskipun tanpa SK resmi. Ironinya, alih-alih membahas etika, yang ramai justru siapa paling berhak dan siapa yang dianggap paling suci.

Masih belum kelar di situ (saya sarankan pembaca untuk menarik nafas), salah satu mahasiswa bahkan menyebut ada “aroma busuk” dalam pelaksanaan SOeCI. Kami tentu tidak ingin menuduh balik bahwa aroma itu sebenarnya datang dari dapur yang gagal memasak. Tapi yang jelas, setiap tahun, kisahnya serupa: orientasi jadi orkestrasi paling peduli.

Oh, tentu… Mahasiswa UNIBA bukan kampus pencinta diam. Di setiap waktu ada saja yang “kami perjuangkan,” katanya. “Kalau memang benar-benar diam, mustahil kampus ini terkenal,” katanya. Apalagi, yang lebih bikin miris, tak sedikit yang kesal dengan sayembara berhenti diam. “Ayo kita buka sayembara sama-sama, tapi kalau tuduhan keluar jalur, siapa yang ngatur?” katanya.

Yang paling kasihan sebenarnya adalah mahasiswa baru. Mereka datang ke kampus dengan harapan bertemu ilmu, dosen bijak, dan sahabat seperjuangan. Tapi yang mereka saksikan kadang justru parade narasi saling jegal, pertunjukan “siapa paling suci,” dan celoteh dingin tukang tambal hati, semua demi satu tujuan mulia: “meneruskan perjuangan,” katanya.

Mayoritas mahasiswa pasti sepakat bahwa kampus harus menjadi ruang bersih, bukan ring tinju narasi dan video menjatuhkan. Bahwa orientasi mestinya memperkenalkan dunia akademik, bukan drama picisan antar mahasiswa tukang tambal hati. Bahwa menyambut Maba seharusnya dengan peluk kebersamaan, bukan saling dorong demi tempat duduk dan kekuasaan.

Akhir kata, mari kita rawat kampus ini seperti kita merawat akun media organisasi masing-masing: dengan penuh cinta, kejujuran, dan sedikit filter.
Dan untuk SOeCI tahun ini, semoga lebih sedikit drama, lebih banyak kerja nyata. Kalau perlu, kita ganti namanya: Seleksi Organisasi yang Elegan, Cerdas, dan Ikhlas (SOeCI).

Karena pada akhirnya, mahasiswa baru tidak peduli dengan siapa yang duduk di tampuk kekuasaan. Mereka hanya ingin tahu: “Apakah kampus ini pantas kami perjuangkan? Dan adakah masa depan di kampus ini?”