Intens.Id – Sumenep, Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sumenep (AMS) menggelar demonstrasi di depan Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Sumenep, Sabtu (30/08/2025). Aksi ini merupakan bentuk solidaritas atas tewasnya Affan Kurniawan, seorang sopir ojek online (Ojol) asal Jawa Timur yang menjadi korban dalam aksi demonstrasi di depan Kompleks DPR RI, Senayan, pada Kamis (28/08/2025).
Koordinator Lapangan (Korlap) AMS, Ardianta Alzi Candra Kusumada, menyebut tragedi tersebut memantik kemarahan publik, termasuk di Sumenep. Menurutnya, peristiwa ini menunjukkan bahwa POLRI gagal menjalankan fungsi sebagaimana diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002, yang menegaskan peran kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
“Teman berjuang kita telah dihabisi, dilindas oleh oknum anggota POLRI. Mereka yang harusnya mengayomi, justru yang membunuh. Maka kami tegaskan: kami sudah tidak percaya lagi terhadap POLRI,” tegas Ardi saat berorasi.
Dalam aksi tersebut, AMS mengajukan empat tuntutan utama:
-
Kapolres Sumenep harus menindak tegas anggotanya yang terbukti bertindak represif.
-
Menjamin tidak ada lagi kekerasan hingga pembunuhan terhadap aktivis maupun masyarakat sipil.
-
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diminta mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral.
-
Memberikan hukuman terberat kepada pelaku yang menyebabkan kematian Affan Kurniawan.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB ini berjalan damai. Massa membawa berbagai poster bernada kritik keras, di antaranya bertuliskan “Kami Tak Percaya POLRI: Bubarkan Saja!” dan “Nyawa Tidak Seharga Kata Maaf”.
Sementara itu, Kapolres Sumenep AKBP Rivanda, yang turun langsung menemui massa, menyampaikan apresiasi atas jalannya aksi yang berlangsung tertib. Ia menegaskan bahwa kasus tewasnya Affan telah ditangani oleh Divisi Propam POLRI, dengan memeriksa sedikitnya 7 anggota yang bertugas saat kejadian.
“Beri POLRI kesempatan dan silakan kawal prosesnya hingga selesai. POLRI pasti transparan,” pungkas Rivanda di hadapan peserta aksi.
Meski demikian, massa AMS menilai ucapan maaf dan janji transparansi tidak cukup untuk membayar nyawa seorang rakyat kecil yang gugur dalam perjuangan.
“Nyawa tidak sebanding dengan ucapan kata maaf dari POLRI,” tandas Ardi, menutup orasinya.





