Intens.id, Sumenep – Orientasi mahasiswa baru atau yang lebih akrab di kalangan mahasiswa UNIBA Madura dengan SOeCI (Student Orientation and Campus Induction) memang selalu menarik. Di permukaan, ia tampak seperti pesta penyambutan akademik yang hangat dan inspiratif. Tapi di belakang layar? Kadang lebih mirip audisi “Indonesia Mencari Posisi”.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan SOeCI di UNIBA Madura kembali mengundang berbagai komentar. Bukan karena programnya buruk atau narasumbernya ngelantur, melainkan karena satu hal yang sangat “akademik”: ajang haus validasi.
Anehnya, semua pihak mengaku paling peduli pada mahasiswa baru, tapi entah kenapa tiap kali panitia dibentuk, yang muncul justru riak-riak perasaan yang tersinggung, akun-akun anonim yang mendadak kritis, dan tudingan tentang dugaan korupsi yang kadang baunya lebih mirip aroma membingungkan; diam, lalu tampil ke permukaan ketika momennya pas.
Tahun ini, bahkan lebih ramai: akun anonim bermunculan dengan rajin menguliti sisi lain kampus. Bukan untuk solusi, tapi lebih mirip ingin menyalakan api keraguan pada panitia dan kampus.
Belum cukup sampai di situ, drama bertambah lengkap ketika muncul isu “alumni yang sudah wisuda” tapi entah bagaimana bisa masuk dalam jajaran panitia Div. Ketertiban, meskipun tanpa SK resmi. Ironinya, alih-alih membahas etika, yang ramai justru siapa paling berhak dan siapa yang dianggap paling suci.
Masih belum kelar di situ (saya sarankan pembaca untuk menarik nafas), salah satu mahasiswa bahkan menyebut ada “aroma busuk” dalam pelaksanaan SOeCI. Kami tentu tidak ingin menuduh balik bahwa aroma itu sebenarnya datang dari dapur yang gagal memasak. Tapi yang jelas, setiap tahun, kisahnya serupa: orientasi jadi orkestrasi paling peduli.
Oh, tentu… Mahasiswa UNIBA bukan kampus pencinta diam. Di setiap waktu ada saja yang “kami perjuangkan,” katanya. “Kalau memang benar-benar diam, mustahil kampus ini terkenal,” katanya. Apalagi, yang lebih bikin miris, tak sedikit yang kesal dengan sayembara berhenti diam. “Ayo kita buka sayembara sama-sama, tapi kalau tuduhan keluar jalur, siapa yang ngatur?” katanya.
Yang paling kasihan sebenarnya adalah mahasiswa baru. Mereka datang ke kampus dengan harapan bertemu ilmu, dosen bijak, dan sahabat seperjuangan. Tapi yang mereka saksikan kadang justru parade narasi saling jegal, pertunjukan “siapa paling suci,” dan celoteh dingin tukang tambal hati, semua demi satu tujuan mulia: “meneruskan perjuangan,” katanya.
Mayoritas mahasiswa pasti sepakat bahwa kampus harus menjadi ruang bersih, bukan ring tinju narasi dan video menjatuhkan. Bahwa orientasi mestinya memperkenalkan dunia akademik, bukan drama picisan antar mahasiswa tukang tambal hati. Bahwa menyambut Maba seharusnya dengan peluk kebersamaan, bukan saling dorong demi tempat duduk dan kekuasaan.
Akhir kata, mari kita rawat kampus ini seperti kita merawat akun media organisasi masing-masing: dengan penuh cinta, kejujuran, dan sedikit filter.
Dan untuk SOeCI tahun ini, semoga lebih sedikit drama, lebih banyak kerja nyata. Kalau perlu, kita ganti namanya: Seleksi Organisasi yang Elegan, Cerdas, dan Ikhlas (SOeCI).
Karena pada akhirnya, mahasiswa baru tidak peduli dengan siapa yang duduk di tampuk kekuasaan. Mereka hanya ingin tahu: “Apakah kampus ini pantas kami perjuangkan? Dan adakah masa depan di kampus ini?”





