Intens.id – Momentum Hari Ibu Internasional sering kali terjebak dalam romantisme dangkal yang merayakan kasih sayang tanpa mempertanyakan struktur sosial yang menindas subjeknya.
Jika kita mengamati realitas melalui lensa film dokumenter Pesta Babi, kita akan menemukan narasi yang jauh lebih kelam namun krusial, bagaimana perempuan di wilayah ekstraktif mengalami kolonialisme gaya baru yang merampas ruang hidup sekaligus melipatgandakan beban kerja mereka secara tidak terlihat.
Film ini secara metaforis menggambarkan keserakahan eksploitasi lahan sebagai pesta yang rakus, namun dalam pesta tersebut, perempuan bukanlah tamu undangan, mereka adalah pihak yang harus membersihkan sisa-sisa kehancuran tanpa pernah diakui jasanya. Fenomena ini membawa kita pada sebuah konstruksi studi kasus tentang The Invisible Work atau kerja tak terlihat, sebuah konsep sosiologis yang menjelaskan bagaimana beban domestik dan emosional perempuan menjadi pondasi yang menyokong sistem, namun secara sistematis diabaikan dalam hitungan ekonomi makro maupun narasi kebijakan.
Secara teoritis, apa yang dialami para perempuan dalam film Pesta Babi dapat dijelaskan melalui kerangka Ekofeminisme. Karen J. Warren dalam bukunya Ecofeminist Philosophy (2000) berargumen bahwa terdapat hubungan konseptual dan historis antara penindasan terhadap alam dan penindasan terhadap perempuan.
Kolonialisme, dalam bentuknya yang modern melalui korporasi ekstraktif, memandang alam dan perempuan sebagai objek yang bisa ditaklukkan dan dimanfaatkan. Ketika perusahaan pertambangan atau perkebunan skala besar masuk ke sebuah wilayah, mereka sering kali menerapkan logika patriarkal kolonial, negosiasi hanya dilakukan dengan laki-laki yang dianggap sebagai pemilik sah lahan, sementara perempuan yang sehari-harinya memiliki relasi paling intim dengan tanah untuk pemenuhan pangan dan obat-obatan, kehilangan agensinya.
Hal ini adalah bentuk kolonialisme tubuh dan ruang, perempuan kehilangan kedaulatan atas lingkungannya, namun tetap dipaksa untuk menjalankan peran pengasuhan dalam kondisi lingkungan yang telah rusak total.
Sosiolog Arlie Hochschild dalam karyanya The Second Shift (1989) memopulerkan gagasan tentang bagaimana perempuan bekerja dua kali lipat di ranah publik dan domestik—namun pekerjaan domestik tersebut tidak pernah dianggap sebagai kerja sesungguhnya.
Dalam konteks film Pesta Babi, kerja tak terlihat ini bertransformasi menjadi manajemen krisis ekologi. Ketika sumber air tercemar akibat limbah industri, beban untuk mencari air bersih sejauh berkilo-kilometer jatuh ke pundak perempuan. Ketika hutan dibabat, waktu yang dihabiskan perempuan untuk mencari bahan pangan tambahan menjadi membengkak.
Sosiologi lingkungan menyebut ini sebagai gendered vulnerability. Kerusakan alam tidak berdampak netral secara gendeR, ia memukul perempuan lebih keras karena norma sosial memaksa mereka untuk tetap menyediakan nutrisi dan kesehatan bagi keluarga di tengah sumber daya yang kian langka.
Pekerjaan mencari air, memastikan anak-anak tidak sakit karena polusi, dan memutar otak untuk mengelola anggaran dapur yang terhimpit inflasi lingkungan adalah “pekerjaan” yang sangat melelahkan secara kognitif, namun tidak pernah masuk dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB).
Lebih jauh lagi, perempuan dalam pusaran Pesta Babi ini memikul apa yang disebut dengan Emotional Labor atau kerja emosional. Sebagai korban kolonialisme modern, komunitas yang lahannya dirampas sering kali mengalami trauma kolektif, kehilangan identitas, dan meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga akibat stres ekonomi pada pihak laki-laki.
Perempuan, dalam peran domestiknya, menjadi penyerap trauma bagi anggota keluarga lainnya. Mereka merawat moralitas komunitas dan menjaga kewarasan rumah tangga agar tidak runtuh di bawah tekanan struktural.
Kerja emosional ini adalah bentuk invisible work yang paling berat. Mereka harus menekan kesedihan dan ketakutan pribadi demi memberikan rasa aman bagi anak-anak mereka. Dalam kacamata kolonialisme, pengorbanan ini dianggap sebagai insting keibuan yang alami, sebuah pelabelan yang berbahaya karena menormalkan penindasan dan meniadakan tuntutan akan keadilan ekonomi bagi kerja-kerja perawatan tersebut.
Menghubungkan fenomena ini dengan teori Social Reproduction yang diusung oleh Tithi Bhattacharya dalam Social Reproduction Theory (2017), kita melihat bahwa sistem ekonomi global yang ekstraktif sebenarnya bergantung pada kerja-kerja gratis perempuan untuk mereproduksi tenaga kerja. Tanpa perempuan yang memasak, mengasuh, dan menyembuhkan trauma di rumah-rumah yang terhimpit tambang, sistem ekstraksi tersebut tidak akan bisa berjalan.
Namun, ironisnya, sistem ini justru merusak lingkungan yang menjadi prasyarat bagi perempuan untuk menjalankan fungsi reproduksi sosial tersebut. Inilah kontradiksi internal dari kolonialisme hijau dan ekstraktivisme, ia menghancurkan kehidupan yang menyokongnya.
Film Pesta Babi menjadi pengingat pahit bahwa di balik setiap keuntungan korporasi yang besar, ada keringat perempuan yang mengalir lebih deras untuk menambal lubang-lubang kesejahteraan yang ditinggalkan oleh negara dan pasar.
Eksploitasi yang digambarkan dalam film tersebut bukan sekadar isu lingkungan, melainkan isu kemanusiaan yang berakar pada ketidakadilan gender primer. Ketika hak-hak perempuan atas tanah dicabut, beban domestik mereka tidak menghilang, melainkan bermutasi menjadi bentuk bertahan hidup yang ekstrem.
Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan rumah tangga membuat mereka menjadi pihak yang paling pertama terpapar kegagalan sistemik. Dalam banyak kasus, ketika ekonomi lokal hancur, perempuan jugalah yang harus memutar otak mencari alternatif penghasilan,sering kali melalui platform digital atau usaha mikro, sambil tetap memikul beban domestik yang kian berat akibat krisis air dan pangan.
Ini adalah siklus penindasan berlapis, ekonomi ekstraktif merusak alam, kerusakan alam menambah beban kerja perempuan, dan beban kerja yang berat ini tetap tidak diakui secara ekonomi maupun sosial.
Sebagai refleksi Hari Ibu Internasional adalah upaya untuk mempolitisasi ruang domestik. Kita harus berhenti melihat Ibu hanya dalam bingkai dapur dan kasih sayang yang pasif.
Sebaliknya, kita harus mengakuinya sebagai aktor politik dan pejuang ekologis yang melakukan kerja-kerja luar biasa dalam kondisi terjajah oleh modal. Pengakuan terhadap the invisible work bukan hanya soal apresiasi verbal, melainkan tentang redistribusi sumber daya dan pemulihan hak atas tanah.
Jika kita terus membiarkan pesta ekstraksi ini berlanjut tanpa memedulikan kedaulatan perempuan, maka kita sebenarnya sedang merayakan Hari Ibu di atas penderitaan jutaan perempuan yang secara sunyi sedang menanggung beban kehancuran planet ini. Narasi ini menuntut kita untuk bergerak dari sekadar ucapan selamat menuju tuntutan nyata atas keadilan gender dan ekologi, sebab tidak ada Ibu yang benar-benar sejahtera di atas tanah yang sedang sekarat.
Dengan mengakui kompleksitas beban ini, kita baru bisa mulai membicarakan pemberdayaan yang sesungguhnya.





