Oleh: Rika Arlianti DM
Lebaran selalu datang dengan cara yang sama. Takbir yang bergema sejak dini hari, aroma rendang dan opor ayam meruap dari dapur, dan meja makan yang dipenuhi hidangan terbaik. Di rumah kecil itu, segalanya terasa hangat, seolah waktu sengaja melambat agar kebersamaan tak lekas berlalu.
Elara selalu menunggu hari ini.
Sebab hanya pada hari inilah rumahnya terasa benar-benar penuh.
“Elara, ambilkan piring tambahan,” suara ibu terdengar dari dapur, lembut namun pasti.
Elara menoleh, sedikit mengernyit. “Lagi, Bu? Kita kan cuma berdua.”
Ibu tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak artinya. “Ambil saja.”
Elara menurut. Ia mengambil satu piring, lalu tanpa alasan yang jelas, tangannya meraih satu lagi. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang tahu, dua piring tidak akan cukup.
Di meja makan, dua piring telah terisi. Elara duduk di satu sisi, ibu di sisi lainnya. Dua piring kosong tersisa, menghadap mereka seperti undangan yang belum terjawab.
“Untuk siapa, Bu?” tanya Elara pelan.
Ibu memandang piring-piring itu cukup lama sebelum menjawab, suaranya nyaris berbisik, “Untuk yang pulang.”
Elara tidak melanjutkan pertanyaan. Anehnya, jawaban itu terasa wajar, seolah ia pernah mendengarnya, atau mungkin selalu mengetahuinya.
Mereka mulai makan.
Sunyi menyelimuti ruangan, hanya diisi denting sendok yang bersentuhan dengan piring.
Lalu, perlahan…
“Klek…”
Satu suara lain menyusup di antara keheningan.
Elara menghentikan kunyahannya. Nafasnya tertahan.
Ia tidak langsung menoleh, hanya melirik dari sudut mata. Salah satu piring kosong itu… tak lagi benar-benar kosong. Kuah opor berkurang, sambal goreng bergeser dari tempat semula.
Tangannya menegang.
“Bu…” suaranya lirih, nyaris hilang.
“Jangan melihat terlalu lama,” jawab ibu tenang, seolah itu nasihat yang sudah berulang kali diucapkan.
Namun rasa penasaran tak mudah dibendung.
Elara menoleh.
Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Namun kursi itu sedikit tertarik ke belakang, seakan baru saja diduduki.
Jantung Elara berdegup semakin cepat.
“Ayah…?” bisiknya ragu.
Tak ada jawaban, hanya udara yang terasa mendadak lebih dingin.
Ibu tetap makan, tenang, seolah kehadiran yang tak terlihat itu bukan sesuatu yang asing.
Selesai makan, Elara membereskan meja. Tangannya gemetar saat mengangkat piring-piring itu. Ia berhenti ketika menyentuh salah satunya.
Hangat.
Seperti baru saja digunakan.
Padahal ia tak melihat siapa pun di sana.
“Bu…” Elara menoleh, suaranya lebih serius kali ini. “Sejak kapan… semua ini terjadi?”
Ibu terdiam. Wajahnya berubah, seolah sebuah pintu lama dalam ingatannya baru saja terbuka.
“Sejak kamu pulang,” jawabnya pelan.
Elara mengernyit. “Maksudnya?”
Ibu menatapnya dalam-dalam. Tatapan itu lembut, tetapi menyimpan kesedihan yang tak sempat selesai.
“Kamu tidak ingat?”
Elara mencoba mengingat.
Perjalanan pulang. Jalanan yang padat. Hujan deras yang menutup pandangan. Cahaya lampu kendaraan yang menyilaukan…
Lalu gelap.
“Bu… aku…”
“Mobil itu,” potong ibu, suaranya pecah, “yang menabrakmu tiga hari lalu.”
Piring di tangan Elara terlepas.
Pecah.
Suara itu menggema panjang, lalu lenyap ditelan sunyi.
Elara mundur perlahan.
“Tidak… itu tidak mungkin…”
Namun ibu tidak tersenyum. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Sejak itu,” lanjutnya lirih, “rumah ini tidak pernah benar-benar kosong.”
Dunia Elara seakan runtuh perlahan.
Ia menatap tangannya sendiri.
Pucat.
Terlalu pucat.
Perlahan… memudar.
“Nak…” suara Ibu bergetar, “maafkan Ibu yang belum mampu merelakan.”
Elara mundur lagi, kehilangan pijakan atas kenyataan yang tiba-tiba berubah.
Lalu…
“Krek…”
Suara sendok kembali terdengar dari meja makan.
Elara menoleh.
Kali ini, ia melihatnya.
Dua bayangan samar.
Satu duduk di kursi Ayah.
Satu lagi… di kursi yang tadi kosong.
Menghadap ke arahnya.
Seolah menunggu.
Elara membeku.
Dalam satu kesadaran yang datang terlambat, ia mengerti… sejak tadi, ia tak pernah benar-benar duduk.
Piring miliknya masih utuh. Tak tersentuh.
Ibu menangis di belakangnya.
“Selamat lebaran, Nak…” bisiknya lirih.
Elara menatap meja itu.
Lalu, dengan langkah pelan, ia mendekat.
Kursi kosong itu… kini terasa seperti tempatnya.





