Surat yang Tidak Pernah Sempat Kukirim

Oleh: Rika Arlianti DM

Di kota kecil tempat aku tumbuh, hujan selalu datang seperti kenangan. Datang tiba-tiba, pelan, dan sering kali membawa sesuatu yang lama tersimpan.

Aku mengenal Vian pada tahun pertama di bangku sekolah menengah atas. Ia duduk di bangku dekat jendela, tempat cahaya pagi jatuh tepat di sisi mejanya. Rambutnya selalu sedikit berantakan, dan di tangannya hampir selalu ada buku catatan cokelat yang tampak sudah dipakai bertahun-tahun.

Tidak ada yang istimewa dari pertemuan pertama kami. Ia hanya meminjam buku catatan pelajaranku, lalu mengembalikannya dengan senyum kecil yang entah mengapa terasa lama tertinggal di pikiranku.

Sejak hari itu, kami mulai sering berbicara. Awalnya tentang pelajaran, lalu tentang buku, film, dan hal-hal kecil yang kadang terasa lebih penting daripada pelajaran apa pun di sekolah.

Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu tumbuh. Mungkin saat kami pertama kali pulang bersama. Atau ketika ia mulai menunggu di gerbang sekolah hanya untuk berjalan di jalan pulang yang sama denganku.

Di kota kecil seperti ini, langkah yang searah sering kali terasa seperti takdir.

Hari-hari berjalan sederhana. Kami belajar bersama di perpustakaan yang selalu sepi menjelang sore. Kadang kami saling bertukar buku, kadang hanya duduk berhadapan sambil mengerjakan tugas.

Vian tidak banyak bicara, tapi ketika ia bercerita, aku selalu ingin mendengarkan sampai kalimat terakhirnya.

Suatu sore, hujan turun deras ketika sekolah hampir kosong. Kami berteduh di teras warung kecil di ujung jalan.

“Kalau nanti sudah lulus,” katanya tiba-tiba, “kamu ingin pergi ke mana?”

Aku berpikir lama sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu. Mungkin ke tempat yang membuatku merasa pulang.” Ia tertawa pelan.

“Kamu selalu punya jawaban yang aneh.”
“Kalau kamu?”
“Aku ingin pergi sejauh mungkin,” katanya sambil melihat hujan.
“Supaya aku tahu dunia ini lebih besar dari kota ini,” tambahnya.

Sejak percakapan itu, aku mulai menyadari sesuatu. Mimpi Vian selalu mengarah ke tempat yang jauh. Sementara aku, selalu berharap langkah kami tetap searah.

Menjelang kelulusan, kabar itu datang …

Vian diterima di sebuah universitas negeri di kota besar. Semua orang mengucapkan selamat. Guru-guru bangga, teman-teman menepuk pundaknya. Aku juga ikut tersenyum. Namun di dalam dada, ada sesuatu yang perlahan terasa retak.

Suatu sore kami berjalan pulang lebih lambat dari biasanya. Jalan yang biasa kami lewati terasa berbeda, seperti sedang mengucapkan selamat tinggal bahkan sebelum waktunya tiba.

“Kamu akan pergi bulan depan,” kataku. Vian mengangguk.

“Kamu bahagia, kan?” tanyaku lagi.
“Tentu,” jawabnya.

Ia berhenti berjalan sebentar.
“Tapi ada hal-hal yang membuat pergi terasa tidak mudah.”

Aku menunggu kalimat berikutnya. Namun, ia tidak pernah melanjutkannya.

Hari-hari setelah itu terasa aneh. Kami masih berbicara, masih berjalan pulang bersama, tapi ada banyak kata yang tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk diucapkan.

Aku mulai menulis sesuatu setiap malam; sebuah surat. Surat tentang semua hal yang tidak pernah sempat kukatakan padanya.

Tentang bagaimana langkah pulang bersamanya selalu terasa terlalu singkat. Tentang bagaimana aku diam-diam berharap waktu berhenti di tahun terakhir SMA kami. Nyatanya, surat itu tidak pernah benar-benar selesai.

Hari terakhir sekolah tiba lebih cepat dari yang kuinginkan.

Semua orang sibuk berfoto dan tertawa. Udara dipenuhi suara perpisahan yang terdengar seperti janji untuk bertemu lagi, meskipun kami semua tahu tidak semua janji akan benar-benar terjadi.

Sebelum pulang, Vian menghampiriku. Ia menyerahkan buku catatan cokelat yang selama ini selalu ia bawa.
“Aku ingin kamu menyimpannya,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena sebagian isinya tentang kamu.”

Aku tertawa kecil, mengira ia hanya bercanda. Tapi ia terlihat serius.

Hari itu kami berpisah di ujung jalan seperti biasa. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata cinta. Hanya dua orang yang berdiri terlalu lama sebelum akhirnya berjalan ke arah yang berbeda.

Malamnya aku membuka buku catatan itu. Sebagian besar berisi puisi-puisi pendek dan potongan kalimat yang terasa seperti pikiran yang belum selesai. Namun di halaman terakhir, ada tulisan yang membuatku berhenti bernapas sejenak.

“Aku tidak pernah berani mengatakan ini padanya … bahwa berjalan pulang bersamanya adalah hal yang paling ingin kupertahankan lebih lama.”

Di bawah kalimat itu ada tanggal. Tanggal yang sama dengan hari ketika aku mulai menulis surat yang tidak pernah kukirim.

Aku menutup buku itu perlahan. Di meja belajarku, surat untuk Vian masih terlipat rapi di dalam amplop. Surat yang akhirnya tidak pernah ia baca.

Bertahun-tahun kemudian, aku sering berpikir tentang satu hal. Mungkin cinta pertama memang bukan tentang memiliki. Ia hanya datang untuk mengajarkan kita keberanian yang sering kali terlambat kita sadari.

Tentang kata-kata yang seharusnya diucapkan lebih cepat. Tentang perasaan yang terlalu lama disimpan. Dan tentang dua orang yang sebenarnya saling menunggu, tapi sama-sama memilih diam.

Sementara di luar jendela, hujan kembali turun seperti dulu. Anehnya, setiap kali itu terjadi, aku selalu teringat pada satu kemungkinan kecil yang tidak pernah terjadi …

“Bagaimana jika hari itu aku benar-benar mengirimkan surat itu?”

–Dari sudut Kota Bulukumba, semoga kamu membacanya.

Rika Arlianti DM
Rika Arlianti DM
Penulis Buku
- Advertisment -spot_img
Berita Terakait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Topik Populer

Komentar Terbaru