Intens.id, Surabaya – Indonesia, negara dengan populasi terbesar mencapai 281,2 juta jiwa, menjadi lnegara dengan tumbuhnya ribuan organisasi kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat. Data mencatat, jumlah ormas dan LSM di Tanah Air mencapai lebih dari 10.000 pada tahun 2021-2022. Kondisi ini menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat untuk pembangunan.
Di Jawa Timur, semangat kolaborasi ini menjadi inti dari visi kepemimpinan terpilih periode 2025-2030, Ibu Khofifah Indar Parawansa dan Bapak Emil Elestianto Dardak: “Bersinergi Bersama.” Dengan ribuan organisasi yang juga eksis di Bumi Majapahit ini, sinergi menjadi kunci mewujudkan program kerja mereka.
Menyambut visi tersebut, Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) Wilayah Jawa Timur tak tinggal diam. Sebagai garda terdepan isu perekonomian, ISMEI Jatim menyatakan kesiapan penuh untuk berkolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Fokus mereka jelas: mengawal terwujudnya ekonomi hijau, ekonomi inklusif, dan pendidikan yang merata di Jawa Timur, yang juga merupakan bagian dari visi misi pemimpin baru Jatim.
ISMEI Jatim memahami betul urgensi transisi menuju ekonomi hijau demi menjawab tantangan krisis iklim. Melalui edukasi, kampanye, dan kolaborasi, mereka mendorong mahasiswa ekonomi menjadi agen perubahan yang tak hanya paham teori, tapi juga mampu merancang solusi berkelanjutan.
“Generasi muda, khususnya mahasiswa ekonomi, harus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan kelestarian alam. Kita ingin membuktikan bahwa ekonomi hijau bukan hanya idealisme, tapi keharusan,” tegas Koordinator Wilayah ISMEI Jatim.
Di sektor pendidikan, ISMEI aktif meningkatkan kapasitas mahasiswa, menggelar diskusi, dan memperkuat jejaring antar kampus. Mereka percaya, peningkatan kualitas SDM melalui edukasi kritis dan transformasi digital adalah fondasi pembangunan ekonomi yang optimal. Sinergi dengan lembaga pendidikan pun jadi prioritas.
Tak ketinggalan isu kesenjangan, ISMEI Jatim lantang menyuarakan pentingnya ekonomi inklusif. Ekonomi yang membuka akses dan peluang seluas-luasnya bagi semua lapisan, termasuk UMKM, perempuan, dan penyandang disabilitas. Pelatihan wirausaha, literasi keuangan, dan pendampingan lokal jadi langkah konkret.
“Kami ingin memastikan bahwa pembangunan ekonomi di Jawa Timur tidak hanya dinikmati segelintir orang, tapi juga bisa dirasakan oleh mereka yang selama ini terpinggirkan,” tambah Koordinator Wilayah ISMEI Jatim.
Sebagai wujud nyata komitmen sinergi dan pengawalan visi Jatim, ISMEI Wilayah Jawa Timur akan menggelar Seminar Nasional dan Rapat Kerja Wilayah pada 29 Mei hingga 1 Juni 2025 di Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya.
Acara ini bukan sekadar pertemuan, melainkan forum strategis untuk merancang program kerja ISMEI Jatim, mengevaluasi kepengurusan, serta menghasilkan kajian ilmiah dan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi pembangunan Jatim.
“Rencana kegiatan ini bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Ini wujud kita sebagai mahasiswa agen perubahan yang harus berinovasi, berdiskusi, dan menghasilkan rekomendasi sebagai simbol sinergi demi mewujudkan visi-misi Jawa Timur 2025-2030,” ujar Mochammad Marzuki, Sekretaris Wilayah ISMEI Jatim.
Dipilihnya Ubhara Surabaya sebagai tuan rumah turut disambut baik. Dhenaya Putri, Gubernur BEM FEB Ubhara Surabaya, menjelaskan, “Dipilihnya Universitas Bhayangkara Surabaya bukan hanya karena kesiapan fasilitas dan SDM, tetapi juga karena kampus ini dikenal aktif dalam isu-isu sosial dan pembangunan berkelanjutan.”
Mengangkat tema besar “Bersinergi Bersama untuk Mewujudkan Ekonomi Hijau, Inklusif, dan Berpendidikan di Jawa Timur”, kegiatan ini diharapkan menjadi titik tolak gerakan bersama mahasiswa ekonomi se-Jatim. ISMEI Jatim dan BEM FEB Ubhara mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ambil bagian.
“Masa depan ekonomi yang adil dan berkelanjutan dimulai hari ini—bersama mereka yang bersedia bersinergi dan bergerak,” seru keduanya.
Melalui acara ini dan langkah konkret lainnya, ISMEI Jatim berharap menjadi katalisator perubahan. Mereka mendorong civitas akademika, pemerintah daerah, dan sektor swasta untuk mendukung upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan berbasis keadilan sosial dan lingkungan.
Panitia pelaksana, melalui Rachmad Fajar, juga menyampaikan tiga saran kunci: perlunya keberlanjutan kegiatan serupa secara nasional, sinergi kuat antara kampus, pemerintah, dan swasta, serta dorongan bagi mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan sosial ekonomi di masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, ISMEI Wilayah Jawa Timur optimis perubahan besar bisa dimulai dari ruang-ruang akademik, demi terwujudnya kehidupan sosial yang lebih adil, berkelanjutan, dan mencerdaskan di Jawa Timur.





