Oleh: Rika Arlianti DM
Ada banyak pelajaran dalam hidup yang tidak pernah kita pilih. Ia datang tanpa izin, tanpa peringatan, sering kali dalam bentuk yang paling tidak kita inginkan.
Sebut saja kehilangan, kesalahan, penyesalan, atau keputusan yang terasa salah sejak awal. Namun anehnya, justru pelajaran-pelajaran itulah yang paling lama tinggal.
Kita sering mengira bahwa hidup adalah tentang menghindari rasa sakit, tentang membuat pilihan yang benar, tentang menjadi versi diri yang tidak pernah jatuh. Tapi waktu berjalan, dan kita mulai sadar bahwa kita belajar jauh lebih banyak dari hal-hal yang berantakan daripada yang sempurna.
Ada momen ketika kita mengulang kesalahan yang sama, seakan-akan belum cukup terluka untuk benar-benar berubah. Kita marah pada diri sendiri, bertanya kenapa tidak bisa lebih baik, lebih cepat belajar…
Barangkali memang bukan itu caranya. Mungkin memang kita harus melewati lingkaran itu beberapa kali, sampai akhirnya kita tidak hanya mengerti dengan pikiran, tapi juga dengan hati.
Lalu, di titik itu… pelan-pelan, sesuatu berubah. Rasa sakit yang dulu terasa seperti hukuman mulai terlihat seperti arah. Penyesalan yang dulu ingin kita hapus justru menjadi penanda bahwa kita pernah mencoba, pernah jatuh, dan masih di sini.
Kita mulai menerima bahwa diri kita bukan kumpulan dari keputusan yang sempurna, tapi dari proses yang terus berjalan.
Mungkin itulah yang disebut “pelajaran favorit”. Bukan karena ia mudah, atau karena ia menyenangkan, tapi karena ia mengubah kita dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh hal lain.
Ia membuat kita lebih lembut pada diri sendiri. Lebih sabar pada proses. Dan lebih jujur tentang siapa kita sebenarnya.
Pada akhirnya, kita tidak lagi mencoba menghindari pelajaran itu. Kita mulai mendengarnya. Menerimanya. Bahkan, tanpa sadar, menghargainya.
Karena dari sanalah kita belajar bukan hanya tentang hidup, tapi tentang bagaimana tetap berjalan, meski tidak pernah benar-benar tahu ke mana arah akhirnya.
—Bulukumba, 31 Maret 2026





