Kepada Tan Malaka-Aduan Seorang Amatir
–
Sudah begitu lama engkau di rantau, Tan
Sudah berapa banyak rindu dan kemarahan yang kau kumpul
Di sini, di tanah para bedebah itu berganti-ganti wajah kami meringis
Katanya menganggap orang lain bodoh adalah satu kebodohan lain
Tapi, harus aku sebut apa mereka yang merekayasa kesejahteraan Tan
Seakan menggunduli hutan, menggerus laut dan meledakkan gunung belum cukup, mereka juga nirempati
Mungkin sekolah bagi mereka hanyalah untuk satu dua lembar kertas validasi yang kerap mereka pakai untuk membungkus keserakahan
Di tempat di mana seharusnya mawar mekar merekah, melati wangi semerbak pun kincir air berputar malah ada komedi putar yang ditunggangi wajah-wajah mengerikan
Bisik-bisik ganjil menjelma jadi belati yang siap mencabik jiwa yang keras bersuara
Jeruji besi selalu kosong untuk mengurung kebenaran tapi terlalu penuh untuk kebiadaban
Provokator! Katanya
Lalu ketika kerja kotor mereka tampak ke permukaan
Bagai limbah di laut,
Bagai tanah yang muntah,
Kayu gelondongan yang terseret banjir,
Riuh media tentang fakta
Suara-suara perlawanan
Kemiskinan dan kelaparan
Itu Propaganda! Katanya
Hanya ada ilusi bodoh, Tan
Aktor-aktor sedang berperan ganda
Bergantian mencabik-cabik keadilan dengan kepedihan
Berlomba menunjukkan wajah di medan perang dengan tingkah konyol sambil diiringi kilatan cahaya kamera
Hanya untuk menyoroti jari kelingking mereka yang sedang bekerja
Akankah pertunjukan ini bisa usai
Kenapa layar masih terpasang rapi di atas sana
Badai telah menerjang dalam berbagai rupa tapi pemain sandiwara hilang tanpa aksi sedikit pun, bahkan tidak tersisa bayangan
Kalimat penenang menjelma jadi debur ombak kemarahan tatkala mereka menyebut perjuangan ini sebagai penghianatan
Dan kau kini bersemayam di perut bumi
Mengisi kursi penonton, kau di sana
Menatap bumi pertiwi yang pernah kau selimuti dengan suara dan doa yang bergetar untuk kebenaran
Gelora yang kau wariskan sedang beradu dengan mesiu dan kebohongan
Aku tahu kau sedang cemas
Meski kami payah mengumpulkan jejak, tapi kami tidak lagi seorang diri Tan
Meski kami sedang berdiri di dalam labirin kabut
Apa yang kau simpan untuk kami kelak akan menjadi peluru yang tidak lagi bisa mereka redam.
(Nadir-Sinjai Selatan)





