Cahaya Bintang Telah Redup
–
Sebelum langit Sumatra muram
Masih ada tawa Ibu-ibu di depan kompleks
Anak-anak masih berlarian ke sana kemari
Dan suara kartu remi Bapak-bapak masih beradu
Gajah-gajah sudah kehilangan rumah
Pohon-pohon terbujur kaku bagai mayat tanpa kafan bersemayam di dalam hutan yang gelap dan sedih
Ranting dan dedaunannya gugur dengan paksa
Burung-burung terjaga lalu beranjak mengepakkan sayap menjauh
Di televisi dan internet
Orang-orang berseragam putih bernoda darah dan tangis saling bersaut-sautan memuji satu sama lain, untuk sesuatu yang wajib mereka lakukan
Biru hanya kata bohong yang tidak tahu harus memeluk tubuh siapa
Daftar nama hanya harapan cemas yang tak berkesudahan
Tanah sebagai daging
Air sebagai darah
Batu sebagai tulang
Pohon dan akar-akarnya sebagai urat nadi
Seakan bukan untuk kita
Hanya menjadi perumpamaan-perumpamaan hampa
Sebab perahu-perahu batang pohon itu sudah karam, menembus atap, tiang-tiang rumah, berubah jadi pelataran bergelombang dan kotor di masjid-masjid atau di rumah ibadah
Tanah berubah jadi muntahan perut bumi
Air tidak lagi mengalir di sungai-sungai, si pipa-pipa atau di sumur-sumur, ia berada di atas genteng-genteng rumah, dalam kemarahan
Batu kian berguling, memecah kaca, melukai tubuh, kebingungan entah terseret ke mana saja
Masa kecil anak-anak bagai mata air yang berhenti jadi sungai
Harapan-harapan orang tua bersemayam di dalam lumpur dan berkarat di dasar paling dalam, tidak lebih dari buih yang gagal meletup ke udara
Tubuh lapar terhampar seperti kota riuh yang berbahaya
Cahaya bintang berakhir tepat seperti peristiwa dan bencana-bencana berubah kadi ladang ranjau kemunafikan
Peta dan penuntun itu hanya kepura-puraan
Mereka jauh ke pulau-pulau penuh uang dan citra palsu
Tak terjamah oleh kebaikan, nurani mati.
(Nadir-Bulukumba)





