Oleh: Rika Arlianti DM
Di kampus, hampir semua orang mengenal Khalisa. Ia ramah, mudah bergaul, dan hampir selalu terlihat tersenyum. Khalisa tidak pernah kesulitan mendapatkan teman. Ia bisa berbincang dengan siapa saja, dari teman sekelas hingga dosen.
Namun ada satu hal yang selalu membuat orang heran. Khalisa belum pernah pacaran. Padahal beberapa kali ia pernah didekati. Ada beberapa teman satu angkatan yang mengajaknya makan malam. Banyak juga kakak tingkat yang terang-terangan mengungkapkan perasaan.
Semua berakhir sama. Khalisa tetap bersikap baik, tapi tidak pernah jatuh cinta.
“Kayaknya kamu susah banget suka sama orang,” kata temannya suatu hari.
Khalisa tertawa kecil.
“Mungkin aku cuma belum ketemu orang yang tepat.”
Ia sendiri tidak benar-benar tahu seperti apa rasanya menunggu seseorang. Hingga suatu hari, seorang lelaki yang hampir tidak pernah tersenyum itu masuk ke dalam hidupnya.
Namanya Rian, senior di jurusan Khalisa, tetapi sudah wisuda beberapa bulan sebelumnya. Kini ia bekerja di kota lain. Meski begitu, sesekali ia kembali ke kampus.
Pertemuan pertama mereka terjadi di perpustakaan. Khalisa sedang duduk di sudut ruangan dengan beberapa buku di mejanya ketika Rian berhenti di dekatnya.
“Semua itu kamu baca?” tanyanya. Nada suaranya datar.
Khalisa mengangguk sambil tersenyum.
“Iya. Pelan-pelan.”
Rian mengangguk singkat lalu pergi.
Khalisa mengira pertemuan itu akan selesai begitu saja. Namun beberapa pekan kemudian, Rian kembali muncul.
Ia berdiri di samping meja Khalisa dan meletakkan sebuah buku.
“Aku pikir kamu bakal suka ini.”
Sejak saat itu, setiap kali Rian kembali ke kampus, hampir selalu ada buku di tangannya. Kadang mereka berbincang sebentar di tangga fakultas. Kadang berjalan mengelilingi taman kampus. Kadang Rian hanya datang, menyerahkan buku, lalu pergi lagi.
Tidak banyak kata. Namun anehnya, Khalisa mulai menunggu hari-hari ketika Rian datang.
Rian dikenal sebagai orang yang sangat tertutup. Ia jarang berbicara dengan mahasiswa lain. Bahkan sering terlihat mengabaikan orang yang mencoba menyapanya.
Banyak yang menganggapnya dingin. Namun semuanya berubah ketika ia berada di dekat Khalisa.
Ia pernah menunggu di parkiran cukup lama hanya untuk menawarkan tumpangan.
“Pulangnya searah,” katanya singkat.
Ia juga pernah berjalan cukup jauh hanya untuk mengantarnya ke tempat fotokopi untuk bahan kuliah. Hal-hal kecil yang diam-diam diperhatikan banyak orang. Bahkan, teman-teman dan beberapa senior Khalisa mulai heran.
“Aku belum pernah lihat Rian senyum.”
“Tapi waktu sama kamu, dia senyum.”
“Serius. Cuma ke kamu.”
Khalisa tidak pernah tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu, dirinya mulai merasa ingin menunggu seseorang.
Suatu sore menjelang akhir semester, Rian mengirim pesan singkat.
“Aku di kampus.”
Mereka bertemu di taman seperti biasanya. Namun kali ini Rian tampak lebih diam dari biasanya.
“Aku dipindahkan kerja,” katanya akhirnya.
Khalisa menatapnya.
“Ke kota yang lebih jauh.”
Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan kampus. Rian menyerahkan sebuah buku.
“Yang ini mungkin terakhir. Tapi sebelumnya ada yang ingin kupastikan …” ucapnya menggantung.
“Apa kau memiliki seseorang yang istimewa? Jika tidak, aku ingin kita ke jenjang yang lebih serius.”
Khalisa yang baru pertama kali di posisi ini merasa bingung harus merespon bagaimana. Terlepas dari kebingungannya tentang perasaannya sendiri.
Ia memang menikmati setiap momen bersama Rian, tapi untuk ke tahap yang lebih serius ia belum cukup yakin. Hatinya masih bertanya-tanya.
Sampai perpisahan itu, Khalisa tidak memberikan jawaban apa pun, kecuali senyum singkat yang sejatinya tidak bisa disebut senyum. Sebab saat itu, dada Khalisa terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang perlahan menjauh darinya.
Rian menatap ke arah taman sebelum berkata pelan, “Aku sering kembali ke kampus bukan karena urusan dosen.”
Khalisa masih terdiam.
“Aku datang karena kamu.”
Jantung Khalisa berdetak keras. Ia ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Namun kata-kata itu tidak pernah keluar.
Rian sudah berdiri.
“Jaga diri baik-baik.”
Itu saja. Perpisahan pun terjadi tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa janji untuk saling menunggu, tanpa perayaan. Hanya kesibukan di kepala masing-masing.
Rian benar-benar pergi beberapa hari kemudian. Hari-hari di kampus kembali berjalan seperti biasa. Namun entah kenapa, taman kampus terasa lebih sepi.
Beberapa minggu kemudian, Khalisa membuka buku terakhir yang diberikan Rian. Di halaman pertama, ada tulisan tangan kecil.
Untuk Khalisa …
Terima kasih sudah membuat seseorang yang dingin sepertiku belajar tersenyum.
Khalisa membaca buku itu perlahan. Sampai di halaman terakhir. Di sana terselip secarik kertas yang sebelumnya tidak ia lihat.
Tulisan tangan Rian. Kali ini lebih panjang.
Khalisa,
Maaf kalau aku tidak pernah mengatakan ini secara langsung.
Aku sudah mengenalmu sejak kamu masih duduk di bangku SMA. Ya, sebuah film dokumenter yang kamu buat sedikit mencuri perhatianku.
Dan pertemuan pertama kita di perpustakaan itu bukan kebetulan, tapi kesengajaan.
Maaf karena mendekatimu dengan cara seperti itu, tapi kupikir kamu sudah tahu sedikit tentangku dari mulut senior dan teman-temanmu.
Jujur, ini kali pertama aku tertarik dengan orang lain, karenanya aku kebingungan bagaimana caranya.
Terima kasih sudah menyambutku dengan baik, meski kutahu dari orang terdekatmu, bahwa kamu memang friendly.
Bayangan tentang pertemuan pertemuan pertama hingga perpisahan yang tanpa perayaan itu terputar samar di kepala Khalisa.
Ia kemudian membaca bagian terakhir.
Kalau suatu hari kamu menemukan seseorang yang membuatmu ingin menunggu, jangan ragu lagi.
Karena aku tahu sekarang… menunggu seseorang ternyata seindah itu.
—Rian
Khalisa menutup buku itu perlahan. Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata hidupnya sedramatis itu. Ia juga bingung, apakah dirinya benar-benar jatuh cinta, sekadar kagum, atau sebatas sopan santun.
Tapi di satu sisi, ia merasa kehilangan. Seperti ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat menjadi miliknya, meski sejatinya ia tidak pernah berharap. Sebab selama ini, ia hanya menikmati kebersamaan mereka.
Di rak bukunya, buku terakhir dari Rian tetap tersimpan. Tidak pernah benar-benar selesai ia baca lagi. Entah alasannya apa, tapi Khalisa merasa ia sudah tidak punya hak.





