Intens.id, Sumenep Madura — Ketika hukum hanya jadi bunyi pelan di tikungan jalan, dan rokok tanpa cukai jadi barang sehari-hari, kita sedang menonton negara yang kehabisan cara menghadapi asap yang tak terkendali.
Di Madura, ada asap yang lebih berbahaya dari knalpot: ia dibungkus tanpa cukai, dipacking sangat rapi, dibawa kebanyakan melalui mobil keluarga, laku melesat kencang menantang hukum.
Sabtu 7 Juni dini hari, sebuah Suzuki Ertiga melesat liar di Jalan Raya Burneh, Bangkalan. Selayaknya adegan Tokyo Drift, tapi ini versi lokal, mobil ertiga itu penuh muatan tanpa pita cukai. Bepacu dengan waktu, bersiap menantang hukum.
Dalam hitungan menit, kejar-kejaran terjadi. Tiga mobil rusak, satu rumah warga remuk, dan tiga pemuda dan aparat dilarikan ke rumah sakit. Namun mari berhenti sejenak dari kronologi tabrakan. Karena yang perlu dikupas bukan hanya kecepatan, tapi asap yang menyertainya; asap yang perlahan mengaburkan hukum dan menyelimuti ekonomi daerah.
Asapnya Murah. Nyawa? Apalagi
Rokok ilegal bukan semata-mata produk murah yang menggoda dompet rakyat kecil. Ia adalah cermin dari kebocoran sistem: cukai tak dibayar, negara merugi, dan industri resmi megap-megap menghadapi kompetitor bayangan.
Di Madura, persoalan ini menemukan ekosistem yang sempurna: akses logistik terbuka, jaringan distribusi rapi, dan permintaan pasar yang tinggi dari kelas menengah ke bawah mampu menggoda ketimbang harga resminya.
Distribusi rokok ilegal di Madura bukan perkara sembunyi-sembunyi di kolong truk. Kini, mereka lebih berani, memilih jalur alternatif, dan siap berpacu kencang kapan saja.
Kasus Ertiga yang melaju dini hari itu hanya satu dari banyak episode serupa. Bukan yang pertama kalinya. Tidak usah kaget. Dan bisa dipastikan, ini bukan yang terakhir.
Negara Gagal Memberi Pilihan
Selama celah harga antara rokok legal dan ilegal tetap selebar jurang tambang galian C yang tak berizin di Madura, maka rokok ilegal akan terus dicari, dikonsumsi, dan didistribusikan. Bukan karena masyarakat tak tahu hukum, tapi karena hukum tak memberi ruang bagi realitas sosial.
Ketika rokok resmi hanya bisa dibeli segelintir orang, rokok haram menjelma jadi pilihan logis. Meski ilegal, setidaknya masih bisa dihisap untuk mengganjal pikiriran yang terlalu naif diceritakan.
Di satu sisi, pemerintah agresif menaikkan cukai demi menekan konsumsi. Di sisi lain, pengawasan distribusi masih sebatas formalitas berita. Akibatnya, pasar disusupi asap gelap yang tak hanya merusak sistem fiskal, tapi juga mempermalukan wibawa hukum di level paling dasar.
Yang paling ditakutkan bagi kami Pemuda Madura, Madura gagal rebranding. Banyaknya stigma tentang Madura terlalu bising untuk didengar. Celurit sudah kami simpan, rokok ilegal menggantikannya. Seakan Madura lahir, hidup, dan tumbuh bersama stigma dan prasangka.
Negara, Tolong Nyalip Sebelum Terlambat
Maka ketika sebuah mobil melesat tengah malam di jalanan Bangkalan, jangan buru-buru mengira itu terobsesi Tokyo Drif. Bisa jadi ia sedang balapan dengan nasib; mengangkut asap haram demi sesuap harapan.
Yang tertangkap biasanya bukan bos besar. Tapi anak muda yang dibayar per rit, dengan bayaran tak seberapa, dan risiko luar biasa. Di balik mobil yang ringsek, ada ibu yang menangis di dapur, istri yang kaget menerima telepon, dan anak kecil yang belum tahu kenapa ayahnya tak pulang.
Selama akar persoalan tak diurai, baik dari aspek kebijakan harga, penegakan hukum, hingga alternatif ekonomi masyarakat kelas bawah, drama semacam “Madura Drift Edition” akan terus tayang. Hanya tokoh dan lokasi yang berganti. Tapi alurnya akan selalu sama: negara tertinggal, rakyat mencari jalan pintas, dan asap tetap mengepul di jalanan tanpa kendali.





