79 Tahun HMI: Degradasi, Eksplanasi, dan Reformasi

Di tengah tapak tilas HMI yang kerap mendapat penghinaan, intimidasi, bahkan ancaman pembubaran, nyatanya HMI masih mampu berdiri dan berjalan tegak hingga hari ini.

Oleh: Muh Arya Dwi Madaprama
Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Intens.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu organisasi tertua di Indonesia hari ini telah menyandang usia yang ke-79 tahun. Tidak sedikit kader, partisipan, maupun simpatisan yang merasa memiliki hubungan emosional dengan HMI ikut merayakan momentum ini dengan cara yang berbeda-beda.

Sebagai salah satu kader yang merasa hidupnya banyak berkembang dan berubah akibat “radiasi” HMI, saya tentu sangat senang dan turut berbahagia. Di tengah tapak tilas HMI yang kerap mendapat penghinaan, intimidasi, bahkan ancaman pembubaran, nyatanya HMI masih mampu berdiri dan berjalan tegak hingga hari ini.

Maka, dalam memperingati sekaligus merayakan momentum eksistensi HMI pada usia yang cukup senja ini, saya berinisiatif menyajikan risalah kecil ini. Tulisan ini saya persembahkan sebagai hadiah yang diharapkan mampu membawa manfaat dan perubahan bagi HMI dalam beberapa dasawarsa ke depan.

Dalam tulisan ini, saya membagi pembahasan menjadi tiga sub-bagian, meliputi: Penurunan/Kemunduran HMI (Degradasi), Asal dan Penyebab Degradasi (Eksplanasi), serta Upaya untuk Mengembalikan HMI ke dalam Khittah Perjuangannya (Reformasi).

Degradasi: Penurunan dan Kemunduran HMI

1. SDM, Kognitif, dan Pengabdian

Harus kita akui, Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalam Himpunan Mahasiswa Islam hari ini sangat jauh berbeda dibandingkan beberapa dasawarsa lalu. Kenyataan tersebut dapat dinilai dari berbagai hal, termasuk dalam bidang kognitif. Jika dahulu kader HMI kerap menjadi patron atau role model intelektual yang memprakarsai gagasan, kini banyak yang hanya menikmati dan membanggakan pencapaian masa lalu tanpa menciptakan pembaharuan. Bahkan yang lebih tragis, tidak sedikit kader yang menjadi korban infiltrasi budaya FOMO.

Kemunduran SDM di tubuh HMI juga terlihat dari minimnya kader yang mampu mengisi ruang-ruang pembelajaran. Di dalam tubuh perkaderan HMI sendiri, keterbatasan pemateri yang mumpuni dalam bidang pengetahuan tertentu menjadi bukti mutlak penurunan kualitas SDM. Kealpaan kader HMI dalam mengisi ruang kompetitif berbasis pengetahuan juga menjadi kenyataan yang tak terhindarkan. Jika dahulu setiap kemenangan perlombaan tak pernah berjarak dengan kader HMI, kini sebaliknya; setiap kompetisi tidak lagi mengenal HMI sebagai laboratorium yang melahirkan tunas berkompeten.

Selain aspek intelektual, pengabdian kader terhadap masyarakat juga terasa sangat berjarak dan sepi. Hal ini ditandai dengan tidak adanya keterlibatan program SDM berkelanjutan yang membawa pengaruh matang bagi masyarakat. Yang tersisa hanyalah program momentum dan reaksioner demi menarik perhatian publik semata, bukan sebagai langkah perwujudan untuk kembali kepada Khittah perjuangan HMI.

2. Kepercayaan Publik

Dalam beberapa kesempatan, saya melihat HMI telah mengalami degradasi kepercayaan dari berbagai lapisan, baik dari internal kader HMI, mahasiswa umum, maupun masyarakat luas. Penurunan kepercayaan dalam tubuh kader HMI sendiri dapat ditemukan melalui berbagai keluhan, terkhusus mereka yang dibina dengan metodologi “Ternak Ayam”.

Beberapa kader yang telah mengikuti Maperca maupun Basic Training (LK I) merasa mengalami stagnasi akibat tidak adanya kegiatan lanjutan pasca pelatihan. Seolah-olah mereka seperti anak ayam yang diberi makan sebentar, lalu dilepas begitu saja. Tidak adanya perhatian serius dari pelaksana training terhadap pengembangan kader pasca-LK I membuat HMI kehilangan kepercayaan dari kadernya sendiri. Hal ini berpotensi melahirkan kekecewaan berkepanjangan dan memicu kader untuk meninggalkan HMI demi mencari wahana baru yang sesuai dengan keinginan mereka.

Di sisi lain, penurunan kepercayaan dalam tatanan mahasiswa terlihat dari kuantitas peserta Maperca maupun Basic Training di setiap komisariat yang terus menurun setiap tahunnya. Kenyataan pahit muncul saat dibandingkan dengan beberapa organisasi baru yang justru unggul secara kuantitas dalam proses rekrutmen dibanding HMI yang berdiri sejak 1947. Kendati HMI tidak hanya memandang kuantitas belaka, penurunan minat mahasiswa ini perlu dijadikan bahan refleksi. Kita tidak boleh sekedar membenarkan diri atau berlagak bahwa HMI tidak membutuhkan mereka.

Terakhir, penurunan kepercayaan yang paling terasa adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap HMI. Satu hal menarik yang perlu diperhatikan adalah ketika HMI mencoba mewakili aspirasi maupun keluhan atas nama masyarakat, justru seolah tidak mendapatkan dukungan maupun restu dari masyarakat itu sendiri.

Hal tersebut terlihat dalam berbagai aksi demonstrasi. Di tengah luapan emosi kader melalui sirine maupun mimbar jalanan yang mengatasnamakan rakyat, justru rakyat merasa resah dan memilih diam saat terjadi tindakan represif oleh oknum yang mencederai gerakan. Kejadian ini sangat berbanding terbalik dengan respon masyarakat tahun 1998 terhadap gerakan mahasiswa. Terlepas dari upaya kapitalisme jejaring maupun pemerintah yang mencoba mencederai gerakan, sikap pasif masyarakat adalah kejanggalan yang patut dijadikan refleksi. Saya berkesimpulan, mereka belum sepenuhnya sadar dan percaya kepada perjuangan yang dibawa oleh HMI maupun kelompok lainnya.

Eksplanasi: Analisis Terhadap Penyebab Degradasi HMI

Menurut saya, penyebab penurunan maupun kemunduran HMI—baik dalam bidang kognitif, pengabdian, maupun kepercayaan publik—bukanlah hal yang terjadi secara kebetulan atau sekadar “karena sudah zamannya”. Pernyataan semacam itu hanya membuat kita menjadi pasif dan dikendalikan oleh zaman, bukan sebaliknya.

Pepatah “tidak ada asap tanpa api” sangat tepat untuk menjelaskan kondisi ini. Menurut keyakinan saya, ada beberapa hal yang mengilhami HMI mengalami degradasi, di antaranya:

Pertama, detonator penyebab krisis kognitif adalah dominasi kader yang lebih menitikberatkan aspek politik praktis dan menciptakan garis demarkasi dengan ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat dari prioritas kader yang sibuk mengorganisir massa demi keuntungan finansial atau hal instan lainnya, sehingga cara pandang dan konstruksi nilai menjadi pragmatis secara mengakar. Akibatnya, proses pembelajaran tidak lagi dianggap sebagai kewajiban dan kebutuhan dasar. Padahal, urgensi ilmu pengetahuan sebagai landasan gerak tertera jelas dalam pedoman dasar “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan” (NDP).

Kedua, dampak lanjutan dari sikap abai terhadap ilmu pengetahuan membuat setiap kader tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Hilangnya tanggung jawab sosial membuat gelar mahasiswa tidak lagi direspon dengan aksi nyata. Seolah menjadi bagian dari HMI bukan lagi sebuah proses amanah, melainkan ambisi pribadi untuk mencapai mobilitas vertikal politik dan ekonomi. Keterbatasan SDM, hilangnya semangat kompetitif, dan minimnya kegiatan sosial yang kontinu adalah keniscayaan dari kultur yang memprioritaskan politik di atas kognitif.

Ketiga, penyebab hilangnya kepercayaan kader, mahasiswa, dan masyarakat merupakan dampak dari poin sebelumnya. Ambivalensi kader untuk menetap atau meninggalkan HMI pasca-training disebabkan oleh kekosongan kegiatan berkelanjutan (pragmatis). Kesan “Ternak Ayam” yang dirasakan kader menimbulkan fobia dan nuansa kurang mengenakkan bagi mahasiswa luar, sehingga mereka lebih memilih organisasi lain untuk menempa diri.

Selanjutnya, degradasi kepercayaan masyarakat juga disebabkan oleh fokus HMI yang terlalu teknis (demonstrasi) namun luput dalam membangun hubungan emosional. Perjuangan bukanlah hal ghaib; ia membutuhkan wujud nyata. Pengabdian masyarakat melalui kegiatan produktif seharusnya menjadi bekal untuk melahirkan kesadaran kolektif dan perasaan senasib. Hal ini jauh lebih realistis sebagai batu pijakan perubahan ketimbang berteriak lantang sementara masyarakat tidak merasakan keterikatan apa pun.

Rekonstruksi: Meneguhkan Kembali Khittah Perjuangan HMI

Telah dijelaskan sebelumnya terkait penurunan (Degradasi) dan penyebabnya (Eksplanasi) yang mengakibatkan kemerosotan HMI di berbagai bidang. Namun, ini bukan berarti akhir dari langkah HMI. Masa depan organisasi ini bergantung pada kerja-kerja kolektif berbasis kesadaran setiap kader untuk memperbaiki kembali “kapal tua” bersejarah ini ke arah tujuan dasarnya.

Dalam epilog ini, tanpa bermaksud berpretensi paling benar, secara pribadi saya menawarkan beberapa langkah navigasi untuk mengembalikan HMI ke dalam Khittah Perjuangannya:

  1. Keseimbangan Pengetahuan, Perkaderan, dan Politik. Saya tidak bermaksud memisahkan kader dari arus politik, tetapi menekankan keseimbangan. Pengetahuan adalah pijakan, perkaderan adalah proses, dan politik adalah aksi. Ketiganya memiliki korelasi kuat dan tidak boleh berat sebelah yang mengakibatkan salah satu komponen terabaikan.

  2. Revitalisasi Ruang Pembelajaran. Menjadikan pengetahuan sebagai dasar pijakan tidak hanya mengantarkan pada persaingan politik, tetapi juga menjadi bekal mengisi ruang kaderisasi. Ini penting guna melahirkan regenerasi kompeten dan menginvasi ruang-ruang kompetitif. Langkah realistis di zaman serba instan ini adalah mengembalikan citra HMI sebagai “Laboratorium Umat dan Bangsa”.

  3. Menjahit Kembali Hubungan dengan Masyarakat. Kesadaran berbasis pengetahuan harus mendorong kita untuk menjahit kembali hubungan HMI dan masyarakat melalui kegiatan nyata, berdampak, dan tidak sekadar reaksioner. Hal ini akan membangun kembali kepercayaan dan kerjasama masyarakat terhadap keikhlasan kader HMI dalam mengemban amanat sebagai ujung tombak revolusi.

Dengan ini saya berharap, di usia yang ke-79 tahun, semoga HMI mengalami banyak perubahan positif dari berbagai refleksi dan introspeksi ini. Semoga HMI menjadi lebih baik dan terus menjadi organisasi yang bermanfaat sepanjang sejarah!

- Advertisment -spot_img
Berita Terakait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Topik Populer

Komentar Terbaru