Salah Kaprah Arsitektur Koperasi Desa Merah Putih

Salah Kaprah Arsitektur Koperasi Desa Merah Putih
Bacakan Artikel

intens.id Oleh: Faris Jumawan

Akademisi/Dosen Arsitektur Universitas Fajar

Intens.id -Pembangunan fisik di negeri ini sering kali terjebak dalam jargon kemegahan tanpa memikirkan fungsi jangka panjang. Salah satu contoh nyata yang belakangan ini menarik perhatian adalah pembangunan Koperasi Merah Putih. Membawa nama besar yang sarat akan semangat nasionalisme, proyek ini sayangnya tampak dirancang terburu-buru, dengan metode penentuan lokasi yang terkesan asal tunjuk, serta model bangunan yang tidak nyambung dengan karakteristik masyarakat tempatan. Sebagai seorang arsitek, saya melihat ada lampu kuning yang menyala: proyek ini sedang berjalan menuju kegagalan fungsi atau menjadi monumen mati berikutnya.

​Kesalahan fatal pertama dimulai dari pemilihan lokasi yang mengabaikan analisis tapak (site analysis) yang matang. Dalam dunia arsitektur dan tata kota, sebuah bangunan tidak boleh berdiri secara terisolasi. Ia harus mudah diakses dan berada di jalur pergerakan alami manusia. Ketika sebuah koperasi dibangun di lahan yang sepi atau sulit dijangkau hanya karena tanahnya tersedia atau instruksi sepihak dari atas, maka koperasi tersebut sejak awal sudah kehilangan calon pengunjungnya. Masyarakat harus mengeluarkan ongkos dan energi ekstra hanya untuk datang, sebuah hal yang sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar koperasi yang seharusnya meringankan beban anggotanya.

​Kesalahan kedua yang tidak kalah fatal adalah pemaksaan model bangunan. Koperasi Merah Putih ini dibangun dengan model gedung tertutup, lengkap dengan dinding kaca dan pendingin ruangan (AC), persis seperti gerai ritel modern di kota-kota besar. Masalahnya, gedung ini ditempatkan di wilayah pedesaan yang masyarakatnya masih kental dengan suasana tradisional. Di perkotaan, AC dan kaca mungkin lambang kenyamanan. Namun di desa, arsitektur seperti ini justru menciptakan benteng psikologis. Warga desa, petani, atau nelayan yang terbiasa dengan ruang terbuka akan merasa sungkan, minder, atau canggung untuk masuk ke dalam gedung yang terasa begitu steril dan formal.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2