Mangrove Lantebung dan Harapan Ekonomi Warga Pesisir

Mangrove Lantebung dan Harapan Ekonomi Warga Pesisir
Mangrove Lantebung dan Harapan Ekonomi Warga Pesisir. (Foto: Adi Zulkarnaen)
Bacakan Artikel
Adi Zulkarnaen

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Makassar

Adi Zulkarnaen

Artikel terbaru dari Adi Zulkarnaen (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Intens.id, - Di tengah pembangunan kota yang terus bergerak, ruang-ruang ekologis seperti mangrove Lantebung sering dipandang hanya sebagai tempat wisata. Padahal, ia memiliki fungsi yang jauh lebih penting. Ia menjaga pesisir, menahan luapan air, menjadi tempat hidup biota laut, sekaligus membuka ruang ekonomi bagi warga sekitar.

Lantebung bukan sekadar kawasan mangrove. Ia adalah simpul hidup bagi masyarakat pesisir. Dari sana, warga memperoleh penghasilan dari karcis masuk, parkiran, kuliner, jasa wisata, hingga hasil tangkapan kepiting. Bahkan, sebagian warga pernah terlibat dalam pengolahan kepiting untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Artinya, ketika mangrove tumbuh, ekonomi warga juga ikut bergerak.

Namun, harapan itu kini mulai melemah. Pengunjung berkurang. Fasilitas wisata mulai rusak. Jalan dan jembatan tidak lagi senyaman dulu. Beberapa titik akses terganggu. Situasi ini membuat wisatawan enggan datang. Ketika wisatawan tidak datang, pendapatan warga ikut menurun. UMKM kehilangan pembeli. Jasa wisata sepi. Aktivitas ekonomi yang dulu hidup mulai tersendat.

Masalah lantebung bukan hanya soal wisata yang kehilangan daya tarik. Ini soal cara kita memandang ekowisata. Banyak kawasan wisata dibangun dengan semangat besar di awal, tetapi dibiarkan melemah ketika membutuhkan perawatan. Padahal, ekowisata tidak bisa hidup hanya dari peresmian, papan nama, dan promosi sesaat. Ia membutuhkan pemeliharaan rutin, pengelolaan yang jelas, serta dukungan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam konteks ini, Lantebung memperlihatkan ironi pembangunan wisata berbasis lingkungan. Kawasan ini memiliki potensi ekologis dan ekonomi, tetapi belum mendapatkan perhatian yang sebanding. Warga sudah melihat peluang. Mereka membayangkan kuliner kepiting, keripik kepiting, kerupuk kepiting, olahan laut, suvenir khas mangrove, penyewaan perahu, homestay sederhana, hingga wisata edukasi lingkungan. Namun, semua peluang itu sulit berkembang tanpa modal, fasilitas, pelatihan, dan promosi yang memadai.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: