Menitipkan Anak pada Sistem yang Rapuh, Pulang Lewat Jalan yang Rentan

Setiap pagi, ada jutaan ibu di Indonesia yang melakukan satu hal yang sama, yakni menelan rasa bersalah. Mereka meninggalkan anaknya di rumah, di tangan pengasuh, atau di daycare dengan satu doa y...

Menitipkan Anak pada Sistem yang Rapuh, Pulang Lewat Jalan yang Rentan
Bacakan Artikel

Jalurdua.com Setiap pagi, ada jutaan ibu di Indonesia yang melakukan satu hal yang sama, yakni menelan rasa bersalah.

Mereka meninggalkan anaknya di rumah, di tangan pengasuh, atau di daycare dengan satu doa yang berulang, “Ya Allah, jaga anakku saat aku tidak ada”.

Namun pertanyaannya hari ini menjadi jauh lebih menakutkan. Apakah doa itu sedang menggantikan fungsi sistem yang seharusnya bekerja?

Kasus kekerasan di daycare yang kembali viral bukanlah kejadian tunggal. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menegaskan bahwa kekerasan di daycare terjadi berulang dan membutuhkan evaluasi nasional menyeluruh.

Sepanjang tahun 2024 saja, KPAI menerima 2.057 pengaduan kasus terkait anak, angka yang menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak bukan sesuatu yang sporadis, tapi sistemik. Bahkan pada 2025, tercatat sekitar 2.031 kasus kekerasan terhadap anak, dengan lebih dari 51% korban adalah anak perempuan.

Artinya, setiap hari ada anak yang terluka, dan sebagian dari mereka adalah anak-anak yang dititipkan karena orang tuanya bekerja.

Sebagai ibu bekerja, saya membaca angka-angka ini bukan sebagai statistik, tapi sebagai kemungkinan. Kemungkinan bahwa anak saya bisa menjadi salah satu dari angka itu.

Lalu kita beralih ke sisi lain dari realitas, di mana ibu-ibu yang berangkat bekerja. Data Kementerian PPPA menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia pada 2024 mencapai 56,42%.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: