“Sebagian mahasiswi Muslimah bukan lagi takut tidak lulus. Mereka takut tidak punya arah hidup.”
Media sosial dipenuhi pencapaian: teman menikah, wisuda cumlaude, lolos CPNS, dapat beasiswa luar negeri, hingga sukses membangun bisnis. Sementara di sisi lain, banyak mahasiswi Muslimah justru duduk sendiri di kamar kos sambil bertanya dalam diam, “Aku sebenarnya mau jadi apa?”
Fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis. Fase krisis emosional yang banyak dialami usia 18–25 tahun ketika seseorang mulai memasuki dunia dewasa. Pada mahasiswi, tekanan ini sering kali lebih kompleks karena mereka tidak hanya menghadapi tuntutan akademik dan karier, tetapi juga ekspektasi sosial, keluarga, bahkan standar “perempuan ideal” menurut lingkungan.
Merujuk pada Character Jurnal Penelitian Psikologi tentang “Faktor Penyebab Quarter life crisis Di Kalangan Mahasiswa”, Quarter life crisis dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam diri maupun dari lingkungan luar. Faktor internal meliputi ekspektasi yang tidak tercapai, keraguan terhadap diri sendiri, dan ketidakpastian masa depan.
Sementara itu, faktor eksternal meliputi tekanan sosial dari pertanyaan seputar kelulusan dan pekerjaan, paparan terhadap gaya hidup ideal di media sosial, tuntutan zaman yang serba cepat, serta ekspektasi budaya dari keluarga dan teman sebaya. Tekanan-tekanan ini memicu kecemasan, perbandingan sosial, dan ketidakstabilan emosi.
Ada pertarungan batin antara mimpi pribadi dan ekspektasi sosial. Mereka ingin berkarier, tapi takut dicap terlalu ambisius. Mereka ingin menikah, tapi belum siap secara mental dan finansial. Mereka ingin menjadi perempuan salehah, tetapi media sosial terus menggiring standar hidup yang serba sempurna. Akibatnya, banyak yang merasa tertinggal, gagal, bahkan kehilangan makna hidup.
Ironisnya, lingkungan sering meremehkan kondisi ini dengan kalimat, seperti:
“Kurang bersyukur.”
“Kurang ibadah.”
“Itu cuma overthinking.”
Padahal quarter life crisis bukan sekadar drama anak muda. Penelitian menunjukkan bahwa krisis ini berkaitan dengan menurunnya kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis mahasiswa (Undergraduate Research Journals).
Jadi, akar masalah terbesar quarter life crisis pada mahasiswi Muslimah hari ini adalah hilangnya ruang untuk bertumbuh secara manusiawi.
Mereka dipaksa cepat berhasil, cepat mapan, cepat menikah, cepat “jadi orang”, padahal proses mengenal diri sendiri saja belum selesai.
Islam sebenarnya tidak pernah mengajarkan hidup sebagai perlombaan pencapaian. Dalam Islam, manusia dinilai dari proses ikhtiar dan ketakwaannya, bukan seberapa cepat ia menyamai hidup orang lain. Sayangnya, nilai ini sering kalah oleh budaya perbandingan di media sosial.
Karena itu, mahasiswi Muslimah perlu mulai memahami, bahwa:
1. Hidup bukan perlombaan, tentang siapa paling cepat sukses;
2. Menikah bukan solusi semua keresahan;
3. Gagal di usia 20-an bukan akhir kehidupan.
Quarter life crisis bisa menjadi titik hancur, tetapi juga bisa menjadi titik lahirnya kedewasaan. Sebab terkadang, Allah Subhanahu wa Ta’ala memang sengaja membuat manusia bingung agar ia berhenti bergantung pada validasi dunia dan mulai menemukan dirinya sendiri.
Bida jadi, menjadi dewasa bukan tentang sudah memiliki atau mencapai semuanya, melainkan tetap bertahan dan tetap berjalan, meski belum tahu hidup akan ke mana.





