Oleh: Sarah Agussalim
Kader HMI Cabang Makassar
Di tengah derasnya arus pragmatisme yang berkelindan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sesungguhnya memiliki modal ideologis yang sangat kuat, yakni Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP). NDP bukan sekadar teks ideologis, ia adalah landasan moral dan etika yang memadukan nilai tauhid, keilmuan, dan tanggung jawab sosial.
Ideologi merupakan tata nilai yang diyakini kebenarannya dan diperjuangkan untuk diwujudkan. Semangat kolektif inilah yang juga dibawa oleh NDP HMI, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan fondasi pembentukan karakter kader yang menegaskan sikap kokoh secara moral dan matang secara spiritual.
Sayangnya, NDP kerapkali tereduksi menjadi simbol, bukan substansi. Ia dikultuskan dalam bentuk slogan, tetapi tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Ketika kader mudah berkompromi dengan ketidakadilan, atau organisasi kehilangan keberpihakan pada rakyat kecil, di situlah kita patut bertanya: di mana NDP ditempatkan?
Tulisan ini hendak menegaskan bahwa krisis karakter kader HMI bukan disebabkan oleh ketiadaan nilai, melainkan oleh kegagalan kolektif dalam menginternalisasi dan mengontekstualisasikan NDP. Melihat fenomena ini, kader HMI membutuhkan transformasi kepemimpinan secara kolektif.
Untuk mencapai kepemimpinan transformasional memiliki ciri kepemimpinan visioner, adaptif pada perubahan, berbasis nilai islam dan fokus pada peningkatan sumber daya manusia. Sehingga kepemimpinan hari ini terfokus pada paradigma kepemimpinan islam yang rahmatan lil alamin. Kepemimpinan hari ini harus menjadikan NDP sebagai panduan etis untuk melakukan transformasi sosial beradaptasi.





