Sinergi Pemerintah, Pengusaha, dan Rakyat: Resep Jusuf Kalla Hadapi Guncangan Ekonomi

Sinergi Pemerintah, Pengusaha, dan Rakyat: Resep Jusuf Kalla Hadapi Guncangan Ekonomi
Jusuf Kalla: Merajut Tiga Pilar Ketahanan Ekonomi di Tengah Pusaran Badai Global. - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Intens.id, - Di tengah riuhnya tantangan ekonomi global dan domestik yang tak kunjung mereda, suara seorang veteran kembali menggema, menawarkan peta jalan yang telah teruji waktu. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, berdiri di hadapan para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), di Hotel Claro Makassar, Senin (3/8/2026). Ia bukan sekadar berpidato, melainkan merajut ulang benang-benang vital yang menurutnya adalah kunci utama ketahanan ekonomi bangsa: sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Kalla, yang akrab disapa JK, memulai paparannya dengan gambaran lugas. "Suatu negara yang ingin maju selalu mempunyai tiga hal pokok yang menjadi penunjang ekonomi bangsa," ujarnya, sorot matanya tajam. "Pertama pemerintah, kedua pengusaha, dan ketiga masyarakat." Pernyataan itu bukan sekadar teori ekonomi, melainkan fondasi kokoh yang selama ini menopang keberlangsungan sebuah negara, dari hiruk pikuk pasar tradisional hingga lantai bursa global.

Dalam pandangan JK, pemerintah memegang peranan sebagai arsitek. Mereka yang merancang regulasi yang adil, membangun infrastruktur yang menopang mobilitas, serta menyediakan layanan publik yang efektif. Tanpa pondasi ini, roda perekonomian akan berjalan pincang. Sementara itu, di sisi lain, pengusaha adalah motor penggerak sesungguhnya. "Yang membangun ekonomi adalah para pengusaha, karena pengusaha membuka lapangan pekerjaan, menciptakan industri, mempekerjakan banyak orang, dan membayar pajak," tegasnya, menggarisbawahi kontribusi nyata yang kerap terabaikan.

Namun, JK mengingatkan, kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak bisa hanya bertumpu pada satu atau dua pilar saja. Ia menyoroti pentingnya keseimbangan, sebuah titik temu antara peran pemerintah yang kuat dan mekanisme pasar yang dinamis. Perkembangan ekonomi dunia, lanjutnya, menunjukkan adanya pergeseran pola, di mana dominasi pasar bebas mulai kembali memberi ruang bagi peran negara yang lebih substansial. "Yang penting adalah keseimbangan antara pemerintah dan dunia usaha," jelas JK, menyiratkan bahwa intervensi yang tepat dari pemerintah justru dapat menstimulasi, bukan menghambat, pertumbuhan.

Ekonomi Indonesia saat ini, menurut JK, bagaikan kapal yang berlayar di tengah badai. Tekanan datang dari berbagai arah, baik eksternal maupun internal. Dari kancah global, konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina bukan sekadar berita di televisi, melainkan faktor pemicu kenaikan harga energi yang berdampak langsung pada biaya produksi. Imbasnya, harga kebutuhan pokok di pasaran bisa melambung, memberatkan pundak setiap keluarga. Persaingan ekonomi juga semakin ketat, terutama dengan raksasa seperti Tiongkok, yang menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: