Karhutla dan Beban Ekonomi Indonesia

Karhutla dan Beban Ekonomi Indonesia
Tim Manggala Agni berjibaku memadamkan api.
Bacakan Artikel

Intens.id - Kabut asap pekat kembali menyelimuti sebagian wilayah Indonesia, menjadi pengingat tahunan akan siklus bencana yang tak kunjung usai, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Tidak berhnti sebagai isu lingkungan atau ancaman kesehatan, Karhutla telah menjelma menjadi beban ekonomi kronis yang menghambat laju pembangunan, mengikis daya saing, dan memperparah ketimpangan di berbagai daerah di Indonesia. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan terjadi, melainkan seberapa parah dampaknya tahun ini, dan mengapa akar masalah ekonominya justru terus mengabadikan siklus tragis ini.

Setiap musim kemarau, terutama di pulau-pulau seperti Sumatera dan Kalimantan, lanskap hijau yang subur kerap berubah menjadi hamparan abu dan asap. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara konsisten menunjukkan bahwa ribuan hektare lahan terbakar setiap tahun, dengan puncaknya seringkali terjadi pada tahun-tahun El Nino. Kerugian yang ditimbulkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, seringkali diperkirakan mencapai triliunan rupiah, jauh melampaui biaya operasional pemadaman api. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari erosi ekonomi yang dialami bangsa ini.

Dampak Ekonomi Karhutla, Biaya yang Tak Terlihat

Dampak ekonomi Karhutla bersifat multidimensional dan seringkali tersembunyi di balik kabut asap. Secara langsung, kerugian meliputi hilangnya nilai ekonomi dari hutan dan lahan yang terbakar kayu, hasil hutan non-kayu, serta potensi ekowisata. Infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik juga rentan rusak. Namun, kerugian terbesar justru datang dari biaya tidak langsung yang menyebar ke berbagai sektor:

1. Kesehatan Publik: Asap Karhutla mengandung partikel berbahaya (PM2.5) yang menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, dan penyakit pernapasan lainnya. Biaya pengobatan, hilangnya produktivitas akibat sakit, dan bahkan kematian dini, adalah beban ekonomi yang signifikan bagi negara dan individu. Studi menunjukkan bahwa puluhan juta penduduk di Indonesia dan negara tetangga terpapar asap, dengan biaya kesehatan yang ditanggung mencapai miliaran dolar AS dalam satu kejadian parah.
2. Transportasi dan Logistik: Jarak pandang yang rendah akibat asap mengganggu jadwal penerbangan, pelayaran, dan transportasi darat. Aktivitas ekonomi terhenti, rantai pasok terganggu, dan biaya logistik meningkat. Pembatalan penerbangan dan penutupan pelabuhan adalah pemandangan umum saat Karhutla memuncak.
3. Pariwisata: Wilayah yang indah dan menjadi daya tarik turis, seperti taman nasional atau destinasi pantai, kehilangan pengunjung. Destinasi-destinasi di Sumatera dan Kalimantan yang terdampak asap seringkali sepi, menyebabkan kerugian pendapatan bagi pelaku usaha lokal dan pemerintah daerah. Citra Indonesia sebagai tujuan wisata yang sehat dan aman pun tercoreng.
4. Pertanian dan Perkebunan: Meskipun Karhutla seringkali dikaitkan dengan pembukaan lahan perkebunan, api yang tidak terkontrol dapat merusak lahan perkebunan yang sudah ada atau lahan pertanian rakyat. Kualitas tanah menurun, hasil panen terganggu, dan produktivitas jangka panjang terancam.
5. Investasi dan Daya Saing: Karhutla menciptakan ketidakpastian iklim investasi. Investor akan berpikir ulang untuk menanamkan modal di wilayah yang rentan bencana asap. Citra negatif di mata internasional juga dapat memengaruhi ekspor produk Indonesia, terutama dari sektor yang terkait dengan isu keberlanjutan.
6. Emisi Karbon dan Perubahan Iklim: Kebakaran di lahan gambut, yang kaya akan cadangan karbon, melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Ini mempercepat perubahan iklim global dan mengikis upaya Indonesia untuk memenuhi komitmen iklimnya, yang pada gilirannya dapat berdampak pada akses ke pendanaan iklim atau pasar karbon internasional.

Akar Ekonomi Karhutla

Mengapa Karhutla terus terjadi, bahkan setelah berbagai upaya pencegahan dan penegakan hukum?ย 

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: