Perundungan dan Diamnya Orang Dewasa

Perundungan dan Diamnya Orang Dewasa
ilustrasi by AI
Bacakan Artikel
Rika Arlianti DM

Penulis, Pegiat Isu Pendidikan dan Anak

Oleh: Rika Arlianti DM

Ada sesuatu yang seharusnya tidak pernah dirasakan seorang anak ketika melangkahkan kaki ke sekolah, yakni rasa takut.

Sekolah semestinya menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bertumbuh, membangun pertemanan, dan mengenali kehidupan. Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang yang diduga mengalami perundungan oleh kakak kelasnya menjadi pengingat bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan bukanlah persoalan sepele. Di balik peristiwa tersebut, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan, “Sejauh mana kita telah memastikan bahwa anak-anak benar-benar terlindungi di lingkungan tempat mereka menuntut ilmu?”

Kasus ini tidak seharusnya berhenti menjadi berita yang ramai dibicarakan beberapa hari lalu, kemudian dilupakan ketika perhatian publik beralih pada isu lain. Sebab, perundungan bukan sekadar persoalan antara anak yang menyakiti dan anak yang disakiti. Ada lingkungan, pola asuh, pengawasan, serta respons orang dewasa yang turut menentukan bagaimana perilaku tersebut dapat terjadi dan ditangani.

Perundungan yang Kerap Dianggap Kenakalan Biasa

Salah satu persoalan dalam menghadapi perundungan adalah kecenderungan untuk menormalisasinya. Ejekan dianggap sebagai candaan, tindakan mengintimidasi disebut sebagai bentuk keakraban, sementara kekerasan antar anak terkadang dipandang sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Kalimat seperti "Namanya juga anak-anak" atau "Nanti juga mereka baikan sendiri" sering kali dijadikan alasan untuk mengabaikan perilaku yang menyakiti. Padahal, pembiaran justru dapat membuka ruang bagi perundungan untuk terus berulang.

Tidak semua konflik antar anak dapat dikategorikan sebagai perundungan. Namun, tindakan yang bertujuan menyakiti, mempermalukan, mengintimidasi, atau mendominasi anak lain perlu ditangani secara serius.

Anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan emosional dan sosial. Mereka membutuhkan pendampingan untuk memahami batasan, menghargai orang lain, dan menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kita tidak bisa berharap anak tumbuh dengan empati jika perilaku yang menyakiti justru dianggap lumrah oleh lingkungan sekitarnya.

Ketika Anak Takut untuk Bercerita

Tidak semua anak mampu menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya. Ada yang memilih diam karena takut, malu, merasa tidak akan dipercaya, atau khawatir keadaan justru menjadi lebih buruk jika mereka berbicara.

Di sinilah kepekaan orang dewasa menjadi sangat penting. Perubahan perilaku, seperti anak yang mendadak jadi pendiam, enggan berangkat ke sekolah, atau menunjukkan kecemasan, patut menjadi perhatian. Meski tidak selalu berkaitan dengan perundungan, perubahan tersebut bisa menjadi alasan untuk mendekat dan mencari tahu tanpa menghakimi.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: