Kritik Ghodsee dan Ilusi Pilihan Perempuan dalam Cengkeraman Kapitalisme

Oleh: Nur Sukma Dwi Priyanti Perempuan berhak memilih apa pun yang ia mau, menjadi ibu rumah tangga, berkarier, atau keduanya sekaligus. Semua pilihan sah, valid, dan terhormat. Namun kenyataan sosia...

Kritik Ghodsee dan Ilusi Pilihan Perempuan dalam Cengkeraman Kapitalisme
Bacakan Artikel

Fakta di Indonesia memperkuat logika Ghodsee. Survei BPS 2023 mencatat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 54,49%, jauh tertinggal dari laki-laki (84,04%). Di Makassar sendiri, Dinas Pemberdayaan Perempuan 2024 mencatat ketimpangan serupa, banyak perempuan yang ingin bekerja, tapi terhambat oleh norma domestik dan akses kerja yang tidak ramah ibu.

Bahkan data Simfoni PPA 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 70% kasus KDRT memiliki motif ekonomi, yang memperlihatkan bagaimana ketergantungan finansial membuat perempuan sulit keluar dari relasi tidak sehat. Di titik ini, argumen Ghodsee sangat benar: ketika perempuan punya akses ekonomi yang mandiri, mereka bisa mencintai bukan karena butuh bertahan hidup, tetapi karena mau.

Di masa kini praktik seks demi uang bukan hal asing dari sugar dating, prostitusi online terselubung, hingga โ€œkompensasi kebutuhan hidupโ€ yang dibungkus rapi. Semua terjadi karena sistem yang membuat tubuh perempuan bernilai ekonomi. Ketika pasar mengatur cinta, maka perempuan tidak lagi mencintai sebagai subjek, melainkan diperdagangkan sebagai komoditas.

Properti itu adalah Perempuan

Dalam novel The Handmaidโ€™s Tale, Republik Gilead mencabut akses perempuan atas pekerjaan dan tabungan, memindahkan kontrol finansial kepada laki-laki. Kedengarannya ekstrem, tapi jejaknya bisa kita temukan dalam sejarah nyata. Di awal revolusi industri, perempuan dianggap inferior, lemah, emosional, tidak rasional, sehingga upah mereka selalu lebih rendah. Ketika mereka menuntut kesetaraan, jawabannya bukan negosiasi, melainkan pemecatan.

Ghodsee mengingatkan bahwa patriarki bukan sekadar kebiasaan, melainkan sistem yang memproduksi ketergantungan. Hingga kini bias serupa masih terasa. Di kampus dan dunia kerja, dosen atau pemimpin perempuan sering dianggap kurang kompeten karena harus โ€œmembagi fokusโ€ dengan rumah. Perempuan bekerja pun tetap dituntut mengasuh, memasak, merawat keluarga, sementara laki-laki dianggap โ€œmembantuโ€, padahal tanggung jawab yang sama seharusnya melekat pada keduanya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: