Ketika Anak Bertemu Dunia yang Tidak Selalu Aman

Oleh: Rika Arlianti DM

Ketika Anak Bertemu Dunia yang Tidak Selalu Aman
ilustrasi by AI
Bacakan Artikel
Rika Arlianti DM

Penulis, Pegiat Isu Pendidikan dan Anak

Saya kira ini bagian yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang perlindungan anak. Kita begitu sibuk mengajarkan anak agar berhati-hati terhadap orang lain, tetapi kadang lupa memastikan bahwa anak merasa aman untuk bercerita kepada kita. Padahal pengawasan tanpa kedekatan bisa membuat anak pandai menyembunyikan sesuatu.

Sebaliknya, kedekatan yang sehat membuat anak punya tempat untuk kembali ketika ia bingung. Dan tentu saja, semua tanggung jawab ini tidak boleh diletakkan hanya di pundak orang tua.

Sekolah juga punya peran. Guru perlu mengajarkan bahwa menjaga diri bukan sekadar materi pelajaran, melainkan bagian dari kehidupan.

Anak perlu mengenal batas tubuh, batas privasi, relasi yang sehat, keamanan digital, serta cara meminta bantuan ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Bukan untuk membuat anak takut kepada dunia. Justru supaya mereka cukup mengenal dunia untuk bisa menjalaninya dengan lebih aman.

Sebab kita tidak mungkin selamanya berada di samping mereka. Akan ada hari ketika mereka pergi sendiri, membawa telepon sendiri, bertemu orang baru, dan membuat keputusan sendiri.

Pada saat itu, yang kita harapkan bukan anak yang takut kepada semua orang. Melainkan anak yangย mengenal nilai dirinya, memahami batasnya, mampu mengatakan tidak, dan tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan.

Ada satu hal lagi yang menurut saya penting. Ketika membaca berita tentang anak yang menjadi korban kekerasan seksual, jangan buru-buru bertanya, "Kenapa dia mau pergi?", "Kenapa dia percaya?", "Kenapa tidak melawan?" dan "Kenapa tidak cerita dari awal?".

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: