Kemiskinan Struktural Menyingkirkan Perempuan: Kapitalisme dan Demokrasi Liberal Jadi Akar Masalah

Kemiskinan Struktural Menyingkirkan Perempuan: Kapitalisme dan Demokrasi Liberal Jadi Akar Masalah
Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi (berdiri depan tiga dari kanan) hadir sebagai pemantik dalam diskusi Pendidikan Publik di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Kamis (9/7). (Foto: Dokumentasi AMAN
Bacakan Artikel

 "Maka dipastikan perempuan tersebut tidak berpendidikan dan seumur hidupnya akan hidup dari belas kasihan saudara laki-lakinya," tegasnya. Rukka menyimpulkan dengan nada prihatin, Dunia ini memang tidak adil terhadap perempuan. Negara ini juga tidak adil terhadap perempuan.

Lebih lanjut, Rukka menyoroti bahwa dalam perlawanan terhadap model ekonomi ekstraktif yang menyingkirkan perempuan, tanpa disadari seringkali terjadi hegemoni terhadap perempuan itu sendiri. Ia menjelaskan, bagi perempuan adat, ruang domestik seperti dapur, rahim, kebun di samping rumah, sumur, hutan, savana, gunung-gunung, dan sungai-sungai bukan hanya ruang kelola, tetapi juga sumber kekuatan politik. Namun, masyarakat kerap kali romantis tentang perempuan adat sebagai penjaga pengetahuan, pendidik masa depan bangsa, dan penjaga keanekaragaman hayati, tetapi di sisi lain tidak menerima ketika perempuan memilih untuk tetap di kampung dan menjaga pengetahuannya.

Rukka mengkritik pandangan yang sering memaknai perempuan kuat hanya sebagai mereka yang muncul di garis depan, berorasi dalam demonstrasi, atau ikut dalam pertemuan dengan DPR.

"Tanpa disadari, anggapan ini terkesan diskriminasi karena tidak bersungguh-sungguh memberikan nilai politik yang sama terhadap yang berada di garis depan dan perempuan-perempuan yang menyediakan makanan bagi para pejuang kampung," ungkapnya.

Ia menambahkan, ketika kampung diinvasi pembangunan dan perempuan menjadi korban, perjuangan seringkali hanya dinilai dari aksi laki-laki yang memblokir jalan atau mengusir perusahaan. "Kita lupa memberikan nilai kepada ibu-ibu yang memberi makan. Peminggiran perempuan kadang secara tidak sadar kita mengikuti tren, kita menganggap ruang-ruang domestik tidak layak diberi nilai politik," jelas Rukka.

Tantangan dalam RUU Masyarakat Adat dan Pengakuan Hak Perempuan

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: