Hijrah dan Refleksi Muharram; Bulan Iman, Perlawanan, dan Keadilan

Oleh: Inra Kurniawan (Fungsionaris Himpunan Mahasiswa Islam Badan Koordinasi Sulawesi Selatan). Muharram bukan hanya pembuka tahun baru Islam, tetapi juga pengingat akan sejarah kelam yang menyimpan...

Hijrah dan Refleksi Muharram; Bulan Iman, Perlawanan, dan Keadilan
Bacakan Artikel

Ulama besar Sunni seperti Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa bulan Muharram adalah waktu untuk memperbanyak ibadah dan menjauhi konflik. Namun, bukan berarti diam terhadap kebatilan. Sebagaimana firman Allah dalam QS.At-Taubah ayat 36, umat diperintahkan untuk tidak menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram, termasuk Muharram. Ini bisa dimaknai sebagai seruan moral untuk menjauhi segala bentuk kezaliman.

Meski pendekatan ritualnya tidak sama, Sunni pun memegang nilai bahwa Muharram adalah waktu meneguhkan ketaatan kepada Allah, keberanian membela kebenaran, dan menolak kezaliman dalam bentuk apapun.

Muharram: Pesan dan Kritik terhadap Kekuasaan yang Menyimpang

Kisah Imam Husain menjadi pelajaran universal bahwa kekuasaan tidak boleh dikultuskan. Bahkan ketika ia memakai jubah agama. Imam Husain menolak baiat (sumpah setia kepada pemimpin) kepada Yazid Bin Muawiyah karena tahu bahwa penguasa itu tidak memenuhi syarat moral sebagai pemimpin umat. Dalam konteks hari ini, Imam Husain melawan legitimasi politik yang dibangun di atas kerusakan dan kebohongan.

Dalam konteks keindonesiaan, kita hidup dalam lanskap demokrasi yang kerap disusupi praktik oligarki, masih kental politik transaksional, dan penegakan hukum yang belum terlaksana dengan ideal. Dalam situasi ini, refleksi Asyura menjadi sangat relevan bahwa agama harus menjadi alat koreksi, bukan alat pembenaran kekuasaan.

Nurcholish Madjid: Islam Bukan Agama Kekuasaan

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: