Gelar Lapak Baca, Mahasiswa Ubhara Jaya Kritik Kampus yang Dinilai Belenggu Nalar Kritis

Gelar Lapak Baca, Mahasiswa Ubhara Jaya Kritik Kampus yang Dinilai Belenggu Nalar Kritis
Dok. Pribadi
Bacakan Artikel

Di balik aktivitas literasi tersebut, para mahasiswa menyoroti kultur kampus yang dianggap anti-kritik. Mereka menyebut adanya pengalaman terkait ancaman atau tekanan terhadap mahasiswa yang mencoba mengorganisasi diri dan menyuarakan pendapat.

Bagi mereka, kondisi ini adalah persoalan serius. Mahasiswa mempertanyakan esensi pendidikan tinggi jika mereka hanya diperbolehkan pintar di ruang kelas, tetapi dipersoalkan saat mencoba membaca realitas di luar kelas.

Lapak baca gratis ini pun menjadi simbol perlawanan intelektual. Tanpa pungutan biaya, syarat keanggotaan, maupun kepentingan komersial, mahasiswa menyediakan ruang nyata untuk berdiskusi dan membaca buku-buku di luar daftar bacaan perkuliahan.

โ€œKalau membaca saja dicurigai, berdiskusi dianggap mengganggu, dan mahasiswa yang membangun gerakan justru diancam, lalu di mana sebenarnya ruang mahasiswa untuk belajar menjadi warga negara yang kritis?โ€ ungkap pernyataan mahasiswa dalam rilis tersebut.

Bukan Bermusuhan, Melainkan Dinamika Akademik

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: