Blue dan Green Economy: Peta Jalan Sulsel 2045

Oleh: Abang Akbar Mahasiswa Pascasarjana FEB Unhas Makassar - Visi Indonesia Emas 2045 tak akan tercapai tanpa peran Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebagai salah satu provinsi penopang ekonomi Kawasan...

Blue dan Green Economy: Peta Jalan Sulsel 2045
Bacakan Artikel

Pilar I: Green Economy Melawan Jebakan Tambang

Ekonomi Hijau menuntut Sulsel untuk menghentikan degradasi sumber daya lahan, yang saat ini paling terancam oleh masifnya aktivitas pertambangan.

Eksploitasi tambang di beberapa wilayah Sulsel memberikan efek domino negatif yang terukur. Dampaknya sangat kontras dengan peran sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang merupakan sektor utama masyarakat, menyerap hingga 40% angkatan kerja.

Data KLHK menunjukkan, pembukaan lahan untuk tambang, yang sering tumpang tindih dengan kawasan hutan, berkontribusi pada deforestasi dan hilangnya vegetasi di wilayah hulu. Konsekuensinya, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor meningkat tajam.

Para ahli dari lembaga riset seperti ICRAF telah berulang kali mengingatkan bahwa hanya melalui strategi agroforestri dan pertanian regeneratif, kita dapat meningkatkan hasil komoditas unggulan sekaligus mengatasi ancaman krisis iklim. Pertambangan adalah antitesis dari strategi ini.

Oleh karena itu, keberhasilan Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau (GGP) Sulsel harus diukur dari keberanian untuk mengintegrasikan regulasi pertambangan ke dalam prinsip Green Economy. Investasi harus diwajibkan untuk mengadopsi teknologi rendah-karbon dan memiliki rencana reklamasi yang transparan, bukan sekadar menjadi pemanis izin. Jika tidak, keuntungan tambang hanya akan dinikmati segelintir pihak, sementara biaya lingkungan ditanggung oleh seluruh rakyat Sulsel hingga 2045.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: