Agama atau Budaya: Siapa yang Sebenarnya MembatasiPerempuan?

Oleh: Afifah Annisa Fitri Di Indonesia hari ini, perempuan kerap hidup dalam ruang yang penuh penilaian. Cara berpakaian, cara berbicara, hingga keberadaan di ruang publik sering diatur atas nama mor...

Agama atau Budaya: Siapa yang Sebenarnya MembatasiPerempuan?
Bacakan Artikel

Intens.id, Jalurdua.com Oleh: Afifah Annisa Fitri

Di Indonesia hari ini, perempuan kerap hidup dalam ruang yang penuh penilaian. Cara berpakaian, cara berbicara, hingga keberadaan di ruang publik sering diatur atas nama moral dan agama. Tidak jarang, pembatasan itu dibungkus dengan narasi kesalehan, seolah-olah Islam memang menghendaki perempuan untuk diam dan patuh. Padahal, anggapan semacam ini patut dipertanyakan: apakah benar agama yang membatasi perempuan, atau justru budaya patriarki yang berlindung di baliknya?

Padahal Islam tidak pernah meletakkan perempuan pada posisi yang lebih rendah. Al-Qurโ€™an menegaskan bahwa kemuliaan manusiaย ditentukan oleh ketakwaan, bukan oleh jenis kelamฤฑn yangย tertuang dalam QS. Al-Hujurat: 13. Ayat ini menunjukkan bahwaย Islam sejak awal menolak hierarki kemanusiaan berbasis gender. Laki-laki dan perempuan sama-sama diposisikan sebagai subjekย moral yang bertanggung jawab atas iman dan amalnya. Bahkan, Al-Qurโ€™an menjanjikan kehidupan yang baik bagi siapapun yang beriman dan beramal saleh, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan seperti dalam QS. An-Nahl: 97

Sejarah awal Islam pun memperkuat prinsip tersebut. Perempuan tidak dikurung di ruang domestik semata, melainkan hadirย aktif dalam kehidupan sosial dan intelektual. Khadijah dikenal sebagai pedagang sukses sekaligus penopang utama dakwahย Nabi. Aisyah menjadi rujukan ilmu dan perawi hadis yangย pendapatnya dihormati. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa pembatasan perempuan bukanlah watak asli Islam, melainkan konstruksiย sosial yang berkembang kemudian.

Masalah muncul ketika ajaran agama ditafsirkan dalam budaya yangย patriarkal. Tafsir keagamaan, sebagai hasil pemikiran manusia, tidak lepas dari konteks sosial tempat ia lahir. Dalam masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa, tafsir agama pun kerap mereproduksi ketimpangan tersebut. Budaya lalu disakralkan, diperlakukan seolah-olah sebagai bagianย mutlak dari ajaran agama. Akibatnya, perempuan sering diposisikanย sebagai sumber fitnah dan objek pengendalian moral , bukan sebagai individu bermartabat yang memiliki kehendakย dan akal.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2