Agama atau Budaya: Siapa yang Sebenarnya MembatasiPerempuan?

Oleh: Afifah Annisa Fitri Di Indonesia hari ini, perempuan kerap hidup dalam ruang yang penuh penilaian. Cara berpakaian, cara berbicara, hingga keberadaan di ruang publik sering diatur atas nama mor...

Agama atau Budaya: Siapa yang Sebenarnya MembatasiPerempuan?
Bacakan Artikel

Kondisi ini tampak jelas dalam realitas Indonesia hari ini. Berbagai aturan moral dan norma sosial lebih banyak mengontrolย tubuh dan perilaku perempuan ketimbang melindungiย mereka. Dalam kasus kekerasan seksual, misalnya, korban sering kali justru disalahkan atas cara berpakaian atau perilakunya. Agama pun kerap dijadikan legitimasi untuk membenarkanย penghakiman tersebut. Di titik ini, agama kehilangan fungsi etiknya dan berubah menjadi alat kontrolsosial.

Padahal, Islam hadir dengan misi rahmatan lil โ€˜alamin yakni membawaย kasih sayang dan keadilan bagi seluruh manusia. Ketika agama digunakan untuk membatasi, membungkam, dan menghakimi perempuan, maka yang bermasalah bukanlah Islam itu sendiri, melainkan cara manusia memahaminya. Kritik terhadap tafsir yang bias gender bukanlah bentuk penolakan terhadapย agama, melainkan upaya mengembalikan agama pada nilai keadilannya.

Sudah saatnya kita berani membedakan mana ajaran agama dan mana warisan budaya. Tidak semua yang mengatasnamakan agamaย benar-benar mencerminkan kehendak Tuhan. Perempuan bukan objek yang harus terus diawasi, melainkan subjek bermoralย yang memiliki hak untuk menentukan pilihanhidupnya. Jika agama terus dipakai untuk membatasi perempuan, maka pertanyaan โ€œagama atau budaya?โ€ menemukan jawabannya: yang membatasi bukanlah iman, melainkan tafsir dan budaya yang enggan dikritik. Sebab agama yang sejati tidak pernah meniadakan kemanusiaan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2