Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara

Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara
Seminar Nasional Matano 2026: Sinergi Akademisi dan Adat Ungkap Sejarah Emas Indonesia Timur
Bacakan Artikel

Intens.id, Makassar – Di balik kedalaman Danau Matano yang sunyi di Sulawesi Selatan, tersimpan narasi besar tentang peradaban awal Nusantara yang sempat meredup dari catatan sejarah tertulis. Guna menjawab tantangan untuk merekonstruksi memori kolektif tersebut, Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) bersinergi dengan Yayasan Wawainia Rahampu'u Matano (YWRM) sukses menggelar Seminar Nasional Matano 2026 pada Senin (29/6/2026).

Bertajuk "Menemukan Kembali Matano: Jejak Peradaban Awal dan Jejaring Nusantara", seminar ini berlangsung di Lantai 1 Gedung LPPM Universitas Hasanuddin. Acara yang digelar sejak pukul 09.00 hingga 12.30 WITA ini berhasil memikat perhatian akademisi, peneliti, mahasiswa, hingga tokoh adat.

Kehadiran langsung Mokole Wawainia Rahampu'u Matano, Yang Mulia H. Umar Ranggo, turut menegaskan adanya komitmen kuat antara dunia akademik dan masyarakat adat dalam upaya merawat serta merevitalisasi memori kolektif bangsa yang berharga ini. Seminar ini menjadi ruang ilmiah krusial untuk mengkaji posisi strategis Matano dari berbagai disiplin ilmu, menyingkap lapis-lapis sejarah yang selama ini tersembunyi.

Komitmen Akademik dan Adat Mengangkat Sejarah Lokal

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi FIB Unhas, Dr. Wahyudin, S.S., M.Hum. Dalam pidato pembukanya yang penuh semangat, Dr. Wahyudin menegaskan bahwa perguruan tinggi mengemban tanggung jawab moral dan intelektual untuk meneliti serta mengangkat sejarah lokal yang kerap luput dari perhatian nasional.

"Sejarah lokal bukan hanya milik suatu daerah, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia secara keseluruhan. Matano, dengan segala kekayaan data sejarah, budaya, dan arkeologinya yang luar biasa, perlu terus dikaji melalui riset multidisiplin yang mendalam," ujar Wahyudin.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: