Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara

Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara
Seminar Nasional Matano 2026: Sinergi Akademisi dan Adat Ungkap Sejarah Emas Indonesia Timur
Bacakan Artikel

Tak hanya itu, dokumen rahasia Pemerintah Hindia Belanda, laporan ilmiah penjelajah legendaris Paul Sarasin (1896) dan E.C. Abendanon (1909–1910) yang menguak kekayaan alam Matano, berkas eksplorasi nikel era Mijnbouw Maatschappij Celebes (MMC), hingga draf kontrak karya awal PT INCO tahun 1968, turut dipamerkan.

"Tanpa arsip, sejarah hanya akan hidup sebagai cerita. Melalui digitalisasi ini, kami berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, akademisi, dan masyarakat memiliki fondasi ilmiah yang kokoh dalam upaya pelestarian budaya dan pengembangan daerah di masa depan," tegas Sharon, menekankan pentingnya data otentik.

Momentum Kebangkitan Historiografi Indonesia Timur

Seminar Nasional Matano 2026 ini membuktikan bahwa mengurai tabir masa lalu Matano yang kompleks membutuhkan kerja keroyokan antardisiplin ilmu—mulai dari filologi, arkeologi, antropologi, sejarah, hingga kearsipan. Setiap disiplin ilmu menyumbangkan potongan puzzle yang esensial, membentuk gambaran yang lebih lengkap dan komprehensif tentang peradaban yang pernah berjaya di sana.

Melalui ajang ini, sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset seperti BRIN (yang juga menghadirkan Abd. Karim, M.Hum. dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya), pemerintah daerah, dan masyarakat adat diharapkan dapat terus berlanjut dan diperkuat. Target besarnya jelas: menempatkan kembali Matano sebagai simpul utama yang tak terpisahkan dalam rekonstruksi historiografi dan jejaring perdagangan Nusantara di masa lampau, memberikan pemahaman baru tentang kekayaan dan keragaman peradaban Indonesia.

Pilih Halaman: