Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara

Menguak Tabir Danau Matano: Dari Kiblat Industri Besi Purba hingga Jejak Peradaban Awal Nusantara
Seminar Nasional Matano 2026: Sinergi Akademisi dan Adat Ungkap Sejarah Emas Indonesia Timur
Bacakan Artikel

Ia lebih lanjut menambahkan bahwa Universitas Hasanuddin berkomitmen penuh untuk terus membuka ruang kolaborasi penelitian multi-pihak. Tujuannya adalah agar kekayaan sejarah kawasan timur Indonesia dapat bersinar, tidak hanya di kancah nasional, tetapi juga di tingkat internasional, memberikan kontribusi signifikan bagi historiografi Nusantara. Apresiasi tinggi atas inisiatif ini juga datang dari Yang Mulia Mokole H. Umar Ranggo. Ia mengakui, selama bertahun-tahun, sejarah Matano lebih banyak bertumpu pada tradisi lisan yang, meskipun kaya, rentan terkikis oleh waktu dan perubahan generasi.

"Seminar ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai adat, sehingga sejarah yang diwariskan oleh leluhur dapat dipahami secara utuh dan kontekstual oleh generasi sekarang dan masa depan," tutur H. Umar Ranggo hangat, menyoroti pentingnya sinergi ini.

Menyelami Matano: Dari Industri Besi Purba hingga Arkeologi Bawah Air

Dipandu oleh Dr. Yadi Mulyadi, Kepala Departemen Arkeologi Unhas, sebagai moderator, sesi diskusi menghadirkan empat narasumber yang mengupas Matano dari berbagai sudut pandang ilmiah yang komprehensif. Masing-masing memaparkan temuan dan analisis yang saling melengkapi, membentuk gambaran utuh tentang peran sentral Matano di masa lampau.

Guru Besar Bidang Filologi Unhas, Prof. Muhlis Hadrawi, M.Hum., memaparkan materi bertajuk "Membaca Matano dari Perspektif Filologi dan Tradisi Lisan". Berdasarkan kajian teks-teks kuno dan tradisi tutur yang hidup di masyarakat, ia mengungkapkan bahwa Rahampu'u Matano merupakan pusat industri besi purba yang telah menggeliat aktif sejak awal Masehi.

Aktivitas metalurgi inilah yang diyakini menjadi motor penggerak ekonomi, perdagangan, dan politik yang kelak melahirkan Kerajaan Luwu yang berpengaruh. Besi Matano, yang dikenal memiliki kualitas tinggi, konon menjadi bahan baku utama senjata dan keris pusaka yang tersohor di seantero Nusantara, menjadi komoditas strategis yang diperdagangkan hingga ke berbagai penjuru. Selain itu, Prof. Muhlis juga membeberkan adanya kedekatan bahasa dan interaksi budaya yang intens akibat migrasi berabad-abad antara masyarakat Matano dengan suku Mekongga dan Tolaki, menunjukkan jejaring sosial yang luas pada masanya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: