Pengetahuan Adat Terancam Punah di Balik Upaya Pelestarian Alam

Pengetahuan Adat Terancam Punah di Balik Upaya Pelestarian Alam
Ketika Konservasi Hutan Mengancam Pengetahuan Hidup Berdampingan dengan Alam. (Foto: ist)
Bacakan Artikel
Arman Jaya

Artikel terbaru dari Arman Jaya (lihat semua)

Intens.id, Jakarta โ€“ Ketika pemerintah menetapkan sebuah kawasan sebagai taman nasional atau cagar alam, tujuannya jelas: mencegah kepunahan spesies dan melestarikan keanekaragaman hayati.

Namun, di balik niat mulia ini, tersimpan sebuah paradoks yang jarang terungkap. Masyarakat Adat yang selama ratusan, bahkan ribuan tahun, telah berhasil menjaga wilayah tersebut justru seringkali kehilangan akses terhadap tanah leluhur mereka, menyebabkan pengetahuan turun-temurun tentang cara hidup berdampingan dengan alam perlahan menghilang.

Fenomena ini dikenal sebagai krisis biokultural, sebuah ancaman yang menurut para ahli lebih rentan terjadi daripada kepunahan biodiversitas itu sendiri.

โ€œBahkan dalam bentuk konservasi pun, krisis biokultural bisa terjadi,โ€ ungkap Cindy Julianty, Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), menyoroti kompleksitas permasalahan ini dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis 25 Juni 2026.

Akses Terbatas, Pengetahuan Terputus

Kasus di Kelimutu, Nusa Tenggara Timur, menjadi contoh gamblang dari paradoks ini. Komunitas Adat Kelimutu telah menjaga wilayah mereka secara turun-temurun dengan kearifan lokal yang mendalam. Namun, ketika kawasan tersebut ditetapkan sebagai taman nasional atau kawasan konservasi, akses mereka terhadap jenis kayu endemik menjadi terbatas. Padahal, seperti yang dijelaskan Cindy,

โ€œhanya kayu-kayu tertentu yang bisa digunakan untuk membangun rumah adat mereka.โ€ Konsekuensinya, ketika akses terputus, generasi muda tidak lagi memiliki kesempatan untuk belajar cara memilih kayu yang tepat, memahami teknik membangun dengan metode tradisional, dan keseluruhan pengetahuan itu perlahan menghilang.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: