INTENS.ID—Di zaman sekarang, bicara soal cinta rasanya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Scroll media sosial sedikit, isinya hubungan romantis. Nonton film, temanya cinta. Bahkan kadang ukuran “bahagia” seseorang diukur dari punya pasangan atau tidak.
Padahal, cinta sendiri sebenarnya adalah fitrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan rasa cinta dalam hati manusia. Karena itu, mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang salah. Yang jadi masalah adalah ketika cinta membuat seseorang kehilangan arah, melupakan batas, bahkan menjauh dari Sang Pencipta.
Di era digital seperti sekarang, menjaga hati memang tidak mudah. Godaan datang dari mana saja. Chat tanpa batas, hubungan tanpa kejelasan, budaya pacaran bebas, sampai tren menunjukkan kemesraan di media sosial sering dianggap hal biasa. Akhirnya, banyak orang mengira bahwa semua yang mengatasnamakan cinta pasti benar.
Padahal Islam punya cara pandang yang sangat indah tentang cinta. Islam tidak melarang cinta, tetapi mengajarkan bagaimana cinta tetap suci dan tidak berubah menjadi jalan menuju dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
Terjemahnya: “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan menyebabkan terjadinya perzinaan.
Menariknya, ayat di atas tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang “mendekatinya”. Artinya, segala hal yang bisa menyeret seseorang ke arah tersebut juga perlu dijaga. Termasuk hubungan yang terlalu bebas tanpa batas syariat.
Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam dari Al-Haisam ibnu Malik At-Ta-i, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: “Tiada suatu dosa pun sesudah mempersekutukan Allah yang lebih besar di sisi Allah daripada nutfah (air mani) seorang lelaki yang diletakkannya di dalam rahim yang tidak halal baginya”.
Ketika Cinta Jadi Segalanya
Salah satu masalah yang sering terjadi di kalangan remaja sekarang adalah “cinta buta”. Seseorang bisa terlalu larut dalam perasaan sampai lupa diri. Rela mengorbankan prinsip, waktu, bahkan hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya demi mempertahankan seseorang.
Ada yang jadi malas ibadah karena sibuk memikirkan pasangan. Ada yang emosinya naik turun hanya karena chat tidak dibalas. Bahkan ada yang merasa hidupnya hancur ketika cintanya gagal.
Kenapa itu bisa terjadi?
Karena hati manusia memang butuh tempat bergantung. Kalau hati tidak dipenuhi cinta kepada-Nya, maka hati akan mudah menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada manusia. Padahal manusia bisa berubah, pergi, bahkan mengecewakan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa salah satu tanda manisnya iman adalah ketika seseorang lebih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dibanding apa pun yang lain.
Saat hati dekat dengan Sang Pencipta, seseorang tidak akan mudah diperbudak perasaan. Ia tetap bisa mencintai dengan sehat, tenang, dan sadar batas.
Media Sosial: Tempat yang Bisa Menjaga atau Menghancurkan Hati
Kalau dipikir-pikir, tantangan menjaga hati di zaman sekarang jauh lebih berat dibanding dulu. Dulu orang harus bertemu langsung. Sekarang cukup lewat layar.
Kadang awalnya cuma saling follow. Lalu jadi sering lihat story. Mulai chat. Muncul rasa nyaman. Lama-lama terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.
Belum lagi konten-konten yang membuat orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat pasangan romantis setiap hari bisa membuat seseorang merasa kesepian, buru-buru ingin punya hubungan, atau akhirnya mencari validasi lewat cinta.
Karena itu, menjaga pandangan di era digital menjadi sangat penting. Bukan hanya menjaga mata di dunia nyata, tetapi juga menjaga apa yang kita lihat di layar ponsel. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ
Terjemahnya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30).
Ayat di atas merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan bagi mereka. Maka janganlah mereka melihat kecuali kepada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat, dan hendaklah mereka menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan.
Jadi apabila pandangan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja, maka hendaklah dia memalingkan pandangan matanya dengan segera. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam hadis shahihnya dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba, lalu beliau memerintahkan kepadaku memalingkan pandanganku”.
Berdasarkan bahwa pandangan mata merupakan sumber bagi rusaknya hati, sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama Salaf, bahwa pandangan mata itu adalah panah beracun yang menembus hati. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjaga kemaluan, sebagaimana Dia memerintahkan untuk menjaga pandangan yang mengantarkan kepada hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir).
Menjaga pandangan bukan berarti anti cinta atau anti teknologi. Justru itu cara agar hati tetap bersih dan tidak mudah terseret hawa nafsu.
Jangan Kosongkan Hati dan Waktu
Sering kali cinta yang berlebihan muncul karena seseorang terlalu kosong. Kosong hati, kosong aktivitas, kosong tujuan hidup.
Makanya, salah satu cara terbaik menjaga diri adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar, membangun mimpi, membantu orang tua, ikut kajian, membaca, olahraga, atau mengembangkan skill bisa membuat hidup lebih sehat secara emosional.
Orang yang punya tujuan hidup biasanya tidak mudah tenggelam dalam hubungan yang merusak.
Islam Punya Solusi: Pernikahan
Islam adalah agama yang realistis. Islam memahami bahwa manusia punya rasa cinta. Karena itu, Islam memberikan jalan yang halal dan mulia, yaitu pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
Terjemahnya: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan bukan sekadar tentang romantis, tetapi tentang ibadah, tanggung jawab, dan membangun kehidupan bersama dengan cara yang diridai-Nya.
Cinta yang Membawa Dekat kepada Allah
Pada akhirnya, cinta yang baik bukan cinta yang membuat seseorang lalai ibadah, overthinking setiap malam, atau rela melanggar aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mempertahankan hubungan.
Cinta yang benar adalah cinta yang membuat seseorang menjadi lebih baik. Lebih dekat kepada-Nya. Lebih menjaga diri. Lebih menghargai kehormatan dirinya.
Karena cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang menjaga hati agar tetap berada di jalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridai.
Referensi:
Kajian Ustadz Nuzul Dzikri: Cinta Buta Vs Cinta yang Rasional.
Kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah: Mengundang Azab Allah Lewat Pacaran.





