"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM

"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM
Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad, S.Pd., M.Pd. dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. (Foto: Labs TP FIP UNM)
Bacakan Artikel
Muhammad Riszky

Seorang guru BK pada salah satu SMK di Makassar dan juga aktif menyuarakan isu lingkungan dengan bergabung dalam Sekretariat Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah mempublikasikan riset-riset pionir yang menggabungkan nilai budaya dengan kemajuan teknologi digital. Salah satu karyanya yang menonjol adalah penelitian mengenai "Critical Literacy-Based Digital Module for Elementary Students" (2025) yang dipublikasikan di Jurnal Edutech Undiksha, yang membedah bagaimana modul digital dapat menjadi sarana penguatan literasi kritis bagi siswa sejak dini.

Kepiawaiannya dalam memotret dinamika pendidikan di Indonesia juga diakui secara internasional. Melalui karyanya, "Immediacy of Teaching English at Elementary Schools in Indonesia" (2025) yang diterbitkan di Sage Journal, ia menyoroti urgensi dan tantangan pengajaran bahasa Inggris di jenjang dasar dalam konteks lokal.

Selain itu, ia melakukan tinjauan mendalam melalui "Differentiated Instruction In Reading In Elementary Schools: A Systematic Review", sebuah karya yang mengeksplorasi efektivitas pembelajaran terdiferensiasi dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Dengan publikasi yang konsisten di jurnal bereputasi, Prof. Widya membuktikan bahwa dari Makassar, ia mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang relevan bagi masa depan pendidikan global.

Manifesto untuk Masa Depan

Menjelang akhir orasinya, Prof. Widya memberikan pesan kuat bagi para pembuat kebijakan dan pendidik di seluruh Nusantara. Ia menegaskan bahwa investasi pada pembelajaran IPS yang transformatif sejak jenjang dasar adalah cara paling efektif untuk menangkal ancaman intoleransi, radikalisme, dan disintegrasi sosial.

"Sebab pada akhirnya, yang terbaik yang dapat kita tinggalkan di dunia ini bukanlah gelar yang terukir di papan nama, melainkan generasi yang tumbuh dengan hati yang baik, pikiran yang kritis, dan jiwa yang merdeka," tutupnya dengan senyum yang tulus.

Saat ia melangkah turun dari mimbar, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad telah mengingatkan kita semua bahwa pendidikan bukan sekadar mengisi wadah kosong dengan informasi, melainkan menyalakan api kesadaran di dalam jiwa setiap anak bangsa.

Di tangan para pendidik seperti dialah, masa depan Indonesia yang berkarakter, berbudaya, dan berwawasan global bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang sedang dibangun, selangkah demi selangkah, dari ruang-ruang kelas sekolah dasar.

Pilih Halaman: