"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM

"Yang Kita Tinggalkan Bukan Gelar, Melainkan Generasi", Pesan Prof. Widya dalam Orasi Pengukuhan Guru Besar di UNM
Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad, S.Pd., M.Pd. dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. (Foto: Labs TP FIP UNM)
Bacakan Artikel
Muhammad Riszky

Seorang guru BK pada salah satu SMK di Makassar dan juga aktif menyuarakan isu lingkungan dengan bergabung dalam Sekretariat Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia.

Prof. Widya (Foto: Labs TP FIP UNM)

Kompas Baru

Pedagogi Sosial Transformatif bukan sekadar metode mengajar baru, melainkan sebuah cara memandang anak didik sebagai subjek yang berdaya. Terinspirasi dari pemikiran kritis Paulo Freire hingga filosofi Ki Hajar Dewantara, Prof. Widya membangun sebuah kerangka yang ia sebut "Kurikulum Akar Ganda".

Ia menjelaskan bahwa PST bertumpu pada empat pilar utama yang saling berkelindan:

  1. Kesadaran Kritis Sosial: Anak-anak diajak bukan hanya mengetahui fakta, tapi mempertanyakan realitas di sekeliling mereka.
  2. Penguatan Identitas Kultural: Menjadikan nilai lokal seperti budaya Bugis, Batak, dan Makassar yang mengalir dalam darahnya sebagai jangkar di tengah badai globalisasi.
  3. Pembentukan Karakter Berbasis Nilai: Karakter tidak diajarkan melalui teks, melainkan dihidupi melalui pengalaman nyata di komunitas.
  4. Orientasi Global yang Reflektif: Membuka mata anak bangsa pada isu kemanusiaan universal tanpa harus kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia.

"Pendidikan yang sejati tidak pernah netral tapi ia selalu berpihak," tegas Prof. Widya, mengutip Freire. "Dan pilihan kita adalah apakah ia berpihak pada pembebasan atau pada penindasan, pada transformasi atau pada status quo".

Jejak 21 Tahun

Di balik ketajaman pemikirannya, ada perjalanan personal yang penuh liku. Lahir di Ujung Pandang pada 7 November 1973, Widya tumbuh dalam perpaduan budaya yang kaya, ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Batak-Makassar. Identitas ini yang membuatnya sangat mencintai keberagaman Indonesia.

Namun, pencapaian hari ini adalah hasil dari sebuah keteguhan hati yang luar biasa. Ia mengenang masa-masa sulit dalam perjalanan akademiknya dengan memegang teguh prinsip La Tahzan (jangan bersedih), sesungguhnya Allah bersama kita.

Suasana sidang senat sempat hening sejenak ketika Prof. Widya mengenang mendiang suaminya, Prof. Dr. H. Andi Qashas Rahman, M.Hum. Selama 26 tahun perjalanan cinta mereka, sang suami adalah pendukung utamanya yang dengan sabar menunggu Widya menyelesaikan studi S1 hingga S3.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: