Pelajaran dari Hutan Karaenta: Mengapa Pengunjung Tak Boleh Lagi Memberi Makan Monyet Dare'

Pelajaran dari Hutan Karaenta: Mengapa Pengunjung Tak Boleh Lagi Memberi Makan Monyet Dare'
Pelajaran dari Hutan Karaenta: Mengapa Pengunjung Tak Boleh Lagi Memberi Makan Monyet Dare'
Bacakan Artikel

Intens.id, - Di balik rimbunnya Hutan Karaenta, kawasan konservasi di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sebuah kalimat sederhana terus terngiang di benak Sri Mulyani T. "Jangan beri arah pada orang buta," kata mahasiswi magang Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar itu, merenungi perilaku manusia yang kerap mengabaikan aturan konservasi.

Bagi Sri, kalimat itu bukan tentang seseorang yang tak dapat melihat, melainkan sebuah metafora untuk manusia yang sudah tahu larangan, namun tetap memilih untuk mengabaikannya. Persoalan utama yang ia saksikan adalah kebiasaan pengunjung memberi makan monyet dare', satwa liar yang hidup bebas di sepanjang jalur Hutan Karaenta.

Padahal, larangan memberi makan satwa liar telah berulang kali disampaikan. Kampanye dan peringatan telah gencar dilakukan, bahkan teguran langsung seringkali diberikan kepada pengunjung yang kedapatan berinteraksi tidak semestinya. Namun, kebiasaan ini masih saja muncul, menjadi tantangan serius bagi upaya pelestarian.

Mahasiswi asal Pinrang, kelahiran 2005 ini, menjelaskan bahwa masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar sepotong makanan yang diberikan. Dampaknya berjangka panjang. Ketika monyet dare' terbiasa menerima makanan dari manusia, perilaku alami mereka perlahan berubah. Satwa liar tersebut dapat kehilangan kewaspadaan, mulai mendekati kendaraan dan manusia tanpa rasa takut, bahkan menganggap kehadiran manusia sebagai sumber makanan.

"Kalau kita terus memberi makan, monyet dare' akan belajar bahwa manusia adalah tempat mendapatkan makanan," ujar Sri, menggambarkan keresahannya terhadap perubahan perilaku satwa yang seharusnya mandiri.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2