Pelajaran dari Hutan Karaenta: Mengapa Pengunjung Tak Boleh Lagi Memberi Makan Monyet Dare'

Pelajaran dari Hutan Karaenta: Mengapa Pengunjung Tak Boleh Lagi Memberi Makan Monyet Dare'
Pelajaran dari Hutan Karaenta: Mengapa Pengunjung Tak Boleh Lagi Memberi Makan Monyet Dare'
Bacakan Artikel

Keresahan Sri Mulyani tak hanya ia sampaikan melalui kata-kata. Pada 13 Agustus 2026, ia bersama empat mahasiswa magang lainnya turun langsung ke Hutan Karaenta. Didampingi Aswadi Hamid dari Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, mereka melakukan praktik monitoring sekaligus memberikan edukasi kepada pengguna jalan yang berhenti di kawasan tersebut.

Hari itu, setidaknya empat mobil yang singgah di Hutan Karaenta ditegur secara langsung karena berpotensi melakukan interaksi yang tidak semestinya dengan monyet dare'. Sri menegaskan, tujuan menegur bukanlah untuk memusuhi, melainkan mengajak pengunjung memahami bahwa hutan memiliki aturannya sendiri. Monyet dare' memiliki ruang hidup yang harus dihormati, dan manusia seharusnya hadir sebagai tamu, bukan sebagai pemberi makan.

"Kalau sudah tahu jangan diberi makan, tetapi masih dilakukan, berarti bukan informasinya yang kurang. Mungkin kesadarannya yang perlu terus dibangun," pesan Sri, merefleksikan pengalamannya di lapangan.

Pengalaman di Hutan Karaenta mengajarkan sebuah pelajaran sederhana: tidak semua bentuk kasih sayang kepada satwa harus diwujudkan dengan memberi makan. Terkadang, bentuk kepedulian terbaik justru dengan tidak menyentuh, tidak memanggil, tidak memberi makanan, dan membiarkan mereka tetap liar sesuai fitrahnya. Sebab, satwa liar tidak membutuhkan manusia untuk menjadi jinak. Mereka membutuhkan manusia untuk menghormati kehidupan liarnya.

Dari perjalanan tersebut, Sri Mulyani membawa pulang pesan inti yang ia bagikan: "Jangan beri arah pada orang buta." Jangan membiasakan satwa liar mengikuti arah manusia hanya karena makanan. Biarkan mereka menemukan arah hidupnya sendiri di dalam hutan, sebagai satwa liar. Karena ketika manusia berhenti memberi makan, mungkin di situlah kita mulai benar-benar belajar menghargai alam secara utuh.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2