Ketika Padi Lokal Pergi, Ritual dan Cara Memandang Alam Ikut Bergeser

Ketika Padi Lokal Pergi, Ritual dan Cara Memandang Alam Ikut Bergeser
Ketika Padi Lokal Pergi, Ritual dan Cara Memandang Alam Ikut Bergeser. (Foto: Pexels.com)
Bacakan Artikel

Intens.id, Jakarta - Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, padi mungkin hanyalah komoditas pangan atau sumber penghasilan semata. Namun, di berbagai komunitas adat di Indonesia, butiran nasi yang mengenyangkan ini memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam. Padi, dalam konteks masyarakat adat, adalah jalinan yang tak terpisahkan dari nama, bahasa, ritual, pengetahuan, serta cara mereka menjaga hubungan harmonis dengan alam.

Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), Cindy Julianty, mengungkapkan bahwa banyak komunitas adat di Nusantara menyimpan kekayaan luar biasa berupa beragam varietas padi lokal. Setiap jenis padi tersebut bukan sekadar tanaman, melainkan entitas yang memiliki nama lokal, fungsi spesifik, dan posisi tersendiri dalam kehidupan masyarakat.

“Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Ada yang untuk konsumsi sehari-hari, ada yang digunakan untuk kebutuhan ritual tertentu. Ada pula jenis padi lokal yang tidak bisa digantikan, karena fungsinya bukan hanya ekonomi, tetapi juga spiritual dan ekologis,” ujar Cindy menegaskan.

Menurut Cindy, hilangnya satu varietas padi lokal tidak dapat dipandang hanya sebagai lenyapnya satu jenis tanaman dari muka bumi. Di banyak komunitas adat, padi lokal merupakan bagian integral dari sistem pengetahuan yang kompleks, yang secara turun-temurun menghubungkan manusia dengan tanah, air, musim, leluhur, serta tata cara hidup yang selaras dengan alam semesta. Keterikatan ini membentuk fondasi identitas dan keberlanjutan budaya mereka.

“Ketika padi lokal hilang, ritual yang terkait dengannya juga ikut hilang. Ketika ritual hilang, cara masyarakat melihat sumber daya alam ikut berubah. Padi kemudian dipandang hanya sebagai komoditas untuk dijual. Pada titik itu, hubungan antara manusia dan alam juga ikut melemah,” jelas Cindy, menggarisbawahi dampak domino yang terjadi. Pergeseran pandangan ini berpotensi mereduksi alam dari entitas yang dihormati menjadi sekadar objek eksploitasi.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: