Ibu di Ponorogo Meninggal di Atas Motor, Siapa yang Bertanggung Jawab dan Bagaimana Anak-Anaknya?

Oleh: Rika Arlianti DM

Ibu di Ponorogo Meninggal di Atas Motor, Siapa yang Bertanggung Jawab dan Bagaimana Anak-Anaknya?
Bacakan Artikel
Rika Arlianti DM

Penulis, Pegiat Isu Pendidikan dan Anak

Terjemahnya: "Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS.ย Al Maaโ€™uun: 2-3).

Mengutip Rumaysho.com, dalam dua ayat di atas digabungkan dua hal:

1. Tidak punya kasih sayang pada anak yatim. Padahal mereka itu orang yang patut dikasihi. Perlu diketahui, yatim adalah yang ditinggal mati orang tuanya sebelum ia balighย (dewasa). Dialah yang patut dikasihi karena mereka tidak lagi memiliki orang tua yang mengasihinya. Akan tetapi yang disebutkan dalam ayat ini adalah orang yang menghardik anak yatim. Yaitu ketika yatim tersebut datang, mereka menolaknya dengan sekeras-kerasnya atau meremehkannya.

2. Tidak mendorong untuk mengasihi yang lain, di antaranya fakir miskin. Padahal fakir dan miskin sangat butuh pada makanan. Orang yang disebutkan dalam ayat ini tidak mendorong untuk memberikan makan pada orang miskin karena hatinya memang telah keras. Jadi intinya, orang yang disebutkan dalam dua ayat di atas, hatinya benar-benar keras.

Pesan ini menegaskan bahwa kepedulian tidak cukup diucapkan, ia harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Prinsip tersebut berlaku bagi individu maupun penyelenggara negara. Masyarakat dapat mengulurkan tangan, tetapi pemenuhan hak dasar tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada kemurahan hati warga. Negara memiliki kewajiban yang harus dijalankan, bukan sekadar niat baik yang diumumkan.

Kematian Luโ€™luatun tidak boleh dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan yang belum terbukti. Namun, nasib anak-anak yang ditinggalkannya harus menjadi perhatian yang lebih panjang daripada siklus pemberitaan. Mereka membutuhkan perlindungan yang nyata, bukan sekadar simpati yang datang ketika kisah mereka menyentuh hati publik.

Singkatnya, ukuran kepedulian tidak terletak pada seberapa sedih kita membaca sebuah berita, melainkan pada apa yang berubah setelahnya. Apakah sistem perlindungan diperbaiki? Apakah keluarga rentan lebih mudah menjangkau layanan? Apakah anak-anak yang kehilangan orang tua mendapatkan kepastian masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab melalui tindakan dan hasil yang dapat diperiksa.

Negara tidak boleh hanya hadir untuk berbelasungkawa setelah tragedi. Negara harus hadir melalui perlindungan yang bekerja, bantuan yang tepat sasaran, dan tanggung jawab yang terus berjalan ketika perhatian publik telah pergi. Wallahu a'lam bisshawab.

Pilih Halaman: