Hutan Merdeka VII, Suara Difabel dan Hak Kelola Masyarakat Mengemuka

Hutan Merdeka VII, Suara Difabel dan Hak Kelola Masyarakat Mengemuka
Pakarena Pepe di pembukaan kegiatan Hutan Merdeka VII 2026 di Lantebung Makassar. Foto: Ist
Bacakan Artikel

Pengalaman di Lantebung, lanjut Nirwan, menunjukkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kawasan, upaya rehabilitasi bisa lebih berkelanjutan. Yang penting bukan hanya menambah luasan mangrove, tetapi memastikan ada tata kelola yang jelas, keterlibatan masyarakat, dan perlindungan ruang mangrove dalam pembangunan Kota Makassar.

Kegiatan yang diikuti puluhan komunitas dan ratusan peserta ini menjadi ruang untuk membangun kebersamaan. Kemah dan permainan menciptakan suasana akrab, sementara Panggung Merdeka memberi kesempatan anak muda mengekspresikan ide dan kepedulian terhadap lingkungan. Aksi bersih mengajak semua orang tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga kebersihan kawasan yang sudah ada.

Di tengah berbagai janji dan wacana global tentang lingkungan, Hutan Merdeka VII memilih jalan sederhana, datang, tanam, dan rawat. Akar mangrove yang kuat akan menahan ombak, daun yang rimbun akan menyejukkan iklim. Tangan-tangan muda yang menanam hari ini turut menentukan apakah napas bumi masih akan tersedia untuk generasi mendatang.

Pilih Halaman: