Guru Besar Teknik Kimia Unifa Prof Ismail Dianugerahi Satyalancana Karya Satya di Hardiknas 2026

Intens.id, Makassar – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi catatan sejarah bagi dunia akademik Sulawesi Selatan. Guru Besar Universitas Fajar (Unifa) Makassar, Prof. Dr. Ir. H. Ismail Marzuki, S.Si., M.Si., resmi dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya atas dedikasi dan loyalitasnya sebagai abdi negara selama lebih dari 20 tahun.

Penyematan penghargaan tersebut berlangsung khidmat dalam upacara bendera di halaman Kantor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX, Jalan Bung, Tamalanrea, Makassar, Sabtu (2/5/2026) pagi.

Upacara tampil unik dengan para peserta yang mengenakan busana adat, simbol perpaduan kearifan lokal dan kemajuan intelektual.

Penghargaan Satyalancana Karya Satya merupakan supremasi kehormatan dari Presiden Republik Indonesia yang diberikan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan masa bakti tertentu. Dosen Teknik Kimia Unifa tersebut menempati nomor urut 28 dari 164 penerima, yang dinilai telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, serta kecakapan tanpa cacat moral maupun administratif selama dua dekade.

Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Andi Lukman, menegaskan bahwa penganugerahan ini adalah bentuk apresiasi negara terhadap kontribusi nyata di sektor pendidikan.

“Ini adalah bentuk penghargaan negara atas jasa-jasa yang mungkin selama ini tidak terlihat di permukaan, namun dampaknya sangat besar bagi masa depan anak bangsa,” ujar Andi Lukman dikutip dalam keterangan tertulis. Ia berharap prestasi ini memicu semangat inovasi bagi seluruh dosen dan tenaga kependidikan di Sulawesi Selatan.

Di lingkungan Universitas Fajar, Prof. Ismail dikenal sebagai figur strategis yang menjabat sebagai Deputi Rektor I Bidang Akademik dan Kerjasama. Ia menjadi motor penggerak implementasi kurikulum Outcome Based Education (OBE), sebuah sistem yang menjamin lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi konkret yang relevan dengan kebutuhan industri global.

Reputasi Prof. Ismail Marzuki sebagai ilmuwan di panggung internasional terpancar kuat melalui kedalaman risetnya yang berfokus pada harmoni antara sains dan kelestarian alam dalam bidang Green Chemistry serta Environmental Chemistry.

Dalam narasi risetnya, ia tidak sekadar memaparkan teori, melainkan menghadirkan solusi konkret melalui pengembangan metode biodegradasi alamiah sebagai cara bersih dan organik dalam menanggulangi limbah.

Ketajaman analisisnya juga menyentuh aspek tata kota melalui pemodelan polutan yang presisi, di mana ia memanfaatkan metode Gaussian Plume untuk memetakan sebaran pencemaran di wilayah Makassar secara akurat.

Lebih jauh lagi, dedikasinya terhadap eksplorasi maritim membawa perspektif inovatif dari kedalaman laut Sulawesi Selatan, ia secara tekun menyingkap potensi spons laut di Kepulauan Spermonde sebagai agen penyerap polutan alami, sebuah terobosan yang memadukan kekayaan hayati lokal dengan visi pemulihan kualitas lingkungan secara berkelanjutan.

Penelusuran Data digital menunjukkan produktivitas Prof. Ismail yang luar biasa di kancah sains dunia. Hingga saat ini, karya ilmiahnya telah dikutip lebih dari 3.082 kali di platform Google Scholar.

Rekam jejak literaturnya mencakup koleksi masif sebanyak 48 judul buku, termasuk modul Kimia Analisis dan Instrumentasi yang menjadi rujukan praktis mahasiswa. Di level publikasi jurnal, ia telah melahirkan 38 artikel ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus serta 14 artikel yang menembus indeks Web of Science (WoS).

Penganugerahan Satyalancana Karya Satya ini menjadi penegas bahwa perjalanan 20 tahun Prof. Ismail Marzuki adalah sebuah maraton intelektual yang konsisten dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa.

- Advertisment -spot_img
Berita Terakait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Topik Populer

Komentar Terbaru